Wanita Dalam Liontin

Wanita Dalam Liontin
Ikut Ke Kantor


__ADS_3

“Calvin, bagaimana? Apa aku pantas memakainya?” tanya Zhi begitu dia membalikkan badannya ke arah pintu kamar, di mana sebelumnya Calvin berdiri di sana.


Calvin pun segera menampakkan dirinya dari balik dinding tempat dia bersembunyi, agar tidak melihat pemandangan yang akan menggoda imannya. Dia lekas memperhatikan Zhi yang sudah berganti pakaian. Mata lelaki itu tampak serius memandangi Zhi. Sepertinya Calvin akan terus terpesona setiap kali wanita itu memakai baju yang berbeda setiap harinya. Zhivanna sungguh mempunyai pesona yang luar biasa.


“Cantik,” katanya lirih, “pakai itu saja!”


“Apa, Vin? Kamu memujiku ‘cantik’?” tanya Zhi memastikana dia tak salah dengar dan mulai membanggakan dirinya.


“Mungkin telingamu ada masalah, aku tidak bilang cantik tadi. Aku hanya  bilang, 'pakai itu saja', cocok,” dalih Calvin. Dia mencoba berkelit menutupi rasa malunya karena telah memuji Zhivanna. Calvin seperti tidak mau harga dirinya jatuh di tangan Zhi yang selalu berhasil membuatnya mati kutu.


“Sudah cepat, nanti telat!” Calvin mengalihkan pembicaraan agar Zhi tak terus menggodanya.


“Calvin, apa aku harus memoleskan mekap di wajahku?”


“Terserah kamu, Zhi, aku tunggu di bawah, kamu jangan terlalu lama!” Calvin melangkahkan kakinya, menuruni tangga lalu menunggu Zhi di ruang tamu sambil memainkan ponselnya.


Satu menit kemudian, Zhi terlihat menghampiri Calvin. Wanita itu mengurai rambutnya, dengan riasan tipis di wajahnya. Dia hanya menggunakan lipstik serta bedak. Meskipun tidak terlalu tebal, riasan itu mampu menyulap wajah Zhi menjadi lebih cantik dan fresh. Padahal tanpa riasan pun dia sudah sangat cantik dan mempunyai daya tarik.


Zhi berjalan dengan anggunnya menggunakan sepatu hak tinggi, ayunan langkahnya semakin indah tatkala dia berjalan di depan Calvin. Dia memeragakan jalannya ala model, tangannya tak henti menyisir rambut panjang itu dengan jari lentiknya.


“Calvin, bagaimana penampilanku?”


“Sudah oke. Sekarang kita berangkat," jawab Calvin singkat.


“Cuma 'oke' doang? Nggak ada cantiknya?” tanya Zhi lagi.

__ADS_1


“Lalu aku harus bilang apa, Zhi? Apa kamu menginginkan pujian dariku?” Calvn berdiri dari tempat duduknya, tangannya meraih kunci mobil dan tas yang ada di meja depannya.


Calvin tersadar akan sesuatu, dia melihat lagi penampilan Zhi seperti ada yang kurang, retina Calvin mengabsen Zhivanna dari atas sampai bawah.


"Zhi, mana tas yang kita beli kemaren? Kenapa tidak dipakai?" tanya Calvin. Sesempurna apa pun penampilan wanita, jika dia tidak membawa tas memang akan terlihat aneh. Benda itu sangat berperan penting di kehidupan wanita masa sekarang.


"Mana kutahu, Vin. Kan, kamu yang merapikannya," timpal Zhi saat mendengar kalimat Calvin.


"Ah, baiklah aku akan mengambilnya. Merepotkan sekali," gerutu Calvin seraya berjalan melewati Zhi dan mengambil tas di kamar Zhi.


_____


Calvin menuju mobilnya, dia berjalan tepat di belakang Zhi. Sebenarnya Calvin begitu terpana saat melihatnya dengan pakaian formal tersebut, Zhi memakai rok pendek berwarna abu-abu, dengan atasan yang dibalut dengan blazer warna senada. Lelaki itu berusaha menyembunyikan rasa kagumnya terhadap Zhi, karena dia malas jika mendengar Zhi yang selalu percaya diri berlebihan memuji dirinya sendiri.


Mobil yang dikemudikan oleh Calvin membelah jalanan yang padat pagi itu. Bangunan-bangunan yang berdiri kokoh mulai ramai dengan orang-orang di dalamnya. Banyak penduduk bumi yang selalu memulai kegiatan paginya dengan mencari rezeki demi sesuap gengsi. Maaf bercanda.


Pagi ini memang sangat berbeda, Calvin yang biasanya datang seorang diri ke kantor, kali ini dia ditemani oleh seorang perempuan cantik yang berjalan di sampingnya. Namun, Calvin hanya berjalan berdampingan dengan Zhi tanpa ada tangan yang saling bergandengan.


Semua pasang mata karyawan terpusat pada sang CEO dan perempuan di sebelahnya. Mereka menyambut kedatangan Calvin dengan greeting, membungkuk sedikit sebagai tanda penghormatannya.


Zhi hanya mengikuti langkah ke mana Calvin berjalan. Semua mata tertuju pada mereka. Sesaat, keduanya menjadi pusat perhatian karena sebelumnya banyak yang sudah tahu jika Calvin mempunyai tunangan yang bernama Gracella. Akan tetapi, sekarang malah Calvin membawa wanita lain.


“Calvin!” panggil Zhi, suaranya sedikit berbisik.


“Apa?” Calvin menoleh ke arah Zhi yang berjalan di sebelah kirinya. Wanita itu tampak asing begitu memasuki bangunan besar tersebut, dia sedikit menundukkan wajahnya. Rupanya dia mulai mempunyai rasa malu saat semua orang memperhatikannya.

__ADS_1


“Apa kamu menyadari, semua orang melihat kita, Vin? Apa kamu tidak malu? Aku berpikir mereka sedang membicarakan kita sekarang.”


“Apa yang membuatmu malu?” Calvin balik bertanya, pandangannya terus ke depan, langkahnya tegas, sesuai dengan tubuhnya yang gagah.


"Aku hanya berpikir, mereka pasti membicarakan kita sekarang," tutur Zhi.


"Bukan masalah besar, itu tidak penting sama sekali. Sudahlah, tak perlu kau pikirkan." Keduanya berjalan menuju lift dan menekan tombol di mana letak ruangan Calvin.


"Calvin, apa ini? Aku belum pernah tahu sebelumnya." Zhi tampak kebingungan saat memasuki lift, matanya mengitari ruang sempit itu, yang terdapat pantulan dirinya juga di sana.


"Calvin!" teriak Zhi, tangannya dengan cepat berpegangan pada lengan Calvin karena terkejut saat lift itu mulai berjalan naik.


"Zhi, kamu takut?" tanya Calvin sedikit menahan tawanya, dia sungguh tak menyangka saat Zhi takut menaiki lift. "Wanita sesakti kamu, ternyata cuma takut sama lift, Zhi?" goda Calvin dengan senyuman yipis yang terukir di bibirnya.


"Aku tidak takut, Vin. Hanya terkejut." Zhi berkelit, tetapi wajahnya tak dapat dibohongi, dia memang terlihat sedikit panik dan tak melepas pegangannya di lengan Calvin, bahkan semakin erat mencengkeram.


"Tidak apa-apa, Zhi. Ini hanya sebentar." Calvin melirik sekilas wajah Zhi, tadinya dia ingin menggoda wanita yang sedang ketakutan itu, tetapi dia berubah menjadi kasihan. Dia mencoba menenangkannya, mengelus tangan Zhi yang berada di lengannya.


Saat lift terbuka di lantai teratas gedung itu, Zhi dan Calvin gegas keluar, tiba-tiba ada seseorang yang berdiri tepat di depan mereka. Sepertinya lelaki itu hendak menggunakan lift tersebut. Mata pria itu tak berkedip, memperhatikan Calvin dan Zhi yang terlihat mesra. Masih dengan posisi yang sama seperti saat di dalam lift tadi, Zhi menautkan tangannya ke lengan Calvin layaknya seorang kekasih.


"Kenapa melihatku seperti itu, hah?" tanya Calvin dengan nada ketusnya. Tatapannya tajam seperti singa yang akan menerkam mangsanya.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa komen dan likenya ya guys, hadiah juga mau.🤭terima kasih.


__ADS_2