
Sejenak, Zhi memusatkan pikirannya sambil menelan makanan yang baru saja disuapkan oleh Calvin. Lelaki itu pun meletakkan sendoknya, kemudian menyenderkan tubuhnya ke kursi dan menatap tajam ke arah wanita di sampingnya itu.
"Honey, apa ini yang membuatmu menjauhiku?"
"Pertanyaan macam apa itu? Pergilah! Jangan ganggu makan siang kami," ucap Calvin, pandangannya tak berkedip melihat wanita seksi di sampingnya, yang tak lain adalah Gracella, mantan kekasihnya.
Zhi yang duduk di seberang Calvin pun terdiam dan ikut memperhatikan gerak-gerik wanita itu. Dia melihatnya dari atas hingga bawah.
Jadi ini tunangan Calvin? Tua. Cantikan juga aku ke mana-mana. Apa Calvin buta memilih wanita model seperti ini? Lelaki tampan tapi seleranya seperti ibu-ibu. Calvin, Calvin. Zhi menggelengkan kepalanya keheranan.
"Sayang, aku masih lapar. Bisakah kamu lanjut menyuapiku?" ucap Zhi dengan nada manja pada Calvin.
"Hey! Perempuan sial! Apa kau tidak tahu, aku tunangannya Calvin. Jangan kegatelan menggoda lelaki orang!" seru Gracella pada Zhi, tangannya menggebrak meja. Banyak pasang mata yang langsung memandang ke arah mereka.
"Apa tunangan? Heloo! Kamu sudah lupa? Calvin sudah memecatmu jadi tunangannya. Makanya, jadi wanita jangan serakah!" Zhi menggelengkan kepalanya, senyuman lebar terukir di bibirnya.
"Alah, bilang aja kamu mau menikmati harta Calvin, kan?" tuduh Gracella pada Zhi.
"Cella! Jaga ucapanmu! Dia kekasih baruku. Jadi, jangan ganggu dia, paham!" Zhi tersenyum lebar mendengar ucapan Calvin yang mengakuinya sebagai kekasih barunya.
"Calvin! Aku tidak terima perlakuanmu yang seperti ini, aku mencintaimu, jangan tinggalkan aku!" mohon Gracella dengan raut wajah sedih, tetapi Zhi bisa membaca pikiran wanita itu. Bahwa dia hanya pura-pura dan sama sekali tidak bersungguh-sungguh mencintai Calvin.
"Omong kosong! Layani saja pria simpananmu itu! Aku sudah muak dengan tingkahmu, aku seperti orang bodoh yang mau dipermainkan sama wanita sepertimu! Aku menyesal pernah mengenalmu!" tutur Calvin sambil berdiri, lalu mendekat ke arah Zhi. Dia mulai menggenggam tangan Zhivanna dan berniat mengajaknya pergi.
__ADS_1
"Calvin! Aku belum selesai bicara. Kamu salah paham, Sayang. Dengarkan aku dulu!" Gracella berusaha menahan kepergian Calvin, dia juga ikut berdiri berusaha meraih tangan Calvin. Namun, lelaki itu mengibaskannya.
Zhi berdiri di belakang Calvin. Matanya melirik curiga pada Gracella. Dia merasa ada hal licik yang akan dilakukan gadis itu. Benar saja, saat Zhi hendak melangkahkan kaki, Gracella dengan sengaja menjulurkan kaki miliknya agar bisa membuat Zhi tersandung. Namun, karena Zhi bukanlah gadis biasa, dia pun bisa terhindar dari kelicikan Gracella dengan mudah.
Gracella tiba-tiba terjerembab jatuh ke lantai. "Auwh!" pekiknya sambil memegangi tubuh bagian belakang. Dia bisa menahan rasa sakit akibat jatuh, tetapi, rasa malu itu tidak bisa dia tahan. Semua orang di restoran itu memandangnya, ada sebagian yang juga menertawakannya.
"Calvin, tolong!" Gracella mengulurkan tangan meminta bantuan Calvin. Lelaki itu hampir saja ingin menolongnya, meraih tangan Gracella. Namun, Zhi segera menautkan tangannya ke lengan Calvin dan mengajaknya pergi.
Calvin hanya melirik tingkah Zhi, dia yakin bahwa Zhi yang membuat Gracella terjatuh. Bagaimanapun juga, Calvin masih sakit hati dengan mantan tunangannya itu hingga dia memilih untuk mengabaikannya.
Keduanya pun pergi berlalu dari restoran itu dan berjalan menuju lift untuk turun ke lantai dasar. Satu tangan Calvin menenteng paper bag. Satu tangannya lagi, menggandeng tangan Zhi.
"Calvin!"
"Hmmm," jawab Calvin tanpa membuka mulutnya. Keduanya terus berjalan sedikit laju.
"Kenapa terus memanggilku? Apa yang mau kamu sampaikan?" Calvin berhenti berjalan dan menatap Zhi.
"Dari tadi, kamu terus menggandeng tanganku, apa kamu mulai menyukaiku, Calvin? Yang tadi kamu bilang sama Gracella, apa itu benar? Aku kekasih barumu? Ah Calvin, aku sangat bahagia." Zhivanna memegang dadanya, pandangannya menerawang ke langit-langit mal, sambil tersenyum puas.
"Zhi, sudah bicaranya?" Calvin melepaskan tautan tangannya.
"Ajak aku terbang, Calvin. Aku sungguh sangat bahagia." Zhi mulai mengatakan sesuatu yang tak normal bagi Calvin.
__ADS_1
Tanpa aba-aba, Calvin langsung menggendong Zhi dengan cepat menuju tempat parkir.
"Calvin, turunkan aku!" Zhi memukul pelan dada Calvin beberapa kali dan mengayunkan kakinya. "Aku mau jalan aja, menikmati sepatu baruku," rengek Zhi.
"Kamu jalan seperti siput, lelet. Dan lagi, bibirmu apa tidak capek dari tadi banyak bicara tanpa jeda," ucap Calvin tanpa melihat ke arah Zhi, pandangannya fokus ke depan menuju pintu keluar.
"Calvin!"
"Apa lagi! Telingaku sudah mulai panas mendengar ocehanmu, Zhi. Berhentilah menjadi wanita yang cerewet!"
"Aku tidak akan berhenti bicara sebelum kamu menuruti kemauanku, Calvin. Apa kamu tidak kasihan kepadaku?" Zhi memasang wajah melas, Calvin pun mengalihkan pandangannya pada Zhi. Lalu menurunkannya.
Saat berada di dekat mobil Calvin, Zhi memonyongkan bibirnya sambil berkata, "Aku masih sangat lapar, aku ingin makan."
Calvin pun hampir menyemburkan tawanya, tetapi sedetik kemudian dia berhasil menutupnya dengan tangan. "Makan? Kamu mau makan seberapa banyak pun, bebas. Tapi nanti, kalau sudah sampai rumah, ya?" Calvin berusaha menenangkan Zhi, wanita itu sangat lucu di mata Calvin. Namun, terkadang sangat menyebalkan dan merepotkan.
"Calvin, satu lagi."
"Apa? Aku mau bertanya satu hal, tapi jawablah dengan jujur. Kamu, bohong pun, aku akan tahu."
"Apa? Bicaralah, cepat! Lagi pula, jika kau bisa membaca pikiranku, kenapa masih mau bertanya, kamu pasti juga mengetahui jawabannya, kan?"
.
__ADS_1
.
Bersambung ...