
Setelah melalui beberapa hari proses penyembuhan dengan kekuatan sihir Cris, kondisi Calvin mulai membaik. Rasa khawatir Zhi dan kini sedikit berkurang, tak seperti awal ketika dia harus merasakan gundah mendalam. Seperti biasa, kini Zhi tengah berada di sisi Calvin. Raaa kantuk menyerang Zhi, dia lantas ikut berbaring di dekat Calvin.
Hawa dingin dengan aroma khas wangi alam di kediaman Zhi sangatlah berbeda di bumi. Calvin mulai tersadar dari tidur panjangnya, dia mulai bisa merespons sekitar.
Kelopak mata Calvin yang semula terpejam, kini perlahan mulai terbuka. Dia merasakan tubuhnya kaku karena lama tidak bergerak menjalar ke kepala, membuatnya sulit untuk berpikir sekarang ini.
Cahaya terang dari sinar alam menyadarkan Calvin akan dirinya yang baru saja terbangun dari tidur panjangnya. Dia mulai mengerjap beberapa kali, alisnya memicing karena menangkap silaunya sorot sinar tersebut. Calvin mulai merasa ada sesuatu yang aneh saat ini, dia tak tahu di mana keberadaannya sekarang, tempat ini begitu asing dan sangat aneh.
"Tempat apa ini?" gumamnya, matanya mulai mengitari sekitar, mengabsen setiap sudut ruangan yang tak biasa. Hiasan bak kerajaan kuno memenuhi tempat tersebut, menambah kesan lawas dengan furnitur yang terbuat dari kayu serta perlengkapan yang berwarna emas terlihat mewah.
Manik indah Calvin mulai memindai, dari ruangan mengarah pada seseorang yang terbaring di sebelahnya. Dia belum menyadari akan keberadaan Zhi. Akan tetapi, rambut yang tergurai indah tepat di dekat kepala Calvin, sehingga membuat indra penciuman Calvin bereaksi. Aroma wangi itu sungguh tak asing, dia lantas tersenyum tipis saat mendapati Zhi berada di sampingnya.
__ADS_1
“Zhi …," panggil Calvin, dia berusaha menggerakkan tangannya untuk mengelus pelan kepala Zhi, yang tertidur meringkuk di sebelahnya.
Samar-samar, Zhi tersadar akan suara Calvin yang memanggilnya. Dia beringsut duduk, semburat bahagia tergambar jelas di wajah Zhi. Kedua tangannya terulur menangkup pipi Calvin. Mata indah itu kini tampak berkaca-kaca begitu melihat Calvin telah membuka matanya.
“Calvin! Kamu sudah sadar? Syukurlah," ucap Zhi, tiba-tiba buliran hangat itu menetes karena rasa haru.
__ADS_1
"Aku seneng, akhirnya kamu sadar, Vin. Kau tau? Aku sudah menunggumu lama. Aku sangat khawatir denganmu. Aku pikir, aku tidak akan bisa lagi melihatmu," tutur Zhi saat berada di dada Calvin.
"Mana mungkin aku akan membiarkanmu sendirian, Zhi. Bukankah jamu hanya punya aku di bumi ini?" tanya Calvin. Sejurus kemudian dia tersadar. "Tapi, kita sekarang berada di mana, Zhi?"
“Di rumah orang tuaku, Calvin. Sekarang kamu sudah sadar, apa kita jadi menikah?” tanya Zhi antusias. Bibirnya menampilkan barisan giginya yang rapi, meringis tanpa malu saat menagih pernikahan.
"Zhi, menikah bukan seperti mau makan, yang kita lapar, kita langsung bisa kunyah. Ada proses yang harus kita lakukan, nanti jika sudah saatnya, aku pasti akan menikahimu."
"Tapi, bukankah kamu bilang waktu itu akan menikahiku secepatnya, Vin?"
Calvin terdiam sejenak, dia memikirkan perkataannya malam itu, saat sebelum celaka kafena Erdo. Dia sempat mengatakan memang akan menikahi Zhi. Bagi Zhi, hal itu dianggap keseriusan, sehingga dirinya berharap besar akan menjadi istri Calvin.
__ADS_1
Namun, dia tidak paham bagaimana pernikahan itu akan terjadi di bumi manusia, ada syarat dan beberapa langkah yang memang harus dilakukan. Termasuk meminta restu pada orang tua. Apalagi Eryn seperti tidak menyukai Zhi, akan menjadi tantangan tersendiri bagaimana harus berjuang mendapatkan restu dari mamanya.
"Zhi, dia sudah sadar?" tanya Chris saat melihat anaknya berbicara dengan Calvin.