
“Pelankan suaramu, Vin! Jangan sampai kamu membangunkan singa yang sedang tertidur.” Armand memperingatkan Calvin. Calvin pun menepuk dahinya diiringi dengan senyuman jahil.
Satu menit kemudian, Eryn menghampiri Armand dan Calvin di meja makan. Sepertinya sinetron kesukaannya telah usai. Dia memilih bergabung mengobrol dengan anak serta suaminya.
“Calvin, mama mau tanya. Itu tadi ... siapa namanya? Kenapa terlihat seperti bukan orang sini, ya? Dia berasal dari mana sih? Kota mana?” Eryn menghujani pertanyaan pada Calvin, wanita itu tampak sangat penasaran pada sosok Zhi.
“Mama, bukankah tadi sudah menanyakan hal itu. Kenapa bertanya lagi?” Calvin mengelak menghindari jawaban yang belum dia pikirkan sebelumnya.
“Calvin, apa kamu menyukainya?” tanya Eryn, padahal pertanyaan yang semula belum juga dipertegas oleh Calvin.
“Ma, kita hanya berteman jika di luar kantor. Dan di kantor pun, kita hanya sebatas rekan kerja. Tidak ada perasaan suka atau yang lainnya, yang jelas saat ini Calvin ingin sendiri dulu,” tegas Calvin yang didengar oleh kedua orang tuanya.
Armand yang sejak tadi sibuk menyuapkan makanannya pun ikut memperhatikannya dengan saksama. Kemudian, satu kalimat keluar dari mulutnya setelah dia menyelesaikan makannya.
“Aku mendukungmu dengannya, Vin. Daripada dengan Gracella. Dia lebih cantik dan lebih segala-galanya.” Armand berkata tanpa menyadari bahwa istrinya juga mendengar ucapannya yang berada tepat di sampingnya.
“Papa!” seru Eryn sambil mendaratkan cubitan di paha lelaki itu. Kecemburuan itu wajar dirasakan pasangan suami istri walau pernikahan mereka sudah berumur puluhan tahun.
______
Denting jam yang menempel di dinding menunjukkan jarum pendek di angka empat. Kebersamaan yang mereka nikmati beberapa jam yang lalu, sudah cukup untuk mengobati rasa rindunya terhadap Calvin.
Akhirnya saat yang di tunggu-tunggu Calvin datang juga. Kedua orang tuanya berpamitan untuk pulang. Setelah orang tuanya pergi dan pagar rumah itu tertutup, Calvin dapat menghirup udara kebebasan. Dia layaknya seseorang yang baru saja terjebak dalam masalah besar yang telah terselesaikan.
Calvin dengan cepat melangkahkan kakinya, sedikit berlari menaiki tangga dan menuju kamar di mana Zhi berada. Dia lalu mengetuk pintunya. Lelaki itu seperti tak sabar ingin cepat menemui Zhi, mungkin saja dia sudah rindu, atau memang ada hal yang ingin dia bicarakan.
__ADS_1
“Zhi, apa kamu tidur? Boleh aku masuk?” seru Calvin sambil mengetuk daun pintu itu.
“Masuklah! Aku masih hidup!” teriak Zhi dari dalam. Mendengar itu, Calvin menaikkan satu alisnya, dahinya berkerut. Bahasa Zhi memang selalu aneh jika didengar.
Hidup? Apa kau bisa mati juga, Zhi? Ah entahlah, memikirkan hal itu tidak akan ada habisnya, gumam Calvin seraya membuka pintu.
“Astaga! Kenapa dinginnya seperti di kutub?” pori-pori Calvin langsung merinding saat memasuki ruangan dengan suhu kurang lebih 10°Celcius.
Dia mendapati Zhi yang tengah terlentang di atas ranjang. Sejak awal Calvin meninggalkannya, posisinya sama. Dia seperti tak mengubah posisi tidurnya sama sekali.
“Zhi, duduklah! Jangan tidur seperti itu, mataku akan ternoda!” tukas Calvin, seraya melirik ke arah Zhi.
“Jangan muna deh, Vin! Aku tahu, mata lelaki pasti akan jelalatan jika melihat wanita seksi. Kamu mengakui kan kalau aku seksi, makanya kamu nggak sanggup melihatku?” Zhi tertawa menggoda. Dia beringsut dari tidurnya dan duduk di tepi ranjang.
“Zhi, apa kamu bisa tidur?” tanya Calvin, dia membalikkan badannya, bersender pada besi pembatas balkon itu.
“Nggak, aku sangat kegerahan. Aku tidak bisa tidur. Padahal pendingin ruang sudah maksimal.”
“Maksudku bukan itu, kamu tidur seperti orang atau apa? Kamu bisa memejamkan mata, kan?” Pertanyaan Calvin membuat Zhi tercengang, dia tidak habis pikir dengan pertanyaan Calvin.
“Calvin! Berapa kali aku bilang, aku sudah berwujud manusia, jadi aku bisa merasakan semuanya, bahkan aku juga buang air seperti kamu!” Zhi emosi, ingin rasanya wanita itu menggigit Calvin karena melontarkan pertanyaan bodoh baginya.
Wanita itu mendekat ke arah Calvin sambil berkacak tangan dan mengentakkan kakinya kasar ke lantai.
"Hei! Aku hanya bertanya. Apa ada yang salah dengan pertanyaanku?"
__ADS_1
"Tidak salah, hanya saja itu seperti pertanyaan orang bodoh, Calvin! Kamu tahu sekarang bentukku adalah manusia, kenapa masih terus bertanya?"
"Baiklah aku tidak akan bertanya sekarang. Tapi aku minta sama kamu, jangan gunakan kelebihanmu itu. Bersikaplah seperti manusia normal. Bisa?" tanya Calvin sedikit menegaskan agar Zhi tak terus-terusan menggunakan kekuatannya.
"Kenapa begitu? Itu akan lebih mempermudah, Calvin!" bantah Zhi seakan tak setuju dengan penuturan Calvin.
"Turuti kemauanku jika ingin terus bersamaku!" ucap Calvin, manik indah itu menatap lekat Zhi yang berdiri di depannya.
"Calvin, kamu tidak bisa berkata seperti itu. Saat ini, aku memang sudah jadi milikmu. Karena kamu mengambilku. Kamu bertanggung jawab atas diriku. Jadi mau tidak mau, ya harus mau. Aku akan menunggu cinta yang tulus darimu," Zhi memandang Calvin tanpa ada rasa sungkan atau canggung.
"Zhi, sebegitu yakinkah aku akan mencintai kamu?" Calvin terkekeh, dia sendiri pun tak percaya akan bisa jatuh cinta lagi atau tidak sejak patah hati karena Gracella. Apalagi dengan Zhi yang notabenenya bukan berasal dari bumi.
Namun, dengan kehadiran Zhi, dia memang sedikit melupakan kisah cintanya yang kelam. Kemunculan Zhi seolah mengubah kehidupannya yang sempat gelap. Bagai lentera yang menerangi jiwanya.
"Aku sangat yakin, Calvin. Karena baru kali ini ada lelaki yang bisa menerima kehadiranku. Sebelumnya, semua akan kabur begitu saja dan mengira aku hantu," terang Zhi menjelaskan pada Calvin. Wanita itu kemudian duduk di kursi yang terletak di sudut balkon itu.
"Jadi, bersediakah kamu untuk tidak menggunakan kelebihanmu itu?"
.
.
Bersambung ...
Guys, jangan lupa komen dan likenya ya, Hadiah juga sangat diterima. Terima kasih😍♥️
__ADS_1