Wanita Dalam Liontin

Wanita Dalam Liontin
Penjelasan


__ADS_3

“Cantik? Ya, tentu saja kamu cantik. Sudah, ayo keluar! Ingat, jangan berkata apa pun, hanya aku yang akan menjawab pertanyaan dari mama atau papa nanti.”


“Oke, aku akan diam,” sahut Zhi sambil menunjukkan ibu jarinya tanda dia paham dan setuju.


Calvin pun keluar lalu mengitari mobilnya, membukakan pintu untuk Zhi. Saat pintu itu terbuka, Zhi keluar dan berdiri di samping Calvin. Wanita itu tampak anggun dan sangat cantik dengan gaun yang dipakainya. Sederhana, sopan, tapi tetap mempunyai nilai istimewa jika dipadankan dengan kulitnya yang putih mulus. Serta wajahnya yang juga tanpa noda, seperti menarik hasrat Calvin untuk menyentuh pipinya.


Di bawah terik matahari, Zhi terlihat lebih bersinar dari sebelumnya, auranya terpancar bak peri yang turun dari kayangan. Bukan mimi peri.


Zhi berjalan perlahan di depan Calvin, tanpa dia sadari, lelaki itu malah berhenti dan memandangnya dari jarak kurang lebih lima meter menuju pintu utama. Calvin masih berdiri mematung di samping mobilnya seraya menatap Zhi yang tengah menggelung rambutnya ke atas.


Zhi yang menyadari berjalan sendirian tanpa Calvin, dia membalikkan badannya dan meneriaki lelaki itu. “Calvin! Ayo cepat, kenapa masih berdiri di situ?”


Calvin mengerjapkan matanya, sesaat kesadarannya hilang saat melihat pesona Zhivanna. Sungguh sangat menghipnotisnya. Di tambah lagi, leher jenjang Zhi kini terlihat, anak rambut yang berantakan pun tak mengurangi nilai kesempurnaannya.


“Ah, iya!” Calvin pun beranjak, derap langkah kaki terdengar semakin keras saat Calvin mempercepat langkahnya mendekat ke arah Zhi.


“Kenapa bukan sejak tadi menggelung rambutmu? Kamu terlihat semakin indah,” puji Calvin terang-terangan pada Zhi. Wanita itu pun menanggapinya dengan tawa kesombongannya.


“Kamu baru sadar? Aku memang cantik, Calvin. Terima kasih. Aku semakin yakin sekarang, kamu pasti mulai menyukaiku,” tutur Zhi dengan segala tawa kemayunya.


“Aku menyesal memujimu, harusnya kamu bersikap manis saat dipuji pria, bukan malah menyombongkan diri, menyebalkan!” umpat Calvin, dia melirik sedikit ke arah Zhi.

__ADS_1


Keduanya telah sampai di ambang pintu utama berwarna putih. Calvin mengelus dadanya sebentar, lalu menatap Zhi. “Kamu siap?” tanya Calvin.


“Apa yang harus aku siapkan? Aku, kan, hanya perlu diam.” Zhi berkata tanpa berpikir dan tanpa peduli keadaan Calvin yang gugup. Dia menarik napasnya panjang, kemudian perlahan tangannya membuka pintu itu. Seolah dia akan menghadapi singa yang kelaparan.


Calvin sedikit mengintip seperti maling, memastikan keberadaan orang tuanya. Saat dia maju satu langkah, tiba-tiba suara nyaring terdengar memekik telinga Calvin dan Zhi.


“Sayaang ... anak mama sudah pulang, dari mana aja? Eh, siapa dia?” Wanita paruh baya itu bertanya dengan tatapan heran. Dia mendekat ke arah Calvin hendak memeluk anak lelakinya itu. Namun, Eryn mengurungkan niatnya saat melihat perempuan di belakang Calvin yang tersenyum ramah padanya.


"Papa mana, Ma?" tanya Calvin mengalihkan pertanyaan Mamanya terhadap Zhi.


"Papa kamu sedang tidur di kamar bawah. Semalam meeting sampai malam. Jadi kurang tidur."


"Siapa dia Vin? Kenapa bisa bersamamu? Dan kenapa kamu mengajaknya ke rumah?"


"Ma, dia Zhi, temanku."


"Kok nggak sama Gracella, mana dia?" tanyanya menelisik.


"Duduk dulu yuk, Ma! Aku akan menjelaskan sesuatu." Calvin berjalan menuju ruang santai keluarga, tak lupa dia selalu melirik Zhi yang berada di sampingnya. Memastikan tak akan ada sesuatu aneh yang terjadi. Mereka pun duduk di sofa panjang, Calvin duduk di sebelah Zhi, dan Eryn duduk di depan mereka, berseberangan dengan meja.


"Sejak kapan kamu mengenal wanita ini? Mama tidak pernah melihat sebelumnya kalau dia teman kamu,"

__ADS_1


"Ma, dia teman, ehm ... sekretaris baruku," jawab Calvin sedikit gugup.


"Jadi yang benar sekretaris baru, atau teman kamu? Ingat ya, Calvin, kamu sudah bertunangan, jangan semabarangan bawa perempuan lain!" tegas Eryn pada Calvin.


"Kalau dia sekretaris, apa tidak boleh juga jadi teman saat di luar kantor, Ma? Mama terlalu berpikir berlebihan. Lagi pula, Calvin sudah memutuskan hubungan dengan Cella," tutur Calvin yang langsung diberikan tatapan tajam oleh mamanya.


"Apa? Ulangi kata-katamu coba! Mama tidak salah dengar?"


"Dengar dulu penjelasan Calvin, Ma. Harusnya dari awal aku menceritakannya sama Mama. Tapi belum sempat. Jadi begini, sejak beberapa hari lalu, aku menyewa mata-mata untuk mengawasi pergerakan Cella yang mulai mencurigakan. Karena, dia selalu memberi alasan sibuk saat Calvin mengajaknya keluar, belum lagi dia memakai mobil baru, dan juga punya apartemen baru, itu sangat mencurigakan. Tapi aku sudah mendapatkan bukti yang kuat dari mana dia mendapatkannya."


"Lalu?" Eryn tampak serius mendengarnya.


"Semalam, aku memergokinya di hotel dengan lelaki pemilik perusahaan ternama di kota ini. Dia menjadi simpanan hidung belang." Calvin berusaha menetralkan pikiran dan hatinya. Walaupun dia merasa masih sakit jika mengenang hal itu. Akan tetapi, setidaknya dia lega karena belum terlambat menikahi wanita itu.


"Apa semuanya benar, Calvin? Kamu sedang tidak berbohong dan mencari alasan, kan? Jangan bilang karena wanita ini."


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2