Wanita Dalam Liontin

Wanita Dalam Liontin
Bangunlah, Calvin!


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, Zhi menggenggam liontin yang menggantung di lehernya, lalu menghilang membawa raga Calvin. Dia membiarkan Gracella tergeletak di bukit tersebut. Saat ini dia berniat untuk membawa Calvin pergi dan meminta pertolongan.


Tak butuh waktu lama, Zhi sampai di kediaman orang tuanya, di Negeri Luchania. Awalnya dia sempat takut jika dia tercium oleh Erdo saat memasuki negeri tersebut. Namun, kali ini nasib baik berpihak padanya. Erdo tidak menyegat atau bahkan membuat ulah padanya.


Tubuh Calvin yang lemah dibaringkan di sebuah ranjang mewah. Zhi merasa kasihan melihat Calvin yang tak berdaya. Dia lantas memanggil kedua orang tuanya untuk menolong lelaki tersebut.


“Ayah, Bunda!” seru Zhi.


“Zhi? Kamu kembali, Sayang?” Ibunda Zhi menghampiri. Raut wajahnya tampak menggambarkan kerinduan mendalam. Wanita paruh baya itu menyambut Zhi dengan pelukan hangat. Bertahun-tahun Zhi tidak merasakan pelukan itu. Namun, sesaat kemudian dia terkesiap mengingat Calvin. Bukan waktunya untuk saling melepas rindu. Ada nyawa yang menjadi prioritas utama.


"Ibu, maaf. Nanti Zhi akan cerita. Sekarang, tolong selamatkan nyawa Calvin." Zhi menatap sendu pada ibunya.


Sesaat kemudian, ayahnya datang dan sedikit terkejut melihat kedatangan Zhi.


"Zhivanna?"


“Ayah. Ayah, tolong Calvin! Denyut nadinya sangat lemah akibat ulah Erdo.” Zhi menitikan air mata seraya memeluk ayahnya.

__ADS_1


“Apa lelaki ini bisa menerimamu?”


 


“Iya, Yah. Kami sudah saling mencintai,” jawab Zhi sambil mengusap air matamya.


 


“Sebaiknya kamu menepi, biar Ayah yang urus.” Ayah Zhi mulai berkonsentrasi menyembuhkan Calvin.


 


 


“Zhi, sihir jahat yang masuk ke tubuh Calvin sudah tembus sampai ke hatinya. Dia harus berada di sini untuk beberapa hari agar pulih kembali, ada beberapa pengobatan yang harus ayah lakukan," ucap lelaki yang berdiri di samping ranjang setelah memusatkan pikirannya pada Calvin.


 

__ADS_1


“Tidak masalah, Yah. Yang terpenting dia bisa sembuh seperti sedia kala.”


Buknalah hal yang mudah untuk ayahnya Zhi menyembuhkan Calvin, apalagi lelaki itu harus membuat perlindungan ketat untuk rumahnya. Jika tidak, bisa saja Erdo akan mendatanginya dan merebut Zhi. Melemahkan segala yang ada di dalamnya.


Meskipun ayah Zhi tidak memiliki kekuatan sehebat Erdo. Akan tetapo dia mempunyai kelicikan yang bisa saja ampuh untuk mengelabuhi Erdo dan anak buahnya.


 


Saat-saat Calvin harus melawan hidup dan matinya, Zhi terus menangisinya. Sedetik pun dia tidak mau meninggalkan lelaki itu. Bahkan, hari-harinya selalu berada di ranjang tersebut demi menunggu kesadaran Calvin. Menunggu di mana saat lelaki itu membuka matanya untuk lertama kali.


“Calvin, bangunlah! Bukankah kau mencintaiku? Kamu berjanji akan menikahiku, kenapa kamu masih terus terlelap? Aku menunggumu di sini,” ucap Zhi sambil menghapus buliran air mata di pipinya.


Masih teringat jelas, Zhi menangis terakhir kali saat dirinya harus berpisah dengan kedua orang tuanya, saat dirinya harus hidup seorang diri di dalam liontin dan di bumi demi menjauhi Erdo. Namun, kini air mata itu menetes lagi karena rasa dalamnya terhadap Calvin. Terbukti saat dirinya menjadi sosok lembut untuk Zhi, dan tiba-tiba menjadi sosok pemberani saat melindunginya. Hal itu membuat Zhi merasa diistimewakan sebagai wanita karena sebelumnya dia tak pernah merasakan hal itu.


“Kau jahat Calvin! kau membiarkanku setiap hari menangisimu. Bangunlah! Kita akan hidup bersama selamanya. Bukankah itu impian kita?"


Dada Zhi kian sesak, dia tak sanggup jika harus melihat Calvin terus memejamkan mata. Rasa rindu kian mendalam saat dia mengingat keberaamaannya dengan lelaki yang dicintainya

__ADS_1


__ADS_2