Wanita Dalam Liontin

Wanita Dalam Liontin
Masakan super


__ADS_3

Erdo dengan kasar mengempaskan Venus dengan kekuatan supernya. Lelaki itu berputar berulang kali di udara menembus dinding hingga hancur. Belum lagi, Hawa panas yang sudah Erdo tiupkan ke tubuhnya, membuat Venus meringis kesakitan. Namun, dia hanya pasrah saat menerima siksaan tersebut. Tak hanya itu, tubuhnya dirutuki oleh bebatuan yang menghujaninya, tak ada darah meski Venus dihujam batu tajam sekali pun.


Di Negeri Luchania, tak pernah ada malam. Tak ada perputaran waktu, hanya ada siang yang terang dan juga tak ada hujan. Kejadian penyiksaan Venus berlangsung cukup lama, membuat tubuhnya merasa lemah, sedikit pun dia tidak melakukan penolakan. Padahal jika mau, dia bisa saja mempertahankan fisiknya, mengukung tubuhnya dengan kekuatan yang bisa menolak penyerangan dari apa pun yang bisa menyakitinya.


Saat Erdo memutuskan untuk meyudahi siksaan itu, dia segera menghentikannya, lalu menarik Venus ke hadapannya. Kali ini, sang pangeran tamak itu merasa sedikit lebih baik karena dia sudah menemukan cara untuk mendapatkan Zhi kembali setelah dia memikirkan sebuah rencana. Termasuk, cara bagaimana untuk membuka portal penghubung tersebut.


"Kau. Dengar baik-baik perintahku!"


"Baik, Tuan." Venus membungkuk tanda hormat, dia menahan rasa sakitnya detelah berjuang melawan siksaan kejam dari Erdo beberapa saat yang lalu.


"Aku mengetahui seseorang yang membenci Zhivanna, dia bernama Gracella. Datanglah ke mimpinya dan dekati dia. Aku ingin, dia membukakan portal untuk kita bisa mengambil Zhi dari dunia manusia, paham?"


"Paham, Tuan. Saya akan melaksanakannya."


Di bumi manusia, Zhi baru saja menyelesaikan sarapan paginya. Dia berinisiatif untuk membuatkan masakan untuk Calvin, karena ingat lelaki itu sejak pagi juga belum mengisi perutnya. Dia mulai membuka kulkas, mengeluarkan semua bahan sayuran yang ada di dalamnya. Tangan halusnya yang tak pernah menyentuh pisau, kini mulai memegangnya dengan hati-hati. Sesekali menatap benda tajam itu.


"Kamu menyeramkan sekali, pisau. Awas ya, jangan menyakitiku. Berdamailah saat kupakai!" gumam Zhi seraya melihat ujung pisau yang tajam.


Zhi pun tak tahu harus memulai masaknya dari mana, dia bahkan bingung benda apa yang harus dipakai untuk tempat memasak.


"Apa harus memakai benda itu, ya?" Zhi menatap penggorengan yang terletak di rak lemari kaca. Wanita itu mendekat dan mengambilnya. "Oke, saatnya beraksi!"


Zhi penuh semangat saat dia menaruh penggorengan di atas kompor. Dia lalu memasukkan sawi hijau tanpa dipotong. Tomat, timun, dan wortel yang ada di depannya pun dia potong dengan ketebalan sempurna. Ya, dengan ukuran kurang lebih tiga sentimeter, wortel itu menghiasi penggorengan tanpa api.


"Bagaimana makanan ini bisa mateng jika tidak ada api yang memanaskan? Bodoh kamu, Zhi!" tuturnya pada diri sendiri. Wanita itu lalu mencoba menyalakan kompor listrik itu, awalnya sedikit kesusahan karena dia belum pernah sama sekali memakainya. Namun, lama-lama, api biru itu menyala sempurna. Terlukis kepuasan di wajahnya.


Zhi kemudian memasukkan telur ke dalam masakannya yang tak berbentuk masakan itu. Begitu percaya dirinya, saat dia mengambil dua telur dan memecahkannya begitu saja di dalam penggorengan beserta kulitnya. Akan tetapi, cangkang itu diambilnya lagi dan membuangnya. Dia pun beraksi mengaduk-ngaduk masakan itu dengan gaya chef profesional.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, Zhi menuangkan sedikit air agar tidak terlalu kering. Tak lama, sayuran itu pun mulai melemas, hingga dia berniat untuk menyicipinya. Saat dia mengambil satu potong wortel dengan sendok, dia meniupnya agar tidak terlalu panas. Lalu memasukkannya ke mulut.


"Ehm, hambar sekali. Bodoh sekali, mana bisa enak jika tidak ada bumbu, Zhi?" Zhi berbicara sendiri seolah menyalahkan dirinya yang begitu bodoh.


"Ah, aku harus memberinya apa coba. Aku mana tahu bumbu buat masak, repot sekali ternyata jadi wanita."


Zhi mengedarkan pandangan untuk mencari bumbu dapur yang sebenarnya dia pun tak tahu harus memasukkan bumbu apa. Di sudut dapur, terdapat wadah-wadah kecil yang bertuliskan garam, gula, lada, ketumbar, dan lain sebagainya. Zhi lalu memasukkan segala macam bumbu ke penggorengan tanpa memerhatikan takarannya. Baginya, saat dia sudah yakin memasukkan bumbu, masakannya sudah pasti akan sangat enak.


Drama memasak pun selesai, Zhi gegas menuju kamar Calvin dan mengetuknya beberapa kali. Calvin yang sudah dua jam menikmati tidurnya, kini dia merasa cukup untuk membuang kantuk dan lelahnya.


"Masuk!" teriak Calvin dari dalam kamar, dia masih enggan beringsut dari tempat tidurnya nan nyaman. Matanya masih terpejam, mengabaikan kedatangan Zhi.


"Calvin, bangun! Aku sudah memasak untukmu, makanlah!"


"Hah, memasak? Memangnya bisa?" tanya Calvin, lelaki itu langsung membuka matanya dengan sempurna, dia terkejut mendengar penuturan Zhi.


"Zhi? Kamu bisa masak nggak, sih?" tanya Calvin. Uap makanan itu sudah memenuhi kamar Calvin, baunya yang sedikit asing, membuat dirinya takut akan menyicipi makanan itu.


"Apa kamu sudah mencoba rasanya?"


"Aku yakin ini pasti enak, Calvin. Aku membuatnya dengan hati yang sangat gembira," tutur Zhi dengan tersenyum lebar.


"Ayolah, Vin. Cobain!"


"Kamu coba dulu."


"Aku masak buat kamu, tapi kamu tidak mau menghargai jerih payahku, lelaki macam apa itu?" Zhi menggerutu. Calvin pun ragu hendak menyicipi masakan Zhi yang berbentuk aneh.

__ADS_1


"Zhi, kamu tidak memotong sawinya? Lihat! Sudah seperti kain meteran, panjang. Bagaimana bisa aku menelannya?" Calvin mengaduk-ngaduk isi makanan yang di piring, masih di tangan Zhi.


"Vin, please. Kamu ada gigi, kenapa masih bertanya cara makannya? Ish."


Calvin pun memilih mengambil satu wortel dan menyuapkan ke mulutnya. Matanya membelalak sempurna, dia seakan ingin memuntahkannya, tetapi dia tahan. Calvin mengunyahnya dengan cepat dan menelannya kasar meskipun perut menolak dan ingin mengeluarkannya.


"Hebat, Zhi. Luar biasa! Masakanmu sangat enak, cobalah! Pasti kamu tidak akan menyangkanya."


"Benarkah? Terima kasih Calvin." Zhi mengulas senyum indahnya, kemudian menyuapkan satu wortel. Tanpa bicara dan aba-aba, dia lari terbirit-birit menuju kamar mandi Calvin dan memuntahkan makanannya.


Calvin tertawa puas, dia menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat Zhi yang sudah merasa tersanjung, wanita itu malah merasakan hal yang mengejutkan akibat ulahnya sendiri karena memakan masakan super aneh.


Calvin gegas beranjak dari tempat tidurnya, dia mengajak Zhi untuk turun. Perasaannya sudah tidak enak sekarang, dia yakin di bawah sana, dapurnya sudah seperti kapal pecah akibat perbuatan Zhi.


"Zhi, kita turun. Aku akan mengajarimu memasak."


"Baiklah."


Sesampainya di bawah, Calvin menebah dadanya layaknya seorang ibu yang gemas pada anaknya.


"Zhi, kau benar,-benar menguji kesabaranku," ucap Calvin, matanya mengitari pemandangan dapur yang begitu indah. Sudah seperti penjual di warung yang dapurnya penuh dengan barang tergeletak, serta sayuran yang berserakan di mana-mana.


.


.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2