Wanita Dalam Liontin

Wanita Dalam Liontin
Lenyap


__ADS_3

Sementara itu, Chris terus fokus menghancurkan Venus. Kali ini begitu mudah untuk melenyapkan lelaki itu dengan batu Saphier yang dipegangnya, menghujani Venus dengan bulatan cahaya adalah cara terampuhnya. Meski Venus berusaha melawan, tetapi tetap saja prajurit Erdo itu kualahan menerima hantaman yang perlahan menghancurkan tubuhnya. Tangan, kaki, kepala, bahkan satu persatu terlepas dari tubuhnya. Tak lama kemudian, Venus berubah  menjadi abu kematian, dia sudah lenyap dan tidak akan mungkin hidup kembali.


Melihat Calvin tengah berjuang melawan Erdo dan terus menerima serangan, Chris tak tinggal diam. Setelah melenyapkan Venus, dia kemudian membantu Calvin. Dari kejauhan, Chris memasang ancang-ancang, dia mengarahkan batu saphier tersebut pada Erdo, aliran cahaya kilau berwarna seperti api kembali mengenai tubuh lelaki itu. Namun, Erdo masih berusaha menolaknya.


“Calvin, kemarilah!” panggil Chris pada menantunya dan mengangguk memberikan isyarat untuk menyatukan energi. Kedua lelaki itu kini saling mempertemukan telapak tangan satu sama lain. Menempelkannya dengan erat.

__ADS_1


Dentuman keras terdengar saat bulatan cahaya berwarna biru mengenai Erdo. Namun, apa yang dilakukan mereka justru membuat Erdo semakin membesar sepuluh kali lipat. Sesaat kemudian, giliran Erdo memberikan serangan maut pada Calvin dan Chris. Erdo tertawa dengan lantang saat tubuhnya menjadi raksasa besar yang sedikit saja dia bergerak, sudah dipastikan akan behasil melenyapkan dua lelaki tersebut. Erdo mulai berteriak, mengumpulkan segala energinya. lSemua kekuatan yang ada dalam tubuhnya dan bersiap untuk menyemburkan hawa panas yang akan membakar alam Luchania.


Pergerakan sihir Erdo sudah dipelajari oleh Chris, sehingga lelaki itu bisa dengan mudah membaca semua sihir yang dilakukan Erdo dan mengetahui titik kelemahannya. Sihir itu berasal dari orang tuanya terdahulu dan bisa saja melemah jika terus-menerus digunakan. Calvin dan Chris sengaja memancing kekuatan Erdo agar dia terus menguras energinya.


Saat Erdo menyemburkan hawa panas, Zhi dan Emma segera mendatangi Calvin juga Chris berniat untuk berlindung. Keempat orang tersebut kemudian saling bergandengan, tak ada rasa panas sedikit pun yang mereka rasakan karena berlindung pada energi yang berasal dari batu saphier tersebut. Perhatian mereka mengarah pada Erdo yang terlalu sombong dengan kekuatannya kali ini, padahal dia sudah tahu akibatnya akan fatal jika dia sudah membesar dan mengeluarkan hawa panas tersebut dari tubuhnya.

__ADS_1


Calvin dan Zhi saling tatap, tangannya menggenggam erat satu sama lain. Tak menunggu lama, semua kekuatan yang dihasilkan oleh batu opal dari keempat orang tersebut bersatu dengan batu saphier, membentuk sebuah bulatan besar yang siap menyerang lawan.


Tak ayal lagi, ledakan yang sangat keras pun tak terelakan lagi. Suaranya bagaikan menghentikan detak jantung manusia. Ledakan dahsyat akibat dari benturan cahaya biru bercampur merah seperti api terlihat begitu membara, dilapisi kabut asap hitam pekat, terdengar hingga ke tempat yang jauh. Gema dan getaran yang ditimbulkannya, berhasil membangunkan hampir semua makhluk di alam Luchania.


Erdo yang semula membesar, kini bahkan tak ada lagi wujudnya. Lelaki itu hancur menjadi kepingan, seperti percikan api yang menyala. Wajah puas dan juga lega terlihat jelas di wajah Chris dan juga ketiga orang lainnya. Calvin tersenyum, begitu juga dengan Zhi dan juga Emma.

__ADS_1


Pada akhirnya, Erdo sang penguasa alam telah musnah. Lelaki tamak dan juga jahat itu telah berubah menjadi abu. Seharusnya, sang penguasa tidak akan pernah mati dan kekal abadi. Namun, batu saphierlah yang hanya mampu mematikannya dan Erdo pun tidak mengetahui akan hal itu, lelaki itu tidak tahu jika Chris mempunyai batu yang mampu melenyapkannya. Dia hanya tahu, dirinya akan terus kekal menjadi makhluk abadi yang tak terkalahkan karena energi sihir terkuat memang hanya dimiliki oleh orang tua Erdo yang diturunkan kepadanya.


__ADS_2