Wanita Dalam Liontin

Wanita Dalam Liontin
Dikira Mati


__ADS_3

Semua pasang mata melihat ke arah Calvin, menatapnya heran dan penuh tanda tanya. Tak sedikit ada beberapa yang membicarakannya. Namun, mereka sebagai staf di kantor tersebut hanya menjaga sikap dan menyapa salam pada Calvin. Tak beberapa lama, sahabatnya--Liam, dia terlihat keluar dari lift, berkas yang dibawanya pun berjatuhan saat melihat Calvin. Liam terkejut akan kedatangan Calvin di perusahaan tersebut.


"Cal--Calvin! Calvin ... itu benar kamu?" Liam memasang wajah tak percaya. Dia mendekat dengan keraguan, disaksikan beberapa staf juga yang ada di sana.


"Kenapa sih?" tanya Calvin melihat Liam heran.


"Aku kira kau sudah mati, Bro!" Liam lantas menghambur ke pelukan Calvin. Desaat kemudian dia mengambil berkas-berkas yang berjatuhan di lantai.


"Mati? Bisa-bisanya menduga aku mati." Calvin masih dengan wajah datarnya, dia terus memperhatikan sekelilingnya, matanya mengitari satu persatu orang yang terus melihatnya.

__ADS_1


"Kenapa semuanya melihatku seperti itu? Apa aku ada yang aneh?" Calvin menelisik penampilannya, mengecek apakah ada yang salah dengan jasnya atau apa pun itu.


"Ya , pastilah mereka melihatmu aneh. Kamu sudah dikabarkan mati, entah tenggelam di laut mana." Liam menepuk bahu Calvin seraya menekan tombol open pada lift. Liam mengurungkan niatnya untuk mengurus urusannya di lantai dasar. Dia memilih untuk mengantar Calvin ke ruangannya dan ingin mengetahui selebihnya tentang sahabtanya yang sempat menghilang.


Sudah beberapa bulan lamanya ternyata Calvin menghilang, saat dirinya berada di dimensi lain, hari pun tak dapat dihitung. Meski terlihat sebentar dia berada di dunia Zhi yang hanya ada siang, tetapi baginya waktu itu hanyalah sebentar. Tak ada sedikit pun terbesit dalam pikirannya yang dia ternyata menghilang dari bumi selama berbulan-bulan. Calvin dan Liam pun menuju ruangan Calvin, mereka berbincang tentang semuanya.


"Ah, ternyata aku sudah menyusahkan banyak orang."


"Sebenarnya, apa yang terjadi? Ke mana kamu selama ini?" tanya Liam penasaran. Dia merasa bersyukur saat ini Calvin masih hidup dan berada di dekatnya sekarang. Padahal, Liam pun mengira Calvin sudah meninggal.

__ADS_1


"Kalau aku mwnceritakan semuanya, apa mungkin kau akan memercayainya?" Calvin mulai termenung, seketika bayangan Zhi berada di pelupuk mata. Apalagi, Zhi pernah berada di ruangan Calvin tersebut, menemaninya saat kerja. Rasa rindu tiba-tkba menyeruak dalam lubuk hatinya. Dia terpaku sejenak dengan pandangan kosong menatap sofa yang berada di sudut ruang tersebut.


"Kalau kau masih menganggapku sahabat, harusnya kamu tidak perlu meragukan saat mau bercerita."


"Zhivanna." Calvin singkat menyebut nama Zhi dan tak meneruskan lagi kalimatnya.


"Zhi? Kenapa dengannya? Sekarang di mana dia? Apa yang terjadi?" Liam memberondong pertanyaan yang membuat Calvin semakin bingung untuk menjelaskan.


"Ceritanya panjang, intinya aku sudah kehilangannya. Aku nggak tahu apa aku bisa bertemu lagi dengannya atau nggak. Tapi, asal kau tahu, aku sangat mencintainya." Tatapan Calvin mendadak sendu membayangkan Zhi. Harapan untuk hidup bersama wanita itu seolah kandas sebelum dia memulainya.

__ADS_1


__ADS_2