Wanita Dalam Liontin

Wanita Dalam Liontin
Luapan Rasa


__ADS_3

Malam hari Calvin termenung di balkon kamarnya, sejak siang tadi dia sama sekali tidak keluar kamar. Lelaki itu terus memikirkan Zhi dan masa depannya. Semuanya begitu rumit untuk dijalani, tetapi kali ini Calvin harus memutuskan secepatnya agar dia tak berlarut-larut gundah dalam pilihan yang sangat sulit, antara orang tua, dan Zhivanna. Lamunannya terhenti saat dia terkejut dengan ketukan pintu yang cukup keras memekakkan telinga.


Calvin mendengus kesal, dia sudah bisa menebak siapa pengetuk pintu tersebut. Tak ada yang berani mengetuk pintu kamarnya seperti orang yang sedang kesurupan, menggedornya sangat keras tanpa peduli efek suara yang ditimbulkan. Ya, suara gedoran pintu itu bahkan mampu menggetarkan otak waras manusia.


"Masuk!" teriak Calvin dari balkon, pandangannya masih menatap langit yang gelap tanpa berpaling melihat kedatangan Zhi.


"Calvin, lihat! Tanganku sakit gara-gara mengetuk pintu kamarmu. Kenapa sih, dari tadi aku mengetuk, kamu tidak ada jawaban? Telinga kamu masih sehat, kan?" tanya Zhi seolah menuduh Calvin tuli. Wanita itu memonyongkan bibirnya sehingga terlihat imut.


"Enak aja, kamu mengataiku tuli? Mau apa datang kemari?" Calvin bertanya sambil menyentuh dahi Zhi dengan punggung tangannnya. "Sudah sembuh, pantesan!" gumam Calvin.


"Apanya yang pantesan?" Zhi mendongak ke arah Calvin yang terus menatap dirgantara tanpa cahaya bintang, bulan pun bahkan tak menampakkkan sinarnya malam ini.


"Aku datang ke sini hanya untuk menemuimu, Calvin. Apa itu dilarang? Kau tidak merindukanku, Vin?" tanya Zhi tanpa basa-basi dan dengan kejujurannya yang terlihat polos.


Hal itulah yang membuat Calvin semakin tertantang untuk tidak bergetar saat mendengar penuturan Zhi yang selalu berhasil membuatnya terlena dan menyentuh hati bekunya.

__ADS_1


"Calvin! Kok, malah bengong sih, kamu mengabaikanku? Ya udah kalau begitu, sebaiknya aku pergi dari sini, aku tidak akan mengganggumu lagi."


Entah kenapa kali ini Zhi merasa hatinya rapuh dan sensitif, dia seolah ingin meluapkan segala sesuatu yang tertahan dalam benaknya.


"Kamu tidak pantes ngambek begitu, Zhi." Calvin tersenyum tipis seperti mengejek. Zhi pun melirik dengan tatapan tajam. Bibirnya mengerucut.


"Sebenarnya, apa maksud kedatanganmu kemari, Zhi?" tanya Calvin sambil menatik napasnya panjang. "Selain merindukanku," lanjutnya. Calvin berucap dengan entengnya mengikuti alur Zhi agar dia segera menjelaskan maksud kedatangannya.


"Aku hanya ingin memastikan bagaimana nasib kedua manusia licik itu, Vin."


"Terima kasih, pangeranku," rayu Zhi dengan wajah gemasnya dan terus mengerlingkan mata pada lelaki itu. Calvin pun hanya menjawabnya dengan anggukan.


"Masih ada lagi yang mau kamu bicarakan?" tanya Calvin tanpa melirik Zhi di sampingnya.


"Calvin, sampai kapan sih kamu akan terus bersikap dingin begini?"

__ADS_1


"Maksudnya?"


"Kapan kamu akan berssikap manis kepadaku? Kapan kita tidak akan berdebat lagi? Dan, kapan kita bisa menjalani hidup normal layaknya pasangan kekasih di luaran sana? Aku ... aku memang egois, terserah jika kamu menganggapku agresif atau wanita yang tak tau malu. Tapi aku memang butuh kepastian, Vin."


"Zhi, apa yang kamu bicarakan, hah? Kenapa tiba-tiba berbicara ngelantur seperti itu?" Calvin terkekeh seperti mengejek, dia sama sekali tak menganggap kalimat Zhi serius dan malah menganggapnya lawakan.


"Baiklah, kalau memang kamu tidak mencintaiku, dan tidak menginginkan keberadaanku di sini, aku akan pergi dari hidup kamu, malam ini juga."


"Zhi, jangan ancam aku dengan candaanmu itu, nggak mempan." Lagi-lagi calvin berkata tanpa memikirkan perasaan wanita yang berdiri di sampingnya itu. Padahal wajah Zhi sudah menunjukkan raut serius dan tidak bercanda. Namun, Calvin hanya menganggap itu gurauan semata.


Zhi berbalik badan, dia mulai jengah dengan Calvin yang sejak tadi mengabaikannya, bahkan seolah tak menganggap kehadiran Zhi. Semua kata yang terlontar dari mulutnya sama sekali tak dihargai Calvin. Baru kali ini, Zhi merasakan gejolak yang begitu hebat, dia sudah tidak tahan lagi menahan rasa sesak di dadanya.


"Baiklah, aku akan pergi. Terima kasih atas semua yang sudah kau berikan padaku selama ini, Vin. Aku tidak pernah mau memiliki perasan seperti ini. Aku juga tidak menyalahkanmu karena tidak bisa mencintaiku. Tapi, aku memang telah salah mempunyai harapan lebih untuk memilikimu. Sekali lagi, terima kasih. Aku sangat beruntung bisa hidup denganmu, walau hanya sebentar. Kamu berhasil membuat aku menjadi seperti ratu, Vin. Kamu hebat."


Zhi tersenyum dengan wajahnya yang sayu. Namun, dia sama sekali tak mengeluarkan air mata. Kesedihannya dia telan begitu saja, dia tidak mau terlihat kasihan di depan Calvin. Zhi adalah wanita tegar yang tidak mungkin rapuh. Akan tetapi, malam ini cukup membuktikan bahwa dia adalah wanita yang biasa, wanita yang mempunyai hati lembut jika menyangkut perasaan.

__ADS_1


__ADS_2