Wanita Dalam Liontin

Wanita Dalam Liontin
Hujan Momen Romantis


__ADS_3

Lama Calvin membujuk Zhi, bukannya berhasil tetapi malah Zhi menganggap ocehan Calvin adalah dongeng. Tak terasa, panggilan terakhir kali, sudah tak ada sahutan.


"Zhi, sebentar lagi akan hujan, kita pulang, sekarang!" ucap Calvin, tetapi Zhi sudah tertidur, matanya terpejam, bibirnya pun juga tak mengeluarkan suara. Calvin menggelengkan kepala dan mengernyitkan dahinya keheranan.


"Astaga, cepat sekali kamu tak sadarkan diri, Zhi! Bangunlah, ini bukan di ranjang." Calvin menepuk pelan lengan Zhi. Namun, tetap saja tak ada tanggapan dari Zhi.


Calvin lalu berpikir, untuk membangunkan Zhi dengan cara mengelus pipinya. Tak disangka-sangka, Calvin malah ketagihan dengan tindakannya, dia keasyikan mengelus pipi Zhi yang begitu lembut.


"Zhi, bangunlah!" perintah Calvin dengan suaranya yang sedikit pelan, karena tak mau mengagetkan wanita yang tengah berbaring itu.


Tak lama kemudian, Zhi membuka matanya perlahan. "Ah, rupanya aku ketiduran," ucap Zhi malas, dia beringsut bangun, lalu duduk di samping Calvin.


"Pulang, yuk! Mau hujan." Calvin berdiri dan mengulurkan tangannya untuk menggandeng Zhivanna.


Zhi pun menerima uluran tangan Calvin, kemudian berdiri. Mereka berjalan bergandengan layaknya sepasang kekasih yang begitu romantis.


Rintik-rintik air mulai jatuh dari langit, Zhi mengadahkan tangannya ke atas. "Hujan, Vin."


"Agak cepat jalannya, sebelum hujannya deras." Calvin sedikit menarik tangan Zhi menuju mobilnya yang terparkir agak jauh dari danau.


Tiba-tiba suara petir menggelegar, sontak keduanya kaget. Calvin pun hampir melompat saat jantungnya berdegup kencang begitu mendengar suara seperti ledakan itu. Namun, dia berpura-pura cool dan pemberani, dia langsung memeluk Zhi saat wanita itu berteriak.


"Calvin, kamu kaget juga? Kamu takut? Kenapa tiba-tiba memelukku?" tanya Zhi saat berada di pelukan Calvin yang sangat erat.


Calvin langsung melepas pelukannya. "Ah takut? Mana ada seorang Calvin takut, aku hanya ingin melindungimu. Makanya aku cepat mendekapmu tadi," terang Calvin, dia berkelit menutupi rada malunya di depan Zhi. Bisa-bisa Zhi akan menggodanya terus.


Hujan semakin deras, Calvin dan Zhi masih belum sampai di mobil. Mereka pun berteduh di depan bangunan kosong yang terdapat teras di depannya. Calvin lalu melepas jasnya untuk menutupi tubuh Zhi yang sudah mulai basah karena air hujan.


"Tidak perlu, Vin. Kamu pakai aja, kamu juga pasti kedinginan," tolak Zhi.


"Apa sebaiknya kita nekat saja? Biar cepat sampai rumah."


"Ayo! Kita berlari secepat mungkin," ajak Zhi, dia bersiap untuk lari.

__ADS_1


"Tunggu!" panggil Calvin menarik tangan Zhi.


Calvin lalu memayungkan jasnya di atas kepala mereka, kemudian keduanya berlari sambil tertawa sesekali melirik satu sama lain menikmati hal yang baginya seru.


Sesampainya di mobil, Zhi terlihat kedinginan. Calvin menggosok-gosokkan tangannya dan menggenggam erat tangan Zhi, sesekali meniupnya.


"Dingin?" tanya Calvin.


"Tak biasanya aku kedinginan seperti ini, bahkan biasanya AC pun tak pernah mampu mendinginkanku." Zhi menggigil, memeluk tubuhnya sendiri.


"Itu beda, Zhi. Ini, kan, air hujan bercampur udara malam. Pastilah semua orang akan kedinginan setelah kehujanan," tutur Calvin, seraya memasangkan seat belt di tempat duduk Zhi. "Lepas blazer-nya, kamu akan semakin kedinginan memakai baju yang basah."


Calvin mematikan AC dalam mobilnya agar Zhi tak kedinginan. Kamudian, dia menurunkan senderan kursi Zhi, supaya dia bisa sedikit rileks dan tertidur. "Tidurlah kalau kamu ngantuk," ucap Calvin.


"Mataku berat banget, Vin. Seperti ada ribuan monyet yang menggantung sangat banyak, sebentar lagi aku pasti akan berada di alam mimpi," ucap Zhi semakin ngelantur sambil mengucek matanya. Calvin yang mendengarnya pun mengerutkan dahi lalu menertawkannya.


Lelaki itu kemudian menginjak gas dan melajukan mobilnya. Hujan yang deras disertai angin, membuat suasana malam semakin tak berpenghuni. Tak banyak kendaraan yang lalu lalang. Lampu-lampu tepi jalan terlihat meredup saat terhalang oleh hujan yang begitu derasnya.


Perjalanan yang ditempuh cukup lama untuk menuju rumahnya. Zhi semakin nyaman dan semakin tertidur pulas. Bahkan, beberapa kali ada goncangan polisi tidur pun, dia masih tetap terlelap dalam mimpinya.


Dia benar-benar wanita yang apa adanya, tak punya rasa malu sama sekali. Kepribadianmu membuatku hanyut, Zhi. Apa aku memang sudah mulai tertarik denganmu? Apa kamu memang benar-benar punya rasa yang sama sepertiku? gumam Calvin yang tengah bergelut dengan pikirannya.


Calvin memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah. Setelah turun, dia mengitari mobilnya dan bergegas mengangkat Zhi. Lelaki itu menaiki tangga satu persatu, napasnya mulai memburu saat sudah hampir mencapai tangga paling atas.


"Zhi, apa kamu benar-benar tidur? Atau kamu hanya pura-pura, agar aku menggendongmu seperti ini? Kalau kamu beneran tidur, lantas kenapa seperti orang mati? Dibangunkan pun sama sekali tak bergerak, bahkan aku rasa kau tak mendengar suaraku, padahal sejak tadi aku terus berbicara." Calvin terus bergumam lirih.


Sesampainya di kamar, Calvin membatingkan tubuh Zhi dengan perlahan, lalu menyelimutinya. Tak lupa, Calvin mengusap dahi Zhi, menyibak rambutnya ke atas kepala, agar helaian rambut itu tak menutupi wajah dan mengganggu tidurnya.


"Tidur yang nyenyak, Zhi," ucap Calvin, dia lalu membalikkan tubuhnya. Baru satu langkah dia berjalan, tiba-tiba Zhi terbangun.


"Calvin ...," panggil Zhi, wanita itu menarik tangan kiri Calvin.


"Kenapa bangun?" Calvin menengok dan mendekat lagi.

__ADS_1


"Ambilkan aku baju dong! Aku malas berdiri, apa kamu nggak kasihan aku tidur dengan baju basah seperti ini?"


Calvin mendengus, "Baiklah, aku ambilkan, tunggu."


Calvin menuju walk in closet dan mengambil satu setel piyama untuk Zhi. "Ini." Calvin pun menyerahkah baju itu padanya.


"Pakaikan!" Zhi mengedip-kedipkan matanya.


"Zhi ...." Calvin mulai melirik dengan tatapan cukup tajam saat Zhi memerintahkannya untuk menggantikan bajunya.


"Aku cuma bercanda, Calvin." Zhi lalu tertawa.


"Sejak tadi di bawah kenapa nggak bangun? Apa kamu sengaja mengerjaiku?"


"Aku benar-benar tidak sadarkan diri, Vin." Zhi memonyongkan bibirnya. "Terima kasih sudah menggendongku sampai ke tempat tidur ini." Zhi tersenyum manis dengan lesung pipi yang terlihat sangat menggemaskan.


"Iya, sama-sama, walaupun tubuhmu sangat berat. Untung aku bisa membawamu naik, kalau tidak, mungkin aku akan membiarkanmu tidur di sofa lantai bawah."


"Jadi, kamu mengataiku gendut?" Zhi mulai mengeraskan suaranya.


"Apa aku mengucapkan kata gendut? Aku rasa tidak. Aku hanya bilang, tubuh kamu berat," dalih Calvin.


"Itu sama aja, Vin. Kamu secara tidak langsung mengataiku gendut. Apa kamu nggak lihat, tubuhku ini seksi. Bahkan mantan kekasihmu aja nggak ada apa-apanya dibanding aku, dia seperti triplek, rata. Lihat!" Zhi membusungkan dada dan memegang pinggang kecilnya yang ramping.


"Lama-lama di sini, aku bisa perang dengan yang di bawah sana." Calvin berbalik, memilih pergi dan mengabaikan Zhi saat matanya tak sengaja berpusat pada dada Zhi yang hanya mengenakan kemeja putih sedikit mencetak gundukan di dalamnya.


Menahan itu lebih susah daripada melakukan! batin Calvin.


"Calvin! Mau ke mana? Aku belum selesai bicara!" teriak Zhi yang tak dianggap oleh Calvin. Lelaki itu terus berjalan keluar kamar Zhi dan menutup pintu.


Bersambung ...


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys, dukung author biar tambah semangat update bab-nya.

__ADS_1


Berikan like, komen, hadiah, vote, serta masukkan dalan favorit. Terima kasih. Sayang kalian.🤗😍


__ADS_2