
Liam dengan bebasnya masuk ke ruangan Calvin tanpa menyahut panggilan Calvin, padahal dia sudah berteriak kencang menanyai siapa yang datang. Sudah menjadi tabiat Liam yang keluar masuk seenaknya di ruangan Calvin, bahkan tanpa izin sekalipun.
“Apa kau tidak bisa mendengar suaraku dari luar, Li? Kenapa tidak menjawab?" Calvin tampak sedikit emosi, karena dia tidak bisa menutupi kegugupannya saat Zhivanna berada sangat dekat dengannya di meja kerja itu. Zhi yang masih berdiri di samping Calvin pun tampak sedikit salah tingkah, tetapi dia bisa cepat mencairkan suasana.
"Biasanya juga seperti ini, Kenapa mesti marah-marah, Bos? Oh aku tahu, apa jangan-jangan kalian sedang bermesraan? Makanya kalian takut ketahuan olehku?" tatapan Liam menelisik keduanya.
"Hai, Liam. Aku tadi hanya ingin melihat kerja Calvin aja kok. Bukan bermesraan," sahut Zhi, senyuman manisnya mampu membuat Liam terpesona, matanya tak berkedip. Calvin yang melihatnya, kemudian bertanya maksud kedatangan Liam ke ruangannya.
"Jadi, ada perlu apa ke sini?" tanya Calvin, dia menutup laptopnya dan menunggu jawaban Liam.
“Bukankah tadi kau menyuruhku ke sini untuk mengantarkan ini?” tutur Liam sembari menyerahkan kotak kecil pada Calvin.
Tapi bukan seenaknya juga kamu memasuki ruangan orang tanpa permisi,” gertak Calvin yang tak pernah ditakuti oleh Liam. "Kemarikan!" lanjutnya saat mengulurkan tangan menerima kotak itu.
"Kembalilah ke ruanganmu, lain kali jangan lupa ketuk pintu sebelum masuk." Calvin menegurnya lagi seakan dia tak ingin kejadian seprerti itu terulang lagi, meskipun dia tak melakukan apa pun dengan Zhi, tetapi itu cukup membuat jantung Calvin berdegup lebih kencang seolah sudah membuat kesalahan besar.
"Zhi, kemarilah!" perintah Calvin pada Zhi, wanita itu langsung mendekat saat dia sedang memerhatikan jalanan kota yang terlihat dari jendela kaca.
"Apa, Vin?" Zhi berjalan mendekat ke meja Calvin.
"Ini, pakailah! Di sini hanya ada nomorku, jika kamu butuh apa-apa, hubungi aku. Begini caranya." Calvin menunjukkan bagaimana cara menelepon dan mengirim pesan. "Apa kamu bisa baca tulis?" tanya Calvin penasaran saat dia teringat akan Zhi yang sebenarnya bukan manusia.
"Tentu saja aku bisa, Vin. Otakku cerdas, tapi kalau benda ini, aku memang baru saja memegangnya. Jadi maklum jika aku tidak tahu cara mengoperasikannya" jawab Zhi, dia terus memperhatikan Calvin yang sedang menuntunnya untuk belajar menggunakan ponsel.
__ADS_1
"Sekarang sudah mengerti?" tanya Calvin. Dia masih dengan di posisi yang sama, duduk di meja kerjanya, sedangkan Zhi berada di sampingnya.
"Baiklah, aku mengerti. Kamu memang sangat perhatian, Vin." Zhi mengelus pundak Calvin. Lelaki itu pun langsung berdiri dan menatap Zhi, mereka saling berhadapan dengan jarak yang cukup dekat. "Terima kasih," lanjutnya.
"Zhi, aku akan pergi meeting, kamu tunggu di sini, ya. Jika bosan, bermainlah dengan game yang ada di ponsel itu," pesan Calvin. Dia perlahan menyingkarkan tubuh Zhi agar tak menghalangi jalannya.
Detik demi detik berlalu dan berganti jam, Calvin menjalani meeting-nya selama kurang lebih dua jam didampingi oleh Liam. Meeting itu berjalan lancar, sehingga cepat selesai.
Setelah meeting selesai, Calvin dan Liam kembali ke ruangannya masing-masing. Calvin berjalan memasuki ruangannya yang tak terkunci, betapa terkejutnya dia saat mendapati Zhi tengah tertidur di sofa.
Calvin mendekat dan berjongkok menatap wajah Zhi, mata itu terpejam sempurna. Tubuhnya meringkuk dengan kaki yang terlipat di atas sofa. Calvin gegas melepas jasnya dan menutupkannya ke paha Zhi yang hanya menggunakan rok pendek. Kulit mulusnya terekspos begitu saja, sedikit pun Calvin sangat menjaga matanya, dia sangat meghargai seorang wanita.
“Untung saja tak ada yang berani memasuki ruanganku kecuali Liam, dan untungnya Liam bersamaku. Kalau sampai orang lain, pasti mereka akan sangat senang mendapati pemandangan seperti ini, Zhi. Dasar ceroboh! Aku lupa mengunci pintunya tadi, maafkan aku," gumam Calvin.
"Cantik. Tapi sayang, kamu bukan manusia asli," ucap Calvin lirih, seraya menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Zhi ke belakang telinga. Dia lalu sedikit menunduk untuk menyentuh hidung mungil Zhivanna dengan telunjuknya, lalu mengulas senyum tipis.
Puas sudah Calvin menikmati wajah Zhi saat wanita itu diam dan tidak banyak bicara. Biasanya sedikit saja Calvin melirik Zhi, wanita tersebut pasti akan menggoda dengan tingkahnya yang berlebihan.
Momen itu sama sekali tak dirasakan Zhi saat tidur, dia benar-benar terlelap, setelah bosan menunggu Calvin selama dua jam seorang diri di ruangannya yang cukup luas itu.
Tak lama kemudian, Liam datang lagi, dia hendak memberi isyarat pada Calvin karena ada seseorang yang mencarinya. Namun, karena pintu sudah terbuka, membuat Liam langsung saja masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan matanya menangkap Calvin sedang menunduk memperhatikan Zhi seolah akan menciumnya. Padahal kenyataannya, Calvin hanya memperhatikan wajah Zhi dari dekat.
"Woo, Bro! Apa tidak bisa bermesraan nanti di luar jam kantor?" Suara teriakan Liam terdengar cukup keras hingga membuat Zhi terkejut dan langsung bangun dari tidurnya. Tubuhnya langsung beringsut untuk segera duduk, tetapi matanya masih sedikit terpejam hingga tak menyadari Calvin ada di depan wajahnya tak berjarak.
__ADS_1
"Awh!" Wanita tersebut sedikit meringis karena dahinya yang langsung terbentur kepala Calvin ketika pria itu masih menunduk, Calvin tak tahu Zhi akan sscepat itu bangun. Bola mata itu masih menatap tajam Liam yang sudah mengagetkannya, hingga dia juga tak tahu dahinya akan berbenturan dengan Zhi.
"Kamu tidak apa-apa, Zhi?" tanya Calvin lembut sambil mengusap dahi Zhi yang memerah karenanya.
"Ish, tak bisakah kau mengetuk pintu lebih dulu! Lagi dan lagi! Kau sangat menyebalkan."
Calvin menghunuskan tatapan tajam kepada Liam, tetapi pria itu hanya menutup mulut dengan telunjuknya. Lalu, memberikan isyarat mata pada Calvin.
Pria itu lantas menoleh, ke arah kerlingan mata Liam, terlihat Gracella berdiri di belakang, dengan raut wajah masam yang membuatnya mengerlingkan mata karena jengah berurusan dengan wanita itu.
"Gracella ada di luar, dia berjalan ke sini, tadi aku mencegahnya tapi dia sangat keras kepala," bisik Liam lirih kepada Calvin dengan tangan di sebelah bibirnya agar Zhi tak mendengar ucapannya itu.
"Tidak perlu kau berbisik, Liam! Aku sudah ada di sini sejak tadi," ucap Gracella yang baru saja menampakkan dirinya dari balik pintu yang sedikit tertutup.
Saat Gracella masuk ke ruangannya, dia begitu terkejut karena mendapati seorang perempuan bersama Calvin. Dia lantas masuk dan menatap sinis Zhi, wanita yang pernah berdebat dengannya saat di restoran waktu itu.
"Calvin, kita harus bicara!"
.
.
Bersambung ...
__ADS_1