Wanita Dalam Liontin

Wanita Dalam Liontin
Cinta Sebenarnya


__ADS_3

"Zhi, jika sekarang aku bilang kamu jangan pergi, apa kamu akan menurut? Jika aku bilang, aku mencintai kamu, apa kamu akan bertahan denganku di sini?" Calvin menarik tubuh Zhi yang sudah membelakanginya. Tangan kekar lelaki itu langsung memeluk tubuh Zhi dari belakang, dia melingkarkan tangannya tepat di perut wanita itu.


"Calvin?" Zhi mengernyitkan dahinya, kali ini dia benar-benar tampak serius, berbeda dengan biasanya yang selalu melontarkan candaan, bahkan masalah hati selalu dibahasnya tanpa rasa sensitif. Namun, dia nekat menekan Calvin demi untuk mencari tahu keputusannya. Bagaimana hidup Zhi ke depannya, itu semua tergantung keputusan Calvin saat ini.


“Zhi, biarkan seperti ini sebentar saja." Dagu Calvin bertumpu pada bahu Zhi, lelaki itu tampak sangat menikmati keharuman khas Zhi dengan wewangian bunga lily casablanca. Zhi pun hanya terdiam dan menurut.


Calvin menggenggam tangan Zhi, netra mereka saling menatap penuh makna.


“Maksudnya?”


“Aku ingin kamu terus disampingku, menemaniku hingga akhir hayat nanti.”


Bola mata Calvin mulai sayu, pandangannya tak biasa, seolah menyimpan kesedihan yang dalam ketika membayangkan masa depannya dengan Zhi. Dia pun tidak tahu bagaimana lagi seharusnya dia bersikap.


“Apa kamu bersungguh-sungguh dengan ucapanmu?” tanya Zhi dengan wajah sendu, ia memikirkan kemungkinan terburuk jika ia dikhianati.

__ADS_1


“Apa yang keluar dari mulutku, datangnya dari sini.” Masih dalam genggaman, Calvin meletakkan tangan Zhi di dadanya.


“Aku percaya, tapi jika suatu saat nanti kamu berkhianat, apa kamu siap kehilanganku? Karena aku akan pergi dari kehidupanmu selamanya,” tutur  Zhi dengan wajah sendu.


Calvin terdiam sejenak, mendengarkan setiap baris kalimat yang terucap dari bibir manis Zhi. Lalu, dia pun berusaha meyakinkan wanita di depannya itu, agar mempercayai setiap ucapannya yang memang keluar dati lubuk hati terdalam.


“Kamu bisa pegang janjiku, Zhi. Percayalah, aku merasakan hal yang berbeda denganmu. Kamu bisa membuatku jatuh cinta lagi setelah hatiku mati, Zhi.”


Calvin mendekat, dia memeluk erat Zhi seolah takut kehilangannya. Pelukannya kali ini tulus, bukan karena sebuah ketidaksengajaan atau pun memang kebetulan. Dia benar-benar niat memeluk Zhi dengan hangat, seketika dia mulai lega dengan apa yang disampaikannya, tentang perasaan yang tersembunyi, tentang hati yang bimbang bagaimana harus mengambil sikap, kini sebuah kelegaan terpancar jelas di raut wajah Calvin.


Satu kalimat lagi berhasil dia ucapkan, kata 'cinta' yang sebelumnya menjadi kata yang sensitif dan menakutkan untuk Calvin, kini dia mampu mengucapkannya pada seorang wanita yang memang dicintainya. Calvin lalu mengecup lembut kening Zhivanna. Perlahan, mereka mulai hanyut dalam buaian satu sama lain. Calvin mulai sedikit terbawa suasana, bibir lembutnya mulai menyentuh bibir manis Zhi.


“Shit! Maaf … maafkan aku, Zhi.” Hanya sepersekian detik, bibir mereka sempat bersetuhan. Namun, Calvin segera melepaskannya.


“Memangnya kenapa? Aku tidak apa-apa kalau kamu menginginkanku.”

__ADS_1


“Hah! Kalimat macam apa itu, Zhi? Jangan pernah mengatakan hal itu kepada siapa pun, termasuk aku. Itu sangat tidak pantas. Kamu seorang wanita, kamu harus jaga harga diri kamu, atau jangan-jangan kamu pernah melakukannya sebelumnya?”


“Tentu saja tidak, bagaimana mungkin aku melakukannya, sedangkan mereka hanya kabur saat melihatku. Aku tidak pernah menemukan lelaki yang bertahan selama ini denganku, hanya kamu. Aku sudah menjadi milikmu Calvin, jadi kamu berkuasa atas diriku.”


“Tidak Zhi! Tunggu sampai aku menikahimu.”


“Kapan?”


“Secepatnya. Kalaupun harus besok, aku siap.”


 


“Baiklah, kita akan menikah besok.” Zhi terlihat bersemangat.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2