
Mereka pun tertidur pulas dalam satu ranjang dan satu selimut yang sama, saling berpelukan menautkan rasa cinta yang mulai tumbuh diantara keduanya. Obrolan panjang ternyata cukup melelahkan, di mana mereka saling bertukar cerita dari hati ke hati. Entah seberapa besar perasaan rasa cinta keduanya saat ini, yang jelas, rasa itu mampu membuat ikatan yang begitu dalam.
Malam hari, angin begitu kencang menerpa rumah Calvin, memporak-porandakan apa pun yang ada di dalamnya. Zhi yang tengah tertidur pulas, tiba-tiba terbangun karena merasakan dadanya begitu sesak, bahkan hampir sulit untuk bernapas. Pandangannya kabur, dia tahu saat ini sedang ada kekuatan sihir yang begitu kuat menyerangnya.
Calvin pun mulai mengerjapkan matanya saat dirinya merasa Zhi sedang terusik. Pelukan yang tadi erat, kini dilepas paksa oleh zhi. Calvin terkejut melihat kondisi Zhi yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja.
"Ada apa, ini?" gumam Calvin seraya melihat benda-benda di kamarnya mulai beterbangan. Ia lalu melihat ke arah Zhi, wanita itu tampak kesakitan dan tubuhnya mengang. Napasnya seolah tertahan dalam dada.
“Zhi, apa yang terjadi? Bangunlah, jangan membuatku khawatir," ucap Calvin seraya menyentuh lembut pipi Zhi berusaha untuk menyadarkan wanita itu. Tak ada jawaban, Calvin langsung mendudukkan tubuh Zhi dan memeluknya sangat erat. Ada semburat kesedihan dan kekhawatiran di sana.
__ADS_1
"Zhi, aku mohon, bangunlah! Jangan seperti ini." Wajah Calvin tampak sayu ketika memperhatikan Zhi saat berada di pelukannya.
Angin kencang itu tiba-tiba berhenti. Perlahan, Zhi mencoba melawan kekuatan sihir tersebut. Dia membuka matanya, berusaha menerima cahaya lampu yang menyorotnya. Zhi segera berdiri tanpa sepatah kata pun. Tubuhnya yang tadi lemas, kini berusaha untuk bangkit dan turun dari ranjang.
Calvin hanya terdiam, ia masih bingung dengan kejadian yang dilihatnya. Apalagi dengan sikap Zhi yang aneh. Bahkan, kalimat Calvin pun tidak sama sekali di responsnya.
Zhivanna lalu menggenggam liontin di lehernya. Dia memejamkan mata, men-transfer kekuatan yang yang ada di dalam kalung tersebut ke dalam tubuhnya. Sesaat kemudian dia mulai melayang, terbang melewati jendela kamar secepat kilat. Calvin tercengang melihat Zhi pergi dengan cara yang tidak biasa dan meninggalkan dirinya begitu saja.
Di bukit luas yang terletak di sebelah lapangan golf, Zhi bertarung dengan Erdo menggunakan kekuatan sihirnya. Lelaki bertubuh besar dan berwajah bengis itu seperti menarik Zhi tanpa menyentuh. Seketika Erdo langsung mengikat tubuh Zhi dengan sihirnya, ia lalu memeluknya dari belakang.
__ADS_1
“Kembalilah, ikutlah bersamaku!” Erdo berbisik tepat di telinga Zhi.
"Itu tidak ada akan pernah terjadi!"
"Jika tidak, aku bisa memaksamu, wahai Wanitaku." Erdo melengkungkan bibir kanannya, seringai itu mampu membuat Zhi merasa jijik.
“Jangan mengusikku! Pergilah!” tukas Zhi sambil berusaha melepas kekuatan sihir Erdo. Tubuhnya menggeliat, seolah ada tali kuat yang tengah mengikatnya.
“Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kamu ikut denganku!" Erdo mengancam. Lelaki bertubuh besar dengan pakaian serba hitam itu tampak sangat menakutkan.
__ADS_1
Sosok Zhi yang begitu cantik sempurna di mata Erdo, membuat lelaki itu terobsesi dengannya. Tak peduli seberapa besar Zhi membencinya. Namun, dia tetap menginginkannya.
“Cih! Jangan harap!” Zhi meludah ke samping, betapa jijik dan bencinya ia pada Erdo. Lelaki yang selama ini ingin memilikinya secara paksa dan menjadikannya istri, sekaligus budak pemuas napsu.