
Begitu besar rasa rindu yang berkumpul di hati Calvin pada Zhi membuat keharuan. Harapannya selama ini untuk bertemu Zhi ternyata tereujud, padahal lelaki itu hampir saja putus asa dan ingin melupakan sosok Zhivanna setelah sekian lama diselimuti kerinduan yang begitu mendalam. Calvin terus memperhatikan setiap inci wajah Zhi tak berkedip, menikmati keindahan di depannya.
"Apa kamu akan tinggal bersamaku, Zhi?" tanya Calvin dengan mata yang mengembun.
"Tentu saja, aku sudah menjadi istrimu, Vin. Rumahku di sini ...." Zhi menunjuk dada Calvin, menyentuhnya dengan lembut.
Zhi mendongak ke wajah Calvin dan tersenyum. Begitu manis senyuman Zhi, lengkungan indah di bibir itu mampu membuat Calvin terkesiap. Dia masih tak percaya apakah ini mimpi atau memang nyata.
"Zhi ... ini nyata, kan? Bukan mimpi?" Lagi-lagi Calvin meyakinkan apa yang dialaminya sekarang.
__ADS_1
Zhi menggeleng, wanita itu lantas kembali memleuk Calvin. Walau Zhi merasa hanya sebentar di dunianya, tetapi dia juga sangat merindukan Calvin, mengingat mereka selalu menghabiskan waktu bersama selama hampir 24 jam per harinya.
"Terima kasih, Zhi. Selamat datang kembali." Calvin tersenyum bersamaan dengan air mata bahagia yang menitik jatuh ke pipi. "A--aku tidak tahu harus berkata apa. Aku sangat bahagia sekarang, akhirnya aku bisa memelukmu lagi," ucap Calvin.
"Mulai sekarang, besok dan selamanya, aku milikmu, Calvin. Jika suatu saat nanti kamu berkhianat, kamu tidak akan bisa menemuiku lagi di dunia ini, ingat itu!"
"Mana mungkin aku berkhianat, jika memilikimu saja sudah sangat beruntung, aku seperti menemukan oksigen untuk hidupku yang sesak ini," Zhi."
"Calvin, lihat dirimu! Kenapa sekarang kamu seperti ini?Aku nggak suka!" Zhi mengerucutkan bibirnya, matanya mengarah pada jambang Calvin yang mulai memanjang, juga kumis yang sengaja tidak dicukur.
__ADS_1
Penampilan Calvin menjadi seperti lelaki setengah tua yang tak terurus, bahkan kini rumahnya tak serapi dulu. Duku sebelum ada Zhi, dia selalu rajin membersihkan dan merapikan bagian kamarnya. Namun, saat Zhi tiada, waktunya hanya dihabiskan di pantai, menunggu dan terus menanti kepulangan Zhi ke bumi.
"Semua ini karena kamu, Zhi. Kalau saja kamu berada di sampingku, mungkin aku tisak akan malas merawat diri. Lagi pun, hanya kamu yang kuinginkan untuk memuji ketampananku." Calvin terkekeh, disahut tawa Zhi yang begitu heran melihat Calvin memuji dirinya sendiri.
"Nanti bersihkan semuanya, aku nggak mau ciuman lagi kalau rambut itu masih tumbuh di wajahmu. Sangat menggelikan!"
Calvin pun tertawa mendengar celoteh Zhi, sydah lama dia tidak mendengar hinaan juga cacian Zhi. Ucapan wanita itu bahkan tak pernah disaring walau hanya sesekali, membuat Calvin menyukai apa ada adanya.
"Calvin, ikut aku sebentar. Aku mau tunjukin kamu sesuatu."
__ADS_1
"Apa?"
"Aku membawa seseorang, dia ada di kamarku," jawab Zhi seraya melepas tangan Calvin yang melingkar pinggangnya. Dia lantas menggandeng lelaki itu menuju kamarnya.