Wanita Dalam Liontin

Wanita Dalam Liontin
Mengecoh Musuh


__ADS_3

“Siapa yang kamu bawa, Zhi?” tanya Calvin. Langkah Calvin semakin cepat saat Zhi menariknya ke kamar lalu membuka pintu tersebut. Ada dua orang asing di dalam sana yang tengah duduk di sofa, tepat di dekat jendela. Keduanya mengenakan pakaian biasa, seperti manusia pada umumnya.


“Si—siapa mereka? Kenapa kau memasukkan orang asing di rumah kita?”


“Calvin, itu Ayah dan Ibu,” ucap Zhi tersenyum dan memperhatikan reaksi Calvin yang tampak terkejut.


“Ayah, Ibu? Kamu nggak sedang mengarang, kan, Zhi?” tanya Calvin memastikan seraya melirik ke arah Zhi. Dia melihat heran semua orang yang ada di dalam kamar tersebut. “Zhi, aku tahu orang tua kamu, dan mereka ... mereka bukan.”


Calvin memang hanyalah manusia biasa, baru kali ini bertemu dengan makhluk seperti Zhi dan juga orang tuangnya. Sehingga hal yang menurutnya aneh dan tidak masuk akal pun kini menjadi lumrah saat dia mulai masuk dalam kehidupan mereka.


“Calvin duduklah!” perintah seorang lelaki yang menepuk sofa di sampingnya, yang tak lain adalah Chris.

__ADS_1


“Ini kami, Nak. Ke sinilah! Kami akan menjelaskan semuanya,” ucap wanita paruh baya yang juga duduk di sebelah suaminya.


Calvin mendekat, meski ada keanehan saat ini, tetapi dia tetap mau mendekat karena penasaran. Zhi lantas ikut duduk bersama mereka.


“Apa yang dikatakan Zhi memang benar. Kami adalah orang tua Zhi, juga orang tua kamu sekarang."


"Lalu?" Calvin terus mendengarkan, memasang telinga dan matanya denag serius agar bisa menangkap apa yang akan disampaikan lelaki itu.


“Sebentar, aku masih bingung, sepertinya aku sangat sulit mencerna semuanya. Bagaimana kalian bisa datang kemari, dan kenapa wajah Ayah dan Ibu berbeda? Itu wajah orang lain, bukan?” tanya Calvin, dia masih sibuk menelisik penampilann orang tua Zhi tersebut.


“Ya, memang benar. Kita memang tengah menggunakan raga manusia untuk kita bisa hidup di bumi, berbeda dengan Zhi yang memang sudah ditakdirkan untuk bisa hidup di dua dunia," tutur Chris.

__ADS_1


“Ayah dan Ibu dibunuh Venus, Vin, karena aku kabur saat mencari batu di Gunung Alpheno.”


“Jadi, Ayah dan Ibu sudah meninggal?” Calvin lagi-lagi dibuat bingung oleh pernyataan orang-orang di sekitarnya saa ini. Dia hanya manusi abiasa yan tidak tahu menahu bagaimana kehidupan di dunia lain—Negeri Luchania.


“Ayah akan jelaskan lebih detail, jadi saat aku menyelamatkan Zhi dari tangan Erdo. Energi Ayah terkuras habis karena harus menransfer ke tubuh Zhi agar dia bisa sadar. Namun, sialnya kita ketahuan oleh Erdo sehingga dia murka dan mengambil semua energi yang tersisa. Dari situ tubuh Ayah melemah. Tapi, di sisi lain juga harus menyuruh Zhi kabur untuk melanjutkan pencariannnya menemukan batunya.  Setelah itu, saat Zhi kembali, kita sudah menjadi abu kematian.”


"Lantas, kenapa bisa hidup lagi jika kalian sudah menjadi abu?"


"Lebih tepatnya, sebenarnya kita memang belum mati dan yang dibunuh Venus dan Erdo hanyalah kloning. Kita hanya mengelabuhi Erdo agar dia terkecoh. Terpaksa kita gunakan pusaka batu saphire terakhir peninggalan eyang Zhi, dan untuk terakhir kalinya juga batu ini akan berfungsi sebagaimana mestinya. Setelah itu, kehidupan baru akan dimulai."


"Sudah pham, Calvin?" tanya Zhi pada lelaki yang duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Ya, aku paham sekarang. Jadi, Ayah dan Ibu mau merencanakan apa?"


__ADS_2