
"Zhi, dengarkan Ayah! Jangan berpikir apa pun tentang kami. Ayah dan Ibu akan baik-baik saja. Cepat pergi dari sini sekarang sebelum Venus menyadari semuanya."
Mereka bertiga berbicara menggunakan telepati. Tak ada satu pun yang tahu kelebihan keluarga tersebut, bahkan Erdo sama sekali tidak mengetahuinya. Kepasrahan kedua orang tua Zhi memanglah berat, mereka tahu jika ke depannya tidak akan selamat. Chris dan Emma hanya ingin Zhi segera pergi mencari batu opal tersebut tanpa memdulikan mereka, setidaknya, setelah Zhi menemukannya, kedua orang tuanya akan tenang jika harus mati.
"Genggam batu opal milik Ayah dan Ibu, sehingga energimu akan terkumpul dan bisa mengelabuhi Venus dan Erdo. Percayalah Erdo tidak akan membunuh kita, Nak. Kita akan mencari alasan dan memastikan mereka percaya kalau kamu akan kembali," tutur Emma seraya membelai lembut rambut panjang Zhi yang terurai.
"Apa kalian yakin, mereka tidak akan murka jika aku pergi?" Zhi bertanya dengan penuh keraguan. "Zhi tidak akan sanggup meninggalkan Ayah dan Ibu di sini, Zhi tidak akan tenang," sambungnya.
__ADS_1
"Nak, kami akan semakin khawatir kalau kamu tidak segera menemukan batu opal itu, pergilah ke Alpheno sekarang!" Ketiganya hanya saling tatap seolah hanya diam dalam penglihatan Venus. Padahal yang sebenarnya terjadi, mereka tengah mengatur rencana.
Saat melakukan pertimbangan sambil menunggu Venus lengah, Zhi akhirnya mau menuruti perintah kedua orang tuanya untuk kembali ke Gunung Alpheno. Dia menggenggam kedua cincin orang tuanya dan memejamkan matanya. Apa pun energi sihir yang sudah dipelajarinya sejak dulu, membuat Zhi semakin mudah untuk menjalankan aksinya. Efek dari ketiga energi yang dicampurkan memanglah luar biasa. Zhi bisa langsung memperdaya Venus hanya dalam sekejap dan menghilangkan kesadarannya.
Seorang Venus bukanlah lelaki biasa, dia juga mempunyai sihir yang mematikan atas pemberian Erdo. Namun, saat ini Energi Zhi sudah hampir menyeimbangi Venus, sehingga tak ada lagi ketakutan dari dalam dirinya.
Zhi berjalan dengan langkah pasti menghampiri Venus, matanya tak berkedip menatap lelaki di hadapannya itu lalu berkata, "Tuan Venus, apakah Anda menginginkan secawan air?" tanya Zhi dengan suara halusnya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Venus mulai hilang fokus saat tatapan Zhi menghunusnya. Pada saat itu juga, tangan Zhi langsung memukul dada Venus dengan telapak tangannya. Sesaat, Venus langsung hilang kesadaran dan tergeletak begitu saja.
"Bagus, Nak. Sini!" Emma yang tadi tengah duduk di tepi ranjang samping Chris, kini dia berdiri dan merentangkan tangannya menyambut pelukan Zhi. Pelukan itu sangat erat, sehingga membuat keduanya terharu. Emma sudah rela melepaskan putrinya untuk memulai hidup yang baru. Setelah itu, Zhi bergangian memeluk ayahnya. Pesan dan nasihat selalu terlontar dari mulut mereka, membuat Zhi semakin berat meninggalkannya. Perpisahan seakan di depan mata.
Zhi pun pergi ke gunung melanjutkan pencariannya. Kali ini, dia semakin mudah menemukan batu opal tersebut karena energi yang dipunyai berlipat-lipat. Tak menunggu lama, Zhi melihat ada kilauan cahaya yang begitu terang menyilaukan penglihatannya. Namun, saat dia menemukan batu tersebut, cincin batu opal kedua orang tuanya yang dipakai kini memanas dan mengeluarkan asap.
"Kenapa ini? Kenapa cincinnya panas? Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Ayah dan Ibu. Atau ... apa karena aku mendapatkan batunya, sehingga cincin ini bereaksi?" Zhi masih melihat batu opal yang terang tersebut di sela-sela bebatuan gunung sebelum dia mengambilnya. Dia pun mendekat dan mengambil batu tersebut. Seulas senyuman terukir di bibir manis Zhi bak lengkungan bulan sabit. Usahanya kini terbayarkan, akhirnya dia tidak begitu lama menemukan batu tersebut, sehingga dia segera pulang menemui kedua orangtuanya.
__ADS_1