
Sesaat, setelah kepergian Gracella, Calvin menghela napas lega. Namun, Calvin masih bertahan menopong tubuh Zhi. Zhi tersenyum memperhatikan Wajah Calvin, lalu berkata, "Calvin, sampai kapan kamu akan terus mendekapku? Kamu pasti nyaman dengan posisi seperti ini, kan?"
Calvin terhenyak dan langsung menegakkan tubuh Zhi, kemudian dia melepas dekapannya. Lelaki itu sedikit tersipu malu karena seperti terhipnotis saat kedua pasang mata tersebut bertemu.
"Maaf," tutur Calvin, wajahnya memerah. Dia lalu kembali ke meja kerjanya, sedangkan Zhi malah mendekat ke arah Calvin. Wanita itu sedikit membungkuk, menumpukam kepalanya dengan kedua tangan di atas meja kerja Calvin. Zhi menatap wajah lelaki itu yang terlihat malu-malu.
"Kamu kenapa menatapku seperti itu? Kebiasaan," gumam Calvin.
"Aku lapar, Vin."
"Ya, Tuhan. Maaf, aku melupakan makan siangmu, padahal kamu tidak bisa menahan rasa lapar." Calvin menggeleng-gelengkan kepalanya karena sudah merasa bersalah, membuat seorang wanita kelaparan. Bahkan, meninggalkannya sendirian di jam makan siang. Seperti di kurung dalam ruangan.
"Sebentar aku pesankan dulu makanan dari luar, kamu bisa bersabar kan?" tanya Calvin. "Tunggulah di sana, jangan terus di sini. Aku tidak bisa berkonsentrasi kerja, Zhi."
"Apa kamu selalu seperti itu, Vin?" tanya Zhi sambil mengedipkan matanya, bulu mata yang lentik itu seolah menari di kelopak matanya.
"Maksudnya?" tanya Calvin.
"Kamu sepertinya memang tidak pernah bisa berkonsentrasi saat menatapku, Vin. Aku tahu kamu selalu terpesona dengan kecantikanku, ah terima kasih. Aku sangat tersanjung." Zhi mengukir senyuman yang dibuat semanis mungkin.
"Zhi, stop!" ucap Calvin singkat, dia mulai enggan menanggapi godaan wanita cantik di depannya itu.
"Vin, apa kamu tidak ada niatan untuk berterima kasih padaku?" ungkap Zhi, dia merasa sangat berjasa pada Calvin karena sudah menolongnya.
"Kamu tidak tulus melakukan itu? Aku pun tadi tidak meminta pertolonganmu, Zhi." Calvin menjawab dengan datar.
"Aku tidak yakin kamu bisa mengelak dari Gracella kalau aku tidak menolongmu, Vin. Berarti memang aku yang berjasa di sini, buktinya dia pergi dengan emosi, kan? Aku berhasli, tapi sayang aku belum menamparnya." Zhi terus membanggakan dirinya, Calvin mulai kesal, telinganya panas jika terus mendengar suara Zhi yang selalu memuji dirinya sendiri.
"Baiklah," katanya, "terima kasih." Calvin sedikit terpaksa menuruti ucapan Zhi.
__ADS_1
Zhi memundurkan dirinya dengan wajah putus asa dan kembali duduk di sofa. Wanita itu sebenarnya ingin sekali menggunakan kekuatan kalungnya, untuk melihat apa yang terjadi sebenarnya Gracella inginkan. Namun, dia sangat menahannya, meski Calvin tidak akan mengetahuinya, itu karena Zhi sangat menjaga kepercayaan Calvin. Lelaki itu sama sekali tidak suka jika Zhi terus memanfaatkan kelebihannya itu.
"Calvin, kenapa Gracella licik, ya? Kenapa kamu bertunangan dengan wanita aneh seperti dia? Memangnya tak ada wanita lain yang mau denganmu, yang lebih baik misalnya," tanya Zhi sedikit mencela Calvin.
Calvin yang baru saja melanjutkan kerja, dia mengurungkannya. Lelaki itu bersandar ke kursinya dan menatap Zhi dari kejauhan. Sesaat kemudian, Calvin beranjak dari meja kerjanya setelah menutup laptop. Dia kemudian menghampiri Zhi dan duduk di sebelahnya.
"Itu karena dia dulu baik, dan aku pikir dia memang tulus. Ternyata mataku tertutup karena cinta, kalau disuruh memilih, lebih baik aku sama sekali tidak mempunyai kekasih daripada merasakan dikhianati." Calvin berucap seolah ingin memulai curahan hatinya.
"Memangnya kamu benar-benar tidak menghamili Gracella?" tanya Zhi tiba-tiba, membuat mata Calvin membulat dengan sempurna.
"Kau gila! Tentu saja tidak, menyentuhnya saja tidak pernah!" serunya, bahkan aku jarang bertemu dengannya karena terlalu sibuk di kantor, mungkin itu juga alasannya dia bisa bebas berselingkuh di luar sana.
"Benarkah? Aku tidak yakin. Wajahmu saja seperti pria yang mesum!" Zhi terkekeh, wanita itu begitu senang memancing emosi Calvin.
"Hei! Kalau aku mesum, dari awal aku pasti sudah memakanmu, Zhi!" Calvin menatap tajam Zhi, tetapi tatapan itu hanya untuk sekadar menakutinya, meskipun dia tidak takut sama sekali pada lelaki itu.
Zhi terus tertawa melihat ekspresi Calvin yang seperti orang bodoh. Tiba-tiba saja, perut Zhi mulai berulah, selalu menimbulkan suara yang cukup keras terdengar di telinga Calvin.
"Tunggu saja dulu, sabar. Sampai kapan kamu akan jadi wanita yang rakus? Apa kamu tidak takut gendut jika banyak makan?"
"Aku tidak mungkin gendut, Vin. Marahlah! Aku suka melihatmu marah, Vin. Wajahmu sangat menggemaskan seperti kambing." Zhi tertawa terbahak-bahak sambil menepuk paha Calvin cukup keras. Calvin yang mendengar kata 'kambing', dia mengernyitkan dahinya. Bagaimana mungkin dirinya disamakan dengan seekor kambing.
"Dasar! Wajah setampan ini kau bilang kambing, Zhi?" Zhi semakin tergelak sambil terus memukuli Calvin. "Kalau mau tertawa, tertawa aja. Jangan menyakiti pria!" tukas Calvin saat merasakan pahanya mulai panas akibat pukulan telapak tangan Zhi.
"Zhi!" teriak Calvin, tangan Calvin menahan kedua lengan Zhi agar berhenti memukul. Wanita itu pun tersentak dan diam seketika. Wajah mereka langsung berhadapan, hanya berjarak beberapa jengkal. Cukup lama manik indah itu saling beradu, Calvin hampir saja mendekatkan wajahnya, fokus pada bibir tipis yang merona milik Zhi.
"Astaga!" Calvin terhenyak, dia melepas genggamannya pada kedua lengan Zhi, lalu mengusap wajahnya kasar.
"Kenapa tidak dilanjutkan, Vin? Apa kamu berniat menciumku?" tanya Zhi tanpa malu. Wajah Calvin sudah mulai merah padam. Dia tak tahu harus bersikap seperti apa menanggapi Zhi.
__ADS_1
"Zhi, apa kamu tak malu mengucapkan kalimat seperti itu?" tanya Calvin heran.
"Aku, kan, hanya memastikan, Vin. Kenapa mesti malu? Apa kamu sudah mulai menginginkanku?" Zhi begitu ringan mengatakan sesuatu yang membuat Calvin resah dan sangat susah diterima akal sehatnya.
"Zhi, diamlah! Aku sudah mulai lelah mendengar celotehmu." Calvin berdiri, beranjak menuju meja kerjanya lagi.
Tak lama kemudian, Liam mengetuk pintu dan berteriak, "Bos! Makanannya datang."
"Masuklah!" sahut Calvin dari dalam ruangan.
Liam pun masuk, tetapi dia langsung mengedarkan pandangannya ke sudut ruang, mencari keberadaan Zhi.
"Hai, Zhivanna cantik!" sapanya sambil melambaikan tangannya dengan lentik.
"Hai, Liam." Zhi menyambutnya dengan senyuman.
"Taruh makanannya di meja, Li! Dan pergilah!" teriak Calvin.
"Kenapa takut sekali kalau aku akan menggoda Zhi, Bro? Sepertinya kamu sudah mulai resah karena ketampanan kita tersaingi." Liam tergelak, tetapi dia segera pergi meninggalkan ruangan itu sebelum Calvin menimpuknya.
_______
Sore hari saat senja menyapa, Calvin dan Zhi menikmatinya di sebuah danau. Di mana Calvin sering menghabiskan waktunya sendirian di sana saat jenuh setelah bekerja.
"Wow! Indah sekali, Vin. Sering-sering ajak aku kemari, ya." Zhi merentangkan kedua tangannya menikmati alam yang begitu indah. Dia menghirup udara yang begitu segar sambil menatap senja, cahaya matahari itu hampir saja tenggelam dari peredarannya.
Calvin terus menatap Zhi yang berdiri di belakangnya. Tanpa dia sadari, hatinya mulai bergejolak mengingat jantungnya yang sempat berdegup kencang saat di kantor tadi. Jarak yang begitu dekat dengan Zhi membuat hati dan pikirannya tak dapat fokus. Dia terus terbayang bibir Zhi yang begitu manis.
.
__ADS_1
.
Bersambung ...