Wanita Dalam Liontin

Wanita Dalam Liontin
Erdo sang Penguasa


__ADS_3

"Vin, aku melihat seseorang." Zhi tiba-tiba menahan tangan Calvin yang hendak menyeberang dan mengarahkan matanya sebagai isyarat, dia menunjukkan satu mobil yang berada di tepi jalan agak jauh dari posisi mereka saat ini.


"Siapa, Zhi?" Calvin menengok ke kanan dan kiri, mencoba untuk mencari tahu apa yang dimaksud Zhi.


Keduanya terus melangkah menyusuri jalan dengan saling berpegangan tangan. "Sepertinya mereka mengikuti kita, Vin," ucap Zhi sambil terus memperhatikan seseorang yang menatapnya dari kejauhan. Bisa Calvin rasakan pergelangan Zhi yang mulai dingin karena cemas akan terjadi sesuatu pada mereka.


"Siapa sih, Zhi?" Calvin masih belum paham dengan orang yang dimaksud oleh Zhi. Dia hanya bisa semakin mengeratkan genggamannya untuk memberikan ketenangan kepada wanita tersebut.


"Hih, Vin. Kamu kenapa enggak paham-paham, sih! Itu tuh, si nyonya tua! Dia lagi memantau kita bersama seorang lelaki. Kamu lihat mobil putih di sana, kan? Kalau enggak, berarti mata kamu bermasalah." Zhi menggerutu karena Calvin tak kunjung mengerti dengan sesuatu yang dimaksud Zhi. Padahal dia sudah memerlihatkan dengan jelas di mana posisi mereka saat ini.


Gracella dan Jordan seketika panik saat Zhi mulai menyadari keberadaan mereka. Apa lagi melihat Calvin yang sedari tadi mencari menoleh ke segala arah tanpa henti. Tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, Jordan pun langsung menancap gas dan melajukan mobilnya dengan kencang.


"Tuh, tuh, Vin!" Zhi menunjuk mobil putih yang baru saja melewati mereka.


"Apa benar, itu Gracella?" tanya Calvin, matanya terus memandang mobil yang berlalu sangat kencang.


"Ya, benarlah, Vin! Kan, tadi aku sudah bilang, kalau itu nyonya tua.” Zhi sedikit meninggikan suaranya karena geram. Calvin pun melontarkan tawanya saat mendengar Zhi menyebut Gracella dengan sebutan nyonya tua.


"Ya sudahlah, jangan terlalu dipikirkan." Calvin memilih untuk tidak membahas Gracella karena terlalu malas mengingat wanita pengkhianat itu. Padahal, dalam pikirannya, dia masih bergelut dengan hal yang mengganggunya. Dia memikirkan kejadian yang terjadi secara tiba-tiba yang hampir saja menyelakainya.


Apa ini ada sangkut pautnya dengan Gracella? Kenapa dia kebetulan ada di sini juga dan menyaksikan kejadian barusan?


"Vin, kapan kita makan? Aku sudah sangat lapar,” ucap Zhi sambil mengelus perutnya.

__ADS_1


"Dasar, selalu saja kelaparan, padahal aku selalu memberimu makan." Calvin tersenyum manis pada Zhi. Dia pun langsung menggandeng Zhi untuk menyeberang. Kali ini, dia sangat hati-hati, agar kejadian mengerikan tadi tak terulang kembali.


...***...


Sementara itu, di dunia lain. Erdo sedang menikmati harinya bersama dengan para wanita cantik yang menjadi korban paksa pernikahannya. Ada lima orang wanita yang tengah berada di atas ranjang, melayani Erdo, menyuapkan buah merah. Satu orang lainnya bertugas memijit tangan serta kaki, dan ada juga yang siap memegang minumannya. Para istri Erdo tidaklah hanya lima orang, tetapi sudah tak terhitung banyaknya. Hampir semua wanita cantik di Negeri Luchania yang menarik perhatiannya, langsung dinikahi dan menjadikan budak pelayan napsu.


Kehidupan Erdo sang penguasa alam itu begitu makmur, bahkan apa pun yang dia mau pasti akan terlaksana. Tak seorang pun yang berani membantahnya, kecuali Zhi yang nekat menolaknya. Oleh karena itu, Erdo begitu geram dan ingin mendapatkan Zhi secara paksa setelah dia menemukannya nanti.


Sejak Zhi bersemayam di dalam liontin dan berada di lautan. Erdo sangat sulit menemukannya. Sebab, Zhi tidak pernah menggunakan kekuatannya di dalam air. Wanita itu hanya tertidur panjang dalam liontin. Erdo hanya akan mencium keberadaan Zhi saat dia menggunakan kekuatan besarnya.


Tiba-tiba, cermin besar yang menghadap ke ranjang itu mengeluarkan cahaya yang sangat terang hingga menyilaukan matanya. Erdo segera bergegas dari ranjang dan mendekat ke arah cermin itu. Ternyata, cermin itu merekam kejadian di bumi yang menunjukkan seorang wanita yang dia cari selama ini.


Terlihat jelas, di layar bening itu memperlihatkan Zhi yang tengah menggunakan kekuatannya di sebuah jalan kota dan membuat kekacauan bumi. Meskipun beberapa orang tak menyadari keanehan tersebut, tetapi hal tersebut daoat menarik perhatian Erdo dari cermin bermantranya.


Sebuah seringai licik tersinggung sinis di wajah Erdo saat melihat gambaran wanita yang selama ini menentangnya. Dia tertawa puas, lalu berkata, "Aku menemukanmu."


Pria tersebut lantas meneguk minuman dalam gelas hingga tandas dan langsung meninggalkan para wanita yang melayaninya begitu saja.


"Tuan, apa Anda tidak ingin melanjutkannya?" Seorang wanita yang sudah setengah telanjang mencoba untuk menahan tangan Erdo.


Namun, pria itu malah mencengkeram dagunya dengan sangat kuat. "Bukan kamu yang seharusnya mengaturku!" ujarnya bernada dingin tak seperti biasanya, lalu mengempaskan tubuh wanita itu hingga terhuyung.


Kelima istrinya hanya bisa tercengang dikala melihat sang penguasa mengempaskan tubuh wanita kesayangannya selama ini dan melangkah pergi meninggalkan mereka.

__ADS_1


Sementara itu, wanita tersebut mengepalkan tangannya dengan kuat dan sorot mata tajam akibat emosi diperlakukan seperti itu oleh Erdo untuk pertama kalinya. "Apa yang kalian lihat, hah?" teriaknya pada empat wanita lain di ruang tersebut karena emosi.


"Apa yang membuat Yang Mulia menjadi seperti itu?" Wanita tersebut berdiri, menatap lurus langkah Erdo yang semakin menjauh dari jangkauannya. Namun, dia tak mendapat jawaban dari Erdo, lelaki itu mengabaikan barisan kalimat yang dilontarkan eh sang wanita.


Setelah melihat apa yang digambarkan di cermin, Erdo bergegas menuju ruangan kerjannya. "Venus!" teriaknya memanggil seorang penjaga bayangan di sampingnya selama ini.


Tak lama kemudian, seorang pria berpakaian hitam dengan topeng di wajah menutupi paras tampannya datang dan langsung membungkuk kepada sang penguasa. "Tuan," ucapnya dengan sopan.


"Cari tahu di mana gadis itu berada!" ujarnya dengan sebuah seringai saat membayangkan wajah Zhi yang sudah lama tak dia lihat.


"Maksud, Tuan Nona Zhi dari keluarga Crish Archer?"


"Ya, bawa dia ke hadapanku segera dan jangan biarkan dia melarikan diri lagi!" perintah tegas Erdo langsung mendapat jawaban taat dari Venus.


"Baik, Tuan," jawabnya seraya membungkukkan tubuh tanda hormat pada sang tuan.


Venus, satu-satunya penjaga serta tangan kanan Erdo yang setiap saat siap atas segala perintahnya. Bahkan, dia yang selalu mengantarkan para istri Erdo ke jeruji siksa tanpa belas kasihan, jika ada yang tidak taat pada sang penguasa tersebut.


.


.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa komen dan likenya ya, hadiah dan vote juga sangat menerima. Terima kasih.


__ADS_2