Wanita Dalam Liontin

Wanita Dalam Liontin
Gudang Tua


__ADS_3

Calvin mengantar Zhi untuk beristirahat di kamarnya. Dia meminta tolong Bi Siti untuk terus mengeceknya dan membantu apa saja yang diperlukan Zhi. Saat ini, Zhi masih nyenyak tertidur. Energinya seakan lemas tak bertenaga.


Di perusahaan Calvin.


"Liam, bantu aku!" Calvin tampak tergesa-gesa saat membuka pintu ruangan Liam.


"Loh, katanya mau cuti? Kenapa ke sini?" tanya Liam penasaran. Dia lantas berdiri mendekat ke arah Calvin yang duduk di sofa panhang, terletak di sudut ruang itu.


"Aku harus mencari Gracella, dia membawa kalung Zhi. Dan sekarang, aku tidak tahu di mana mereka berada. Terakhir kali, tadi pukul empat, kita ada di pantai," terang Calvin seraya menatap serius pada lelaki yang duduk di sampingnya.


"Kalung? Memangnya semahal apa kalung itu? Apa kau tidak bisa membelikannya lagi, dasar pelit!" umpat Liam.


Padahal, dia tidak tahu sumber permasalahannya. Namun dia memaki Calvin. Jika mereka bersama, sudah dipastikan mereka akan ada perdebatan kecil sebagai bumbu persahabatan mereka. Percakapan apa pun, seolah tiada pembatas dan menerobos begitu saja tanpa filter.


"Bisakah kau serius? Jangan mengajakku debat sekarang, jangan memancing emosiku! Aku ingin kamu bawa laptopmu ke sini, dan lacak keberadaan Gracella. Aku harus menemukannya hari ini juga."


"Maksudmu? Kau menyuruhku meng-hack dia?"


"Iyalah, apa lagi?" Calvin mendengus kesal.


"Baiklah, wait. Bro, kau sepertinya kau benar-benar sudah hanyut dengan pesona wanita itu? Padahal aku berniat menjadikan sebagai kekasihku," ucap Liam. Calvin lalu melirik temannya itu, tatapannya menghunus tajam layaknya belati yang hendak menusuknya hingga ke relung.


Liam lalu menuju meja kerjanya dan mengambil laptop. Dia memulai aksinya untuk melacak keberadaan Gracella dan Jordan.


"Seorang CEO, tapi kalah pintar dengan asistennya. Wajah juga kalah ganteng. Payah kamu, Vin!" sambil mengotak-ngatik dan fokus pada monitornya, Liam terus mencaci tak karuan. Calvin hanya terdiam dan malas merespons tabiat temannya itu.


Calvin masih memperhatikan Liam. Layar itu berisikan angka, huruf, serta simbol yang tidak dipahaminya. Dia menatapnya saksama tak berkedip.


Selang beberapa menit Liam berkutat dengan penuh konsentrasi, akhirnya membuahkan hasil.

__ADS_1


"Dapat!" pekik Liam. Lelaki itu dengan lega meregangkan otot tangannya yang baru saja tegang saat mengontrol keyboard laptop di depannya.


"Di mana?" tanya Calvin seraya memperhatikan lagi layar tersebut.


"Jadi, dia masih berada di sekitar jalanan pantai. Di sini, kamu melewatinya, kan?" Liam menunjuk titik di mana Grace berada.


"Ah, ya. Aku tahu. Sekarang tolong telepon anak buahmu yang waktu itu, suruh mengantarku ke sana. Agar aku tak sendirian," tutur Calvin.


"Apa? Kamu takut sendirian?" tanya Liam setengah menertawakan Calvin.


"Aku hanya capek berkendara. Baru saja pagi tadi ke sana, sekarang harus ke sana lagi."


"Seberapa besar cintamu dengan wanita itu? Hingga kau mau melakukan apa pun demi dia," tukas Liam yang begitu penasaran dengan hubungan keduanya.


"Aku hanya ingin membantunya, bukan berarti harus cinta dulu, kan, jika ingin menolong seseorang?" Lagi-lagi Calvin harus menarik napas panhang mendengar ocehan Liam.


"Haish, kamu kurang bergerak cepat. Kalau tidak cepat, bisa-bisa Zhi akan jatuh ke tanganku, Bro! Ha ha ha." Tawa Liam menggema saat berhasil membuat wajah Calvin merah padam menahan amarah.


Seperti ikan yang mendapatkan umpan, mereka seolah menyerahkan diri sebelum Calvin berusaha keras untuk menemuinya.


Saat ini, Grace dan Jordan berencana makan siang di luar yang tak jauh dari villa. Namun sayang, hal itu menjadi terkahir kali mereka bersenang-senang sebelum Calvin dan anak buahnya beraksi.


Mobil yang ditumpangi Calvin itu gegas meluncur mengikuti Grace dan Jordan. Calvin tersenyum licik. Dia seperti lega saat menangkap keberadaan mereka dan tak lepas dari penglihatannya saat ini.


Kemudian, saat berada di tempat sepi. Calvin menyuruh Jin untuk menyalip dan menghentikan mobilnya tepat di depan mobil Jordan.


"Di depan sana nanti, berhenti, Jin!" perintah Calvin, dia duduk di belakang dengan sorot matanya yang tak berhenti menatap depan.


Mobil pun berhenti dengan mendadak, hampir saja Jordan yang mengemudikan mobilnya menabrak tepian tebing tinggi yang berada di tepi jalan karena menghindari mobil yang diekemudikan oleh Jin.

__ADS_1


Jin dan Jun segera keluar dan menyergap mereka, di susul dengan Calvin yang berjalan santai. Tubuhnya yang kekar mengikuti alunan langkah kaki jenjangnya yang begitu tegas. Raut wajah itu santai, tetapi terlihat mematikan saat bola matanya menghunus tajam ke arah sepasang kekasih yang juga baru saja keluar dari mobilnya.


"Apa-apaan ini, hah?" Jordan dan Gracella begitu terkejut saat mengetahui Calvin yang mengehentikan perjalanannya.


"Mana kalung itu, kembalikan!" Calvin mengulurkan tangannya dan menjentikkan jari mengisyaratakan agar Gracella segera menyerahkan kalung Zhi.


"Kalung apa? Aku tidak tahu apa yang kamu maksud, Calvin," ucap Gracella berkelit.


"Jangan berpura-pura lagi! Aku tidak punya banyak waktu!" Calvin seakan jengah dengan wanita di depannya itu, dia mengalihkan pandangannya. Sangat muak baginya jika terus melihat pemandangan yang membuatnya terpancing emosi.


Gracella pun mendekati Calvin dan mencoba merayunya.


"Cepatlah! Atau aku akan bertindak kasar!" ancam Calvin, suaranya bentakan itu seolah mengejutkan kedua lawan yang kini tengah pasrah menerima perlakuan Calvin.


Gracella pun memutar otak, bagaimana caranya agar Calvin teralihkan dan tidak menjadi pria yang menakutkan.


"Bukankah sebaiknya ... kamu ikut kita makan siang bersama, Sayang? Kita akan mengatur kesepakatan, bagaimana?" Gracella mendekat dan mencoba menyentuh Calvin, dengan cepat lelaki itu menepis tangan Gracella yang baginya najis.


Tanpa ada jawaban, Calvin kemudian memberi isyarat kepada Jin dan Jun agar mereka bertindak lanjut. Dengan sekali kedioan mata dan anggukan kecil, kedua anak buahnya itu sangat mengerti atas perintah Calvin.


Jin kemudian beraksi, mendekat ke arah Gracella dan mencekal tangan wanita itu dengan paksa, dan memasukkannya ke mobil. "Hei, berani sekali kau! Lepaskan!" teriak Grace. "Beib, tolong aku!" lanjutnya lagi, dia mengharao bantuan dari Jordan.


Namun sayang, Jordan tidak dapat membantu kekasihnya itu karena dengan gerakan cepat, Jun langsung menendang kaki lelaki tersebut, hanya sekali tendang, Jirdan meringis kesakitan. Keduanya lantas dimasukkan ke mobil.


Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah gudang lawas. Bangunan tua yang tak berpenghuni. Gracella dan Jordan hanya menurut karena Jin dan Jun menodongkan pistol yang sewaktu-waktu bisa melesatkan peluru panasnya.


.


.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2