Wanita Dalam Liontin

Wanita Dalam Liontin
Celakanya Calvin


__ADS_3

Dari awal, Zhi selalu menolak mentah-mentah tawaran Erdo yang akan menjadikannya sebagai ratu di Negeri Luchania jika dirinya mau menikah dengan Erdo. Begitu juga dengan orang tua Zhi, mereka tidak rela anaknya menikah dengan lelaki jahat seperti Erdo.


“Hei! Lepaskan dia!” teriak Calvin dari kejauhan. Dia berlari mendekat ke arah Zhi dan Erdo berada.


“Calvin, jangan mendekat! Pergi dari sini!” perintah Zhi yang masih berada di dekapan Erdo.


“Tidak, Zhi! Aku akan menolongmu!" seru Calvin. Dia tidak tahu apa yang sebenarya terjadi di antara mereka. Namun, melihat ekspresi Zhi, Calvin bisa menebak bahwa wanita itu sedang dalam kesulitan.


Calvin sadar, dirinya hanyalah manusia biasa yang tidak mampu melawan kekuatan makhkuk seperti Erdo. Akan tetapi dia harus tetap menghadapinya, Calvin sudah menduga sebelumnya, jika hal seperti ini akan terjadi. Memiliki Zhi adalah salah satu resiko besar yang harus di hadapinya, meskipun dia tahu bisa mengancam nyawanya.


“Hahahaha … bisa apa kamu, hah?” ejek Erdo yang melihat Calvin hanya sebatas manusia kerdil yang tidak akan mampu melawan dirinya. Kesombongannya memuncak ketika Calvin mulai mendekat dan menantangnya.

__ADS_1


Dengan langkah pasti, Calvin menuju tempat di mana Erdo menahan Zhivanna. Zhi terus berteriak untuk menyuruh Calvin menjauh. Namun, tetap saja Calvin malah semakin mendekat. Ia lalu berusaha menyerang Erdo hanya dengan menggunakan tenaga yang dimilikinya, yang bahkan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kekuatan Erdo.


Calvin kini sudah tak berjarak dengan Erdo. Dia menatap tajam mata lelaki yang berdiri di depannya itu. Calvin berusaha merebut Zhi dan melayangkan beberapa pukulan pada Erdo. Percuma, itu tak berpengaruh apa pun di tubuh Erdo. Ia malah tertawa terbahak-bahak melihat Calvin seperti orang bodoh.


“Calvin berhenti, menjauhlah! Kamu akan celaka!” teriak Zhi memperingatkan.


“Dia sangat berani, Zhi. Apa kamu sudah sangat jatuh cinta dengannya?” tanya Erdo dengan wajah yang menjijikkan."Bahkan, sepertinya dia rela mati untukmu."


“Baiklah, aku akan pergi, tapi setelah aku menjadikannya mainanku. Hahaha."


“Jangan pernah kau menyentuhnya, Erdo!”

__ADS_1


Erdo tak menghiraukan ucapan Zhi, ia mulai berkonsentrasi dan melakukan serangan tak kasat mata pada Calvin hingga tubuhnya tersungkur lemah. Berkali-kali kekuatan sihir itu mengenai dada Calvin, dia terpental jauh. Zhi semakin histeris melihat Calvin yang terus diserang oleh Erdo, sedangkan dirinya tidak bisa berbuat apa-apa karena masih terikat dengan tali sihir di tubuhnya.


Setelah puas mencelakai Calvin, Erdo menghilang dengan tawanya yang menggema di bukit sepi itu. Zhi pun terlepas dari kekuatan sihir tersebut, ia lalu berlari secepat kilat menghampiri Calvin yang sudah tak sadarkan diri. Pukulan tak kasat mata dari Erso mampu melumpuhkan Calvin seketika, menghilangkan kesadarannya.


"Hanya kali ini aku melepasmu, Zhi. Dan aku pasti akan kembali sampai kamu mau ikut denganku!"


Zhi tak menjawab lontaram kalimat yang Erdo keluarkan. Fokusnya hanya pada Calvin yang sudah lemat tak berdaya.


Rasa khawatir dan gelisah menyelimuti hati Zhivanna. Dia tidak menyangka nasib cintanya akan seperti ini. Padahal, baru saja dia merasakan kebahagiaan dengan Calvin. Tanpa Zhi sadari, buliran hangat menetes dari matanya. Sebelumnya sekali pun dia tidak pernah menangis, karena baginya air mata terlalu berharga jika di buang sia-sia.


Zhi memangku kepala Calvin. Tangisnya semakin pecah saat ia berusaha menyelamatkan nyawa Calvin, tetapi tak kunjung berhasil. Darah yang megalir dari mulut Calvin terlihat mulai menetes semakin banyak. Ketakutannya akan kehilangan Calvin semakin membuat dirinya susah untuk berkonsentrasi.

__ADS_1


__ADS_2