
Kali ini, Erdo tengah menikmati suasana hatinya yang tengah bahagia. Dia sungguh tidak sabar ingin bertemu Zhivanna, sang pujaan. Namun, Venus masih belum berangkat, dia masih memikirkan cara supaya dia bisa memasuki bumi dengan mudah, tanpa harus meminta bantuan Erdo. Venus tahu betul, Erdo akan sangat murka jika dia memiliki anak buah yang tidak dapat berpikir kritis.
Apalagi, jika dia berhasil memasuki dunia manusia, dia harus menyusun rencana lagi agar tidak membuat kegaduhan di seluruh bumi. Sang penguasa Negeri Luchania itu memerintahkan Venus untuk membawa Zhi dengan cara yang halus agar tak menimbulkan kekacauan.
...***...
Di sebuah restoran, pikiran Calvin terus bergelut dengan banyak sekali pertanyaan. Dia selalu teringat apa pun yang pernah Zhi ceritakan. Temasuk, Erdo akan mengetehaui jika Zhi sampai menggunakan kekuatan dan menghebohkan bumi manusia. Keberadaannya pasti akan tercium oleh si penguasa itu.
Beberapa saat setelah makanan datang, Calvin masih belum menyuapkan makannya, sedangkan Zhi, dia mulai mengunyah tak berhenti tanpa memikirkan ketakutan akan dirinya yang terancam.
"Zhi, bagaimana nanti jika dia mengetahui keberadaanmu?" tanya Calvin seraya mengaduk-aduk makanan yang ada di hadapannya.
"Tidak perlu khawatir, Vin. Jika memang aku harus pergi, aku akan menerimanya," tutur Zhi dengan santainya. Dia seolah tak peduli dengan maksud pertanyaan Calvin yang mengkhawatirkan dirinya.
"Apa kamu benar-benar akan meninggalkanku?" Calvin meletakkan garpu yang tadi dia gunakan untuk mengaduk spaghetti-nya.
"Cie ... kamu takut kehilanganku, ya?" Zhi malah menggoda Calvin, padahal wajah lelaki itu sudah pucat karena gelisah terus memikirkan akibat dari kejadian tadi.
"Zhivanna, aku serius. Bisakah kamu menjawabnya dengan sungguh-sungguh?" tanya Calvin lagi sedikit tegas, karena dia kesal saat mendapat jawaban Zhi yang malah menganggapnya lelucon.
"Calvin, aku sudah bilang, kan. Jika aku harus terpaksa pergi, aku akan menerimanya. Aku pasrah, Vin, karena memang Erdo dan anak buahnya tak terkalahkan. Kekuatanku hanya seujung kuku jika dibanding mereka. Tapi ada satu orang yang bisa membantuku saat membutuhkan pertolongan," terang Zhi. Dia kembali mengunyah makanannya.
"Siapa, Zhi?" tanya Calvin penasaran.
"Yang jelas, dia orang yang paling aku cintai." Zhi tersenyum saat pandangannya menerawang ke langit-langit restoran.
"Apa ... apa kamu sudah mempunyai kekasih? Atau lelaki yang kamu cintai?" Bibir Calvin bergetar saat dia menanyakan hal itu, dia seperti belum siap sakit hati lagi jika benar Zhi memang sudah mempunyai kekasih.Tergambar jelas wajah kecemburuan lelaki itu. Meskipun dia sendiri pun masih bingung bagaimana perasaannya ke Zhivanna.
"Hah, kekasih? Bagaimana bisa pertanyaan seperti itu keluar dari bibir kamu, Vin? Bukannya aku sudah menjelaskan semua tentang hidupku? Hidup yang penuh aturan dan syarat agar aku bisa bernapas lega. Harusnya kamu mengerti jawabannya." Zhi mendengus kesal.
__ADS_1
Namun, setelahnya Zhi tersenyum. "Kamu cemburu ya, kalau aku memiliki lelaki lain? Kamu pasti sudah mulai menyukaiku, kan? Hayo ngaku ...." Zhi semakin giat menggoda Calvin.
"Bukan begitu Zhi, aku hanya ... aku cuma ingin tahu. Tapi, kalau kamu tidak ingin memberitahuku, baiklah. Aku tidak memaksa."Calvin menyerah, dia memilih diam dan melanjutkan makannya.
"Dasar cowok ngambekan!" Zhi mencolek ujung hidung Calvin, dan menatap lelaki itu saat sedang mengunyah spaghetti-nya.
...***...
Malam hari, tampak bulan purnama begitu indah menghiasi langit dengan taburan bintang mengelilinginya. Setelah tenggelamnya fajar, langit tak lagi gelap karena sinar bulan purnama yang terang mulai menerangi buminya.
Zhi dan Calvin baru saja sampai rumah, mereka berjalan beriringan menaiki tangga. Tiba-tiba, Zhi memulai pembicaraan memecah keheningan satu sama lain. Calvin masih sedikit penasaran karena beberapa pertanyaannya tadi siang tak mendapat jawaban dari Zhi. Namun, dia enggan menanyakannya lagi, sebab dia tidak mau memaksa sesuatu yang membuat Zhi tidak nyaman.
Zhi melarang Calvin untuk masuk ke kamarnya. "Calvin, jangan memanggilku atau mengetuk pintu kamar, aku sedang melakukan hal penting, jadi aku mohon jangan menggangguku, ya."
"Hal apa itu?" Calvin terlihat penasaran dengan sesuatu yang akan dilakukan Zhi.
"Baiklah, semoga mendapatkan hasil." Calvin berjalan menuju kamarnya, sedangkan Zhi, dia membuka pintu kamarnya, dia melihat Calvin dengan raut wajah sayu.
Saat siang tadi dia begitu santai, kini dia mulai resah. Zhi hanya berharap, sesuatu yang akan dilakukannya menghasilkan jalan keluar tanpa harus menyiksa hatinya, karena Zhi memang sudah berharap lebih pada Calvin.
"Calvin!" teriak Zhi sebelum dia memasuki kamarnya.
"Apa?" Calvin menengok ke belakang. Lelaki itu sekilas menatap wajah Zhi yang sayu, kemudian dia berjalan mendekatinya. "Ada apa, Zhi? Kamu kenapa?" tanya Calvin, dia memegang kedua lengan Zhi.
"Aku hanya ingin mengatakan, jika memang aku harus pergi, berharaplah aku kembali! Karena harapanmu akan menguatkan pikiran dan hatiku, aku pasti akan bisa merasakan hal itu." Zhi yang tak pernah memasang wajah pilunya, kini mampu menarik perhatian Calvin. Namun, Zhi tidak pernah mau mengeluarkan air matanya, karena dia adalah wanita kuat.
"Hei, apa yang kau katakan ini, Zhi? Kenapa harus mengatakan sesuatu yang tidak akan terjadi? Aku percaya, kamu akan terus bersamaku, di sini. Jadi, jangan pernah ucapkan hal itu lagi. Paham?" Calvin menangkup kedua pipi Zhi. Dia menatap lekat manik indah berwarna biru milik Zhi.
"Ya, semoga tidak akan terjadi apa-apa, Vin. Ingatlah, aku tidak akan rela kau bahagia jika bukan denganku." Zhi mempertegas ucapannya setelah tak memasang wajah sedihnya lagi.
__ADS_1
"Jadi, maksudmu ... aku akan menderita jika tidak bersamamu?" Calvin menggeleng-gelengkan kepalanya.
" Calvin, apa kamu sadar apa yang kau lakukan sekarang ini?" Zhi membalas tatapan Calvin yang sejak tadi memandangnya tak berkedip dengan kedua tangan berada dikedua pipi Zhi.
Calvin terkesiap, dia langsung melepaskan tangannya dan berkata, "Maaf."
"Buat apa minta maaf, aku suka. Kamu sangat manis jika begitu tadi, ah bukan, maksudku romantis. Aku hampir melulakan kata-kata itu karena terlalu lama menyendiri. Malangnya nasibku." Zhi berdecih sambil memijat pelipisnya.
"Tidak ada kata romantis, Zhi, Kamu selalu merusak suasana! Aku mau ke kamar, lanjutkan aktivitasmu!" Calvin berlalu pergi, Zhi hanya tertawa memandang punggung Calvin yang semakin jauh menghilang memasuki kamar.
"Calvin!" seru Zhi lagi.
"Apalagi, Zhi?" Calvin berbalik dan melirik sedikit tajam. Zhi hanya melempar ciumannya ke angin sebagai tanda ucapan selamat malam.
"Selamat malam, lelaki tampan!" seru Zhi, dia mencium telaoak tangannya dan meniupnya ke arah Calvin. Kiss bye.
Calvin pura-pura mendengus kesal, tetapi saat berbalik dan membuang muka, dia malah tersenyum mengingat kelakuan Zhi yang tak pernah punya rasa malu dengannya. "Dasar, wanita aneh. Kenapa sangat menggemaskan!" gumam Calvin lirih seraya membuka pintu kamarnya.
...***...
Setelah Zhi selesai membersihkan diri, dia mulai duduk bersila di ranjang. Zhi memejamkan matanya, sesekali dia menarik napas panjang, pikirannya terhubung pada seorang lelaki yang dapat membantunya. Zhi mensinkronkan antara hati dan pikiran untuk mendapatkan keterangan.
.
.
Bersambung ...
Hay, readers baik. Author minta bantuannya ya, tolong berikan komen dan likenya, biar author semangat kasih bab baru😥 Terima kasih.
__ADS_1