
"Selamat, siang, ada yang bisa dibantu?" Seorang pelayan mendekat ke arah Calvin dan Zhi.
"Tolong, carikan sepatu atau sandal yang cocok untuknya. Jangan hak tinggi," ucap Calvin, pandanganya mengitari sekitar toko tersebut.
"Baik, Tuan." Pelayan itu pun gegas mengambil beberapa sepatu dan sandal untuk Zhi. Calvin pun ikut melihat-lihat sekitar toko itu, memastikan jika ada sepatu yang cocok untuk Zhi.
"Bagaimana, Nona. Apa Anda cocok dengan sepatu ini?" tanya seorang perempuan yang memakai rok pendek hitam, dengan kemeja berwarna biru muda. dia membawa dua sepatu berwarna merah dan hijau.
"Hei, apa kamu tidak melihatku memakai baju putih? Kamu sengaja memilihkanku warna sepatu terang itu? Dan lagi, tadi kekasihku bilang, jangan heels yang tinggi. Tapi kamu malah mengambilkannya," oceh Zhivana sambil menatap pelayan toko itu.
"Maaf, saya akan mengambilkan yang lain." Wanita itu pun memandang sinis ke arah Zhi.
Calvin yang tadi berkeliling, dia menghampiri Zhi dan membawa dua sepatu yang mempunyai heels pendek.
"Coba yang ini!" perintah Calvin. Zhi pun segera mencoba memakainya.
"Kamu memang paling mengerti aku, Sayang."
"Sayang?" Calvin mengernyitkan dahinya saat mendengar sebutan 'sayang' yang diucapkan Zhi.
"Lihat, ini sangat pas di kakiku. Dan aku suka warnanya." Zhi memilih sepatu putih bercorak hitam yang diberikan Calvin.
Pelayan tadi memperhatikan tingkah keduanya. Sedetik kemudian Calvin memanggil pelayan itu dan mengajaknya ke arah rak sepatu yang berada di sudut toko. "Ikut aku, kemarilah!"
Wanita itu begitu antusias saat Calvin memanggilnya, pandangannya dari awal memang seperti memperhatikan Calvin. Wanita mana yang tak menyukai Calvin, bahkan lelaki itu memang mempunyai pesona yang luar biasa. Ketampanannya juga tak kalah dari Chris Evan.
__ADS_1
"Bungkus sepatu yang ini, ini, ini, itu dan juga yang paling ujung." Calvin menunjuk beberapa sepatu pilihannya dan menyuruh pelayan untuk membungkusnya. " Jangan lupa ukurannya yang sama seperti ini," tunjuk Calvin pada salah satu sepatu pilihannya.
"Ini semua ... Tuan akan membelinya?"
"Apa, wajahku seperti penipu?" Calvin sedikit kesal saat pelayan itu tidak memercayainya.
"Maaf, Tuan. Baiklah, saya akan mengemasnya untukmu."
Pelayan itu berlalu pergi sambil membawa sepatu yang baru saja dipilih oleh Calvin, sedangkan Calvin, dia menghampiri Zhi dan duduk di sebelahnya. "Sepatu itu? Kamu tidak kesakitan, kan, jika memakainya?"
"Tentu saja tidak, jika hanya lecet, itu sama sekali tak berpengaruh di tubuhku. Apa kamu lupa, aku bukan wanita sembarangan, Calvin." Zhi berbisik di dekat telinga Calvin.
"Sudah, jangan mengatakan hal yang di luar nalar. Ini tempat umum." Calvin memperingatkan Zhi. Beberapa saat kemudian, pelayan itu datang dan memberikan sebuah lembaran kertas.
Sementara itu, di meja khusus pembungkusan sepatu. Pelayan wanita yang tadi melayani Calvin dan Zhi, mengumpat dengan hati yang sedikit terbakar karena rasa irinya terhadap Zhi.
"Sudahlah, jangan pikirkan itu. Semua orang mempunyai kehidupan masing-masing," sahut seorang teman di sebelahnya.
"Sebentar, aku akan memberikannya nota dan menyuruhnya untuk tanda tangan," ucapnya lagi pada temannya sambil merapikan rambut panjangnya yang digerai.
Perempuan itu melepaskan satu kancing baju bagian atas, berniat untuk menarik perhatian Calvin.
"Permisi, Tuan. Ini nota pembayarannya, silakan tanda tangan di sini," tuturnya sambil menyerahkan kertas dan juga pulpen. Kedua tangannya seraya membenarkan posisi kerah kemeja yang dia pakai agar leher dan dadanya sedikit terekspos.
Zhi menatap heran pada pelayan toko itu, tubuh Zhi lalu mendekat ke arah Calvin agar lelaki itu terhindar dari pandangan wanita pelayan toko tersebut.
__ADS_1
"Tuan, Anda membeli banyak sepatu dengan harga yang cukup tinggi. Bagaimana jika kami meminta kartu nama Anda. Agar ke depannya, jika ada pengeluaran terbaru, kami akan memberi informasi."
"Tidak perlu! Buat apa meminta kartu nama? Kamu mau mencoba menghubungi kekasihku? Coba saja kalau berani! Aku akan menghancurkan tokomu!" tukas Zhi seraya berdiri, menyejajarkan tubuhnya dengan wanita itu secara berhadapan.
Calvin yang sejak tadi melihat gelagat Zhi, dia menahan tawanya. Zhi seperti wanita yang cemburu pada kekasihnya, tetapi kecemburuannya sangatlah imut. Hingga Calvin berpikir, Zhi adalah sosok yang menggemaskan.
"Zhivanna ...." Calvin tak dapat lagi menahan, tawanya meledak begitu saja. Zhi pun menarik tangan Calvin dan mengajaknya pergi.
"Kenapa tertawa?" Zhi membulatkan matanya menatap Calvin yang sejak tadi terus menertawainya.
"Nona! Tunggu! Mungkin Anda salah paham padaku, aku tidak bermaksud mengganggu kekasih Anda."
"Mana ada salah paham? Aku sudah mencium aroma hormon penggoda di tubuhmu!"
"Maafkan saya, jangan gagalkan pembelian sepatunya," mohon wanita itu.
Calvin melihat ke arah Zhi dan berkata, " Sebaiknya aku membayarnya dulu dan mengambil sepatu tadi, berhentilah memarahi orang."
Zhi pun menarik kaus Calvin, dia mengekori ke mana pun Calvin melangkah tanpa berhenti menatap pelayan tadi. Dia merasa sangat kesal saat Calvin digoda oleh wanita lain.
"Zhi, lepaskan dulu. Jangan terus menarik bajuku," ucap Calvin.
.
.
__ADS_1
Bersambung ...
Tolong, jangan lupa tinggalkan jejak ya. Author pengen dikasih komentar penyemangat, dan like juga. Apalagi kalau mau kasih mawar atau kopi, mau banget.😅😍