Wanita Dalam Liontin

Wanita Dalam Liontin
Kerinduan Mendalam


__ADS_3

Cinta tak pernah meminta untuk menanti, ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian atau pengorbanan. Tak peduli jika seseorang harus mengalami banyak rintangan dan risiko tertentu dalam menjalin kasih. Namun, Zhi sudah mempunyai tekad yang bulat untuk memperjuangkan cintanya.


Kehilangan seseorang kali ini begitu berat untuk Calvin, dia harus menjalani harinya dengan kesunyian dan kesendirian, tak.ada lagi tawa yang terukir di bibirnya. Mata yang sayu itu seolah menggambarkan kesedihan mendalam.


Calvin kini tengah merebahkan tubuhnya di ranjang setelah mandi malamnya. "Zhi, apa kau merindukanku? Kapan kau akan kembali ke pelukanku? Mengingatmu adalah sesuatu yang menyakitkan, aku pikir aku bisa mengatasi berpisah darimu, tapi ternyata rindu ini begitu menyiksa."


Calvin kemudian beranjak bangun dan melangkahkan kakinya ke luar balkon kamar. Dia menatap bukit di dekat halaman rumanya. Ada bayangan Zhi di sana, mengingat dirinya yang sudah gagal menolong Zhi dari serangan makhluk terkutuk malam itu--Erdo.

__ADS_1


Semilir angin malam begitu kuat menyapa wajah Calvin. Seketika dia teringat akan angin lautan yang sudah lama tidak ia kunjungi, membuatnya semakin menginginkan pertemuannya dengan Zhi di pantai itu.


Calvin memutar ingatannya pada saat pertama kali dia di pantai, di mana tanpa disadari dia menggenggam liontin batu opal milik Zhi dan menjadi awal pertemuan mereka setelah Calvin tersadar dari tidurnya.


Tak menunggu lama, hal itu membuat Calvin ingin segera menuju pantai, dia sangat berharap kali ini akan menjadi pertemuan yang kedua kalinya setelah mereka lama terpisah.


Tiga puluh menit kemudian, Calvin sampai di pantai. Perlahan, kaki jenjangnya melangkah menyusuri pantai, dia mengenang semua yang pernah dilewatinya dengan Zhi di sana. Beberapa kali mereka memang sering menghabiskan waktu di pantai tersebut, saat di mana Calvin menutup portal dan juga saat Zhi diculik Celia untuk membuka paksa portal bawah laut tersebut.

__ADS_1


"Zhivanna!" teriak Calvin dengan suara lantang yang menggema di pantai tak berpenghuni tersebut. Dia hanya seorang diri, menatap hamparann pasir yang terbentang luas. Deburan ombak yang bergemuruh menerjang batu karang semakin menambah kesedihan Calvin karena ketika itu, Zhi pernah memeluknya di balik batu karang tersebut.


Mungkin, asa hanya tinggal kenangan. Setelah berbulan-bulan lamanya, keyakinan dalam logikannya mulai perlahan goyah, di mana Calvin terus berharap agar Zhi kembali dalam pelukannnya. Namun, hatinya enggan menyerah dan menolak untuk melupa.


Penampilan lelaki itu kini menjadi menyedihkan, tampak tak terawat dan seakan tak ada gairah hidup. Akan tetapi, dia masih mempunyai akal sehat untuk tidak membunuh dirinya sendiri.


Calvin meluruhkan tubuhnya ke pasir dengan putus asa, menatap jauh ke lautan yang hanya bercahayakan bulan. "Jika, memang kamu ada di sana, keluarlah untukku, Zhi. Sampai kapan kau akan membiarkanku tersiksa seperti ini, sampai kapan kau akan terus bersembunyi dan menghindariku? Aku sudah seperti orang gila sekarang, buat apa kau hadir jika hanya untuk pergi. Untuk apa kamu mengajarkan rasa, jika setelah itu kau membuangnya? Entah sampai kapan kamu akan seperti ini, yang jelas aku tidak akan mungkin bisa membuka hatiku lagi untuk wanita lain, aku mau kamu yang terakhir, Zhi. Aku akan tetap menunggumu pulang, dan kekosongan ini pasti akan berakhir."

__ADS_1


Calvin terus berbicara seorang diri. Selendang yang mengalung di lehernya sesekali dicium dan dipeluknya, aroma wangi Zhi masih begitu melekat di kain putih tersebut. Hanya itu yang bisa Calvin lakukan untuk melepas rindunya terhadap Zhi untuk saat ini.


__ADS_2