
Selesai dengan makan petangnya, Zhi merasa badannya sangat gerah dan lengket. Keringat mulai membanjiri di setiap wajah serta tubuhnya. Beberapa menit kemudian dia bertanya pada Calvin, hingga pertanyaan tersebut mampu membuat Calvin kesal dan terpancing emosi.
Calvin tengah rebahan di ruang santai, fokusnya hanya ke ponsel. Dia terus membalas pesan yang masuk sejak tadi, masalah pekerjaan tiada habisnya dan dia terus melayaninya. Padahal, hari ini hari minggu, tetapi dia sulit untuk menghindari hal yang membuatnya pusing.
“Calvin, aku mau mandi dong!” ucap Zhi seraya menjatuhkan tubuhnya ke sofa dekat Calvin.
“Mandilah! Kenapa harus izin?” jawab Calvin dengan balik bertanya pada Zhi, matanya masih tak berpaling dari layar benda pipih itu.
“Calvin!” teriak Zhi, kali ini dia menepuk sedikit keras kaki Calvin yang berselonjor di dekatnya.
“Apa, Zhi?” Calvin langsung duduk dan menarik napas panjang, menahan kesabaran karena suara Zhi yang menggema di seluruh ruangan.
“Ayoklah! Antar aku, ke mana aku harus mandi. Dari tadi kamu sibuk memainkan benda kecil itu sampai-sampai kau mengabaikanku,” gerutu Zhi. Dia memonyongkan bibirnya seperti bocah.
“Zhi, jangan seperti balita. Mandi tinggal pergi ke kamar mandi kenapa harus terus bertanya dan menggangguku? Apa perlu juga aku memandikanmu?” Calvin berkata dengan ekspresi kesalnya.
"Boleh, mandikan aku, yuk!" Zhi menatap dengan tatapan nakalnya. Dia memang begitu suka menggoda Calvin yang tengah marah.
__ADS_1
"Zhi!" bentak Calvin. Dia melirik, kali ini lebih tajam dari sebelumnya.
"Calvin, apa kau tahu. Kamu terlihat sangat tampan jika sedang marah." Zhi mengelus pundak Calvin dengan lembut.
"Zhi, jangan terus menggodaku. Percuma, aku tidak akan tergoda dengan rayuanmu itu. Sebaiknya kau cepat mandi, jangan terus menguji kesabaranku." Calvin beranjak dari sofa panjang itu. Dia mengayunkan langkahnya keluar dari ruang santai.
Zhi menarik tangan Calvin dan berkata, "Calvin, mau ke mana? Antar aku dulu ke mana aku harus mandi. Kalau aku bisa gunakan kekuatanku, mungkin aku tidak akan bertanya padamu," gerutu Zhi. Dia mulai ikut kesal dengan sikap Calvin yang sedikit cuek.
Calvin terdiam sejenak, dia berpikir telah salah sangka pada Zhi. Padahal Zhi hanya niat bertanya karena dia tidak tahu. Meskipun Zhi serba tahu, tetapi semenjak Calvin melarangnya menggunakan kekuatan itu, dia mencoba dan terus berusaha agar tidak melanggar kesepakatan di antara keduanya.
"Ah, maaf. Aku lupa memberitahumu," jawab Calvin, sudut bibirnya tertarik ke atas, dia tersenyum pada Zhi karena dia merasa bersalah karena sejak tadi dia memarahinya.
________
Satu jam, dua jam, Zhi masih berada dalam kamar mandi dan tak kunjung keluar. Calvin mulai khawatir, padahal dia sudah selesai mandi dan sudah rapi. Lelaki itu terlalu menunggu lama. Sejak tadi, dia terus mondar-mandir di depan kamar Zhi dan mengetuknya berulang-ulang, tetapi nihil, sama sekali tak ada jawaban.
Akhirnya lelaki itu memilih untuk membuka pintu kamar yang ternyata tidak terkunci, alangkah terkejutnya saat Calvin tidak mendapati Zhi di dalam kamarnya. Sejenak, di menatap pintu kamar mandi itu, perlahan kakinya melangkah mendekat. Calvin mencoba berteriak dan terus menggedor pintu.
__ADS_1
"Zhi! Buka pintunya!" teriak Calvin dari depan pintu kamar mandi.
"Zhi! Apa kamu masih di dalam?" Calvin berseru, suaranya makin meninggi saat dia menempelkan telingannya tepat di daun pintu itu, dan tak ada suara gemercik air, serta suara sahutan dari dalam.
Dalam benak Calvin, dia berpikir terjadi sesuatu pada Zhi. Dia khawatir jika Zhi akan menghilang dan pergi dari kehidupannya. Lelaki itu belum siap, apalagi dia mulai nyaman dengan meberadaan Zhi.
Masih tak ada jawaban, Calvin mencoba membuka handle pintu perlahan. Tak dikunci juga. Calvin menggelengkan kepalanya, dia sedikit heran dengan Zhi yang terlalu ceroboh. Bahkan, mandi pun dia tak mengunci pintunya.
"Zhi!" panggil Calvin, kakinya seakan berat melangkah, dia merasa sangat lancang saat memasuki kamar mandi yang di dalamnya ada seorang wanita.
"Astaga! Zhi!" teriak Calvin begitu mendapati Zhi tak sadarkan diri di bath up. Calvin segera berlari dan meraih handuk untuk menutup tubuh Zhi. Namun, sebelumnya memegang kepala Zhi yang bersandar pada pinggir bak mandi. Kedua tangan Calvin menangkup wajah Zhi dengan tatapan penuh kekhawatiran.
.
.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya ya, terima kasih.