Wanita Dalam Liontin

Wanita Dalam Liontin
Foto Mesra


__ADS_3

Calvin menatap serius mamanya, ada semburat rasa sedih karena dia gagal dalam hubungan percintaannya. Namun, hal itu tak membuatnya larut dalam kesedihan, setidaknya ada wanita di sampingnya yang siap menghiburnya. Siapa lagi jika bukan Zhi.


“Ma, mana mungkin aku berbohong. Untuk apa? Lagi pula Mama juga tahu perasaanku pada Gracella, kan.”


Eryn—mamanya terdiam saat mendengar penuturan Calvin, dia juga ikut prihatin karena anak lelakinya mengalami kegagalan. Wanita paruh baya itu pun terdiam sejenak, lalu berkata, “Calvin, Mama memercayaimu, tapi apa kamu ada bukti yang bisa membuat mama semakin yakin?”


“Serius Mama mau lihat? Aku yakin Mama tidak akan menyangka.” Calvin beranjak lalu duduk di samping Eryn. Dia mengeluarkan ponselnya, dan membuka galerinya. Satu per satu dia menggeser foto itu, dan menunjukkan pada wanita di sampingnya yang tengah fokus.


Eryn menutup mulutnya tak percaya saat sebuah foto tergambar jelas di layar ponsel Calvin. Wanita yang sedang berpelukan dengan seorang lelaki itu terlihat sangat mesra. Ditambah lagi, Calvin memperbesar bagian wajah wanita itu yang tak lain adalah Gracella.


Lagi, dan lagi. Tak hanya satu, Calvin terus menggeser satu per satu foto itu. Memperlihatkan Gracella yang sedang berjalan mesra memasuki sebuah hotel mewah.


Zhi mematung, sejak tadi dia berdiam diri di sofa tanpa tahu apa yang harus dia lakukan. Wanita itu seperti menyaksikan drama seorang anak dan ibu di depannya. Baginya, itu sangat membosankan, kalau bisa dia pasti akan menghilang saja sekarang.


“Ah, sudahlah, Sayang. Kamu jangan bersedih lagi, ya. Mama akan carikan wanita yang terbaik buat kamu. Teman mama banyak yang mempunyai anak cantik-cantik, dan jangan salah, mereka kebanyakan mempunyai usaha sendiri. Jadi, kamu tidak perlu risau,” terang Eryn sambil mengelus pundak Calvin.


“Ma, please jangan berpikir untuk menjodohkanku sekarang. Aku sama sekali tidak tertarik,” sergah Calvin. Lelaki itu kemudian berdiri dan beranjak duduk di dekat Zhi lagi. Tak sengaja, saat dia duduk, sedetik kemudian telinga Calvin menangkap suara perut Zhi berbunyi cukup keras. Ya, wanita itu menahan laparnya sejak tadi.


“Zhi, kamu? Maaf, aku melupakan makanmu,” ucap Calvin lirih sedikit berbisik di telinga Zhi. Wanita itu mengulas senyum kepura-puraan.

__ADS_1


“Cepatlah, kapan kamu akan memberiku makan? Perutku sudah keroncongan sejak tadi,” gerutu Zhi.


“Ehem!” Eryn berdehem melihat Calvin dan Zhi saling berbisik. Zhi pun langsung tersenyum ramah pada Eryn dan sedikit menganggukkan kepalanya.


“Ma. Mama bawa makanan nggak?”


“Ah iya, bawa dong, Sayang. Kamu pasti kangen masakan mama, kan?”


“Iya, Ma, tentu saja. Perutku juga sudah sangat lapar.”


“Ya sudah, sebaiknya kita makan dulu Mama sudah siapkan di meja makan.


“Papa, nggak makan, Ma?” tanya Calvin seraya melangkahkan kakinya ke meja makan dan mengajak Zhi.


Mereka pun menikmati makan siangnya. Awalnya Zhi kebingungan mana yang harus dimakan, untung saja dia mempunyai pikiran yang hebat. Jadi dia tahu mana yang cocok dan mana yang tidak.


Calvin sempat merasa resah akan cara makan Zhivanna, karena terkahir kali saat makan di restoran, Zhi makan dengan rakus. Calvin sedikit menakutkan hal itu, sehingga dia terus memperhatikan Zhi, berpikir agar Zhi tidak melakukan sesuatu yang memalukan dan tidak bisa menjaga sikapnya.


Namun, Zhivanna pintar. Pikirannya juga selalu terpusat pada Calvin. Wanita itu tahu apa yang harus dia lakukan. Meskipun dia sangat kelaparan, dia berusaha untuk tidak makan banyak dan hanya seperlunya. Toh, dia berpikir kalau wanita paruh baya di depannya itu juga akan pulang, jadi dia bisa kembali makan sepuasnya.

__ADS_1


Beberapa menit berlalu, selesai makan, mereka bertiga kembali ke ruang santai sekadar mengobrol. Akan tetapi, Eryn terlalu banyak bertanya sesuatu pada Zhi.


"Nama kamu tadi siapa?" tanya Eryn, wajahnya datar tak mengungkapkan rasa suka atau kesal.


"Zhivanna," jawab Zhi singkat.


"Kamu tinggal di mana? Dan sejak kapan jadi sekretaris Calvin?" Zhi langsung melirik ke arah Calvin. Zhi tak kunjung menjawabnya, dia hanya berdehem, Calvin pun langsung menjawab saat lirikan Zhi mengarah padanya.


"Zhi baru beberapa hari ikut Calvin, Ma. Dia datang dari luar kota," jelas Calvin, nadanya dibuat santai walau dia sedikit gugup.


"Kok bisa tahu di tempat Calvin sedang ada lowongan, tahu dari mana?"


Zhi membisu, kali ini pikirannya kacau tak dapat terfokus pafa Calvin. Lelaki itu pun juga tak dapat berpikir jernih. Terlalu bingung mencari alasan dan jawaban yang akan dia lontarkan agar mamanya tak curiga.


"Maaf, sepertinya Zhi sedang sakit tenggorokan. Makanya sejak tadi dia hanya diam. Mungkin dia butuh istirahat, Calvin antar ke kamar dulu ya, Ma?" ucap Calvin seraya mengangguk pada Zhi, mengisyaratakan agar wanita itu ikut dengannya.


Eryn menatap keanehan pada mereka, dia curiga ada sesuatu yang disembunyikan. Akan tetapi, Eryn hanya diam dan bertanya-tanya sendiri. Rasa penasaran itu semakin tinggi saat melihat Zhi yang begitu cantik, bahkan kecantikannya mengalahkan dirinya saat muda.


"Calvin! Cepat kembali. Jangan lama-lama," tegas Eryn saat Calvin berjalan ke arah tangga mengantar Zhi.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2