
"Eh, siapa?" Zhi membalikkan tubuhnya. Dia begitu terkejut saat melihat wanita yang berumur sekitar 40 tahun itu. "Kamu siapa?"
"Maaf, Non. Saya Siti, saya ditugaskan nyonya besar untuk bekerja di sini," ucapnya, mimik ramah itu membuat Zhi tersenyum lega. Dia pikir ada orang jahat yang tiba-tiba masuk ke rumah Calvin. Zhi seketika teringat ucapan mamanya Calvin siang tadi, yang berniat akan mengirim orang untuk datang bekerja sebagai asisten rumah tangga. Agar Calvin dan Zhivanna tam berduaan di dalam rumah tersebut.
"Loh, kapan ke sininya? Kok saya nggak tahu? O, iya perkenalkan, nama saya Zhivanna." Zhi mengulurkan tangannya, senyumannya terukir lembut.
"Iya, Non Zhivanna. Saya Siti. Tadi saya datang sekitar pukul tujuh," jawabnya, "Nona sedang apa di dapur, kok belum tidur?" sambungnya sambil memunguti buah yang tercecer di lantai.
"Pukul tujuh ... dari sore memang aku di kamar terus sih, Bu. Jadi nggak tahu kalau ada orang datang." Belum ngantuk, Bu. Fasanya perutku laper banget, jadi cari makanan yang ada di kulkas." Zhi meringis.
"Eh iya, Bu. Jangan panggil aku Nona, ya. Panggil Zhi saja. Kurang nyaman dengan sebutan itu."
"Ah, jangan, Non. Saya nggak biasa. Lidahnya sudah terbiasa manggil wanita cantik dengan sebutan 'Nona'. Non bisa panggil saya Bi Siti, biar lebih akrab."
"Baiklah, terserah Bi Siti."
"O, iya, Non mau makan apa, biar saya buatkan."
"Saya pingin makan buah aja, Bi. Tapi saya bisa potong sendiri kok. Bibi tidur aja," ucap Zhi seraya mengambil pisau, bersiap untuk mengupas buah di depannya.
__ADS_1
"Sini, Non. Biar saya. Saya belum ngantuk kok." Siti mengulurkan tangannya untuk mengambil pisau dari tangan Zhi.
"Yaudah deh. Terima kasih, Bi. Saya di ruang dantai ya, Bi. Mau nonton film."
"Baik, Non."
Tak berapa lama, buah selssai dipotong Siti. Wanita paruh baya itu mengantarkannya ke ruang santai. Zhi tengah menikmati tontonannya kali ini. Genre horor menjadi pilihan saat dia mencari film yang seru.
"Ini, Non." Siti menyodorkan sepiring buah yang berisi buah naga, mangga, dan apel. Potongan yang tak terlalu banyak, tetapi mampu mengenyangkan perut Zhivanna. Wanita paruh baya itu meletakkan buah tepat di meja samping sofa, sehingga hal itu memudahkan Zhi untuk menikmatinya.
"Makasih, ya. Bi Siti tidur aja, sudah hampir pagi. Besok pasti Calvin menyuruh Bibi kerja," perintah Zhi.
Detik berganti menit, menit berganti jam. Durasi film yang ditonton Zhi belum juga selesai. Zhi masih asyik memperhatikan adegan film pembunuhan tersebut, yang menurutnya sangat seru. Sesekali dia menyuapkan buah ke dalam mulutnya.
Semakin lama, sesekali matanya mulai terpejam. Rasa kantuk tak dapat dia hindari. Bahkan, mulutnya masih setia mengunyah. Namun, matanya enggan terbuka lebar seolah ribuan monyet tengah bergelantungan di kelopak matanya.
Akhirnya, Zhi pun tertidur. Tanpa dia sadari, dia mulai pulas dengan posisi duduk yang baginya sangat nyaman. Senderan sofa yang begitu empuk, kakinya berselonjor lurus, kedua tangannya pun memeluk bantal sofa yang cukup besar.
Akibat suara film yang terlalu keras, Zhi tak mendengar ada suara orang berjalan. Biasanya, dia peka dengan sesuatu yang akan membahayakan. Namun, kali ini dia memang sudah terjebak di alam mimpinya, melupakan kehidupan nyatanya, juga hilang kesadarannya.
__ADS_1
"Gawat, ada yang sedang menonton televisi!" bisik seorang lelaki pada temannya. Mereka berhasil membuka pintu rumah Calvin dengan alat yang canggih, bahkan maling pun akan kalah dengan cara mereka membuka pintu.
"Kita lihat perlahan, jangan menimbulkan suara apa pun," sahut temannya satu lagi.
Kedua penyusup itu berjalan mengendap-endap layaknya pencuri yang hendak mencuri barang berharga di rumah itu. Akan tetapi, bukan itulah tujuan mereka, melainkan Zhi. Zhi menjadi target untuk mereka tangkap atas perintah Jordan dan Gracella.
"Kamu bagian sana, aku sana!" perintah satu orang yang menyusun rencana pergerakan untuk mencari kamar yang di tempati oleh Zhi.
Keduanya masih berada di ruang tamu, berjalan menuju tangga. Namun, salah satu mereka mengurungkan niatnya saat melihat pintu ruang santai terbuka lebar. Ruangan itu hanya tertutup kaca dan gorden oanjang yang menjuntai ke lantai.
Lelaki itu sedikit mengintip ruangan itu, di mana Zhi tengah terlelap dengan tidurnya. Dia sama sekali tak menyadari kehadiran dua lelaki yang akan membahayakannya.
Bagai kucing yang mendapat ikan. Tak sengaja mata penyusup itu menangkap Zhi yang tengah tertidur. Dia menghampirinya, perlahan lelaki itu mengeluarkan sapu tangan yang sudah diberi obat bius. Dia bergerak dengan sangat hati-hati, apa lagi Gracella berpesan, jika wanita yang akan mereka tangkap adalah wanita berbahaya yang memiliki ilmu hitam.
Zhi bergerak, membenarkan posisi tidurnya. Namun, mata itu masih terpejam. Dengan gerakan secepat kilat, lelaki itu langsung membungkam mulut Zhi dengan kain yang ada di tangannya.
.
.
__ADS_1
Bersambung ...