
"Jadi begini, Ma. Sebenarnya Zhi adalah teman lamaku. Dia memang tinggal di luar kota dan datang ke sini untuk mencari tantenya, tapi belum ketemu. Jadi sementara dia menginap di sini," jelas Calvin.
Lagi-lagi, dia memilih berbohong untuk menyembunyikan identitas Zhi. Tidak mungkin Calvin akan menceritakan bahwa Zhi bukanlah manusia, melainkan makhluk dari dimensi lain yang keluar dari liontin batu opal. Bisa-bisa dia akan menganggap anaknya itu gila.
"Lalu? Kenapa harus ke rumahmu? Apa tidak bisa dia menginap di hotel?" tanya Erny lagi. Pandangannya seperti menyudutkan Zhi karena dia memang tidak suka ada wanita yang berani mendekati anaknya, apalagi asal-usulnya tidak jelas.
"Itu karena dia kena rampok, Ma. Dia kehilangan semuanya, bahkan makan pun dia susah, Calvin mana tega membiarkan seorang perempuan tinggal di jalanan terlunta-lunta? Apalagi dia teman Calvin."
Lelaki itu berkelit, saat ini, dia hanya perlu berusaha keras untuk mendapat kepercayaan mamanya dan berusaha keras mendapat simpatinya agar mengizinkan Zhi untuk tinggal.bersamanya ke depannya tanpa harus sembunyi-sembunyi.
Eryn terus memerhatikan anak lelakinya itu berbicara. Namun, dia tak mudah percaya pada Zhi. Wanita paruh baya itu sangat berhati-hati dengan orang luar. Memasang kewaspadaan yang begitu ekstra.
"Tapi, Mama kurang setuju, Vin. Kalian pikir tinggal berduaan di dalam satu rumah akan baik-baik saja? Mama nggak yakin. Bisa saja ada setan yang membujuk kalian untuk melakukan hal negatif." Eryn terdiam sejenak lalu melanjutkan kalimatnya. "Tunggu, terakhir kali, kamu bilang Zhi adalah sekretarismu, bukan? Apa kamu membohongi Mama juga?"
Calvin meringis, memperlihatkan barisan giginya yang rapi. "Hmm ... aku bohong, Ma. Waktu itu karena aku bingung harus beralasan apa karena Mama sam Papa tiba-tiba sudah di rumah, sedangkan aku juga nggak tau bagaimana harus menyembunyikan Zhi. Jadi, aku terpaksa membohongi kalian. Maaf, Ma."
"Dasar anak nakal!" Eryn menjewer telinga Calvin. Seorang ibu seperti Eryn memang susah untuk sekedar memearahi anaknya yang sudah dewasa. Rasa marah hanya dia sampaikan lewat teguran, kadang juga dengan candaan yang mungkin bagi Calvin sangat memahami siratan pesan yang mamanya sampaikan.
"Zhivana, apa benar semua yang dikatakan oleh Calvin?"
"Iya, Tante. Benar sekali, satu-satunya petunjuk alamat ada di ponselku. Namun sayang, ponselnya sudah raib." Zhi memasang wajah sedihnya. Jago sekali wanita itu berakting tanpa skrip.
"Itu ... lukamu nggak sakit? Sudah diobati belum?"
"Tadi lumayan sakit, Tan. Tapi, sekarang jauh lebih baik, karena Calvin mengobatinya," jawab Zhivanna sembari meringis kesakitan saat meraba pipinya. Padahal dia sama sekali tak merasakan sakit pada luka itu.
"Bagaimana sih tadi kejadiannya? Benar kalian saling menyelakai?" Eryn mulai menanyai Zhi dengan nada yang biasa.
__ADS_1
"Bukan, Tan, aku sama sekali tidak ada niat menyelakai Gracella. Maaf, sebenarnya saya mau cerita yang sebenarnya, tapi takut Tante tidak percaya, aku juga takut kalau nanti Tante mengira aku menjelek-jelekkan Gracella."
"Ceritalah, lagi pula nanti aku bisa melihat CCTV jika tidak memercayaimu," jawab Eryn.
Zhi pun menceritakan runtut kejadian sebenarnya saat di dapur tadi. Eryn oun hanya menggeleng kepala.
Beberapa saat kemudian, Eryn mendadak menerima telepon dari seseorang, hingga dia memutuskan untuk pergi. Namun sebelum pergi, dia berpesan pada Calvin.
"Mama pergi dulu, kalian ... ingat! Jangan pernah macam-macam di rumah ini. Mama akan memanggilkan asisten rumah tangga agar kalian tak berduaan lagi. Paham, Calvin?"
"Tapi, Ma. Calvin tidak suka ada orang yang tinggal di rumah ini. Kan, bisa sewa jasa pembersih rumah seperti biasanya. Masak juga Calvin bisa sendiri."
"Lalu, apa Zhi bukan orang lain? Kamu bisa juga tuh menerima kehadirannya. Kenapa kalau pekerja nggak bisa, hah?" ketus Eryn mengurungkan langkahnya keluar rumah. "Jangan bilang, kalian saling menyukai?" Eryn langsung melempar pertanyaan setengah menuduh.
"Ma, jangan sembarangan! Baiklah, terserah Mama," jawab Calvin pasrah. Eryn pun berlalu tanpa mengatakan apa pun lagi.
Sementara, Zhi dan Calvin berbincang di sana. Calvin cukup lega karena mamanya sudah menerima kehadiran Zhi meski dia harus didatangkan asisten rumah tangga untuk mengawasi mereka.
Gracella tengah menghabiskan malamnya dengan Jordan setelah dua hari mereka tak bertemu. Sepasang kekasih itu telah memadu kasih sejak dua jam yang lalu di apartemen Gracella.
Tubuh keduanya masih basah dengan keringat yang mengucur dari pori-pori akibat olahraga malam yang mereka lakukan. Gracella menutup tubuh polosnya dengan selimut tebal yang melilit di bagian dada. Dia kemudian menyandarkan kepalanya pada tubuh Jordan, menggelayut manja. Telunjuknya tak henti melukis tipis di dada lelaki itu.
"Beib, tadi siang aku hampir saja berhasil merebut kepercayaan Eryn. Sayangnya ... perempuan sialan itu merusak rencanaku, semuanya kacau!"
"Maksudnya? Apa yang sudah kamu lakukan, Sayang?"
Gracella beringsut, dia memosisikan duduknya agar dapat bertatap muka dengan lelakinya. "Jadi begini, aku tadi siang datang ke rumah Calvin dengan Eryn, karena aku ingin membuktikan padanya jika di sana ada wanita sialan itu."
__ADS_1
"Lalu?"
"Kejadiannya saat di dapur, aku hanya ingin memaksa Zhi agar dia mengaku dan berterus terang siapa dia sebenarnya. Hanya saja ... aku emosi saat dia mulai menantangku, aku nekat menggoreskan pisau ke pipi wanita itu. Aku pikir dia tidak akan berdarah karena aku curiga dia bukan manusia. Tapi nyatanya dia memang mengeluarkan darah segar. Apa dia memang benar-benar manusia, ya?"
"Bagaimana bisa kamu berpikir Zhi bukan manusia? Memangnya di era sekarang, ada makhluk bukan manusia tinggal di bumi? Maksudku selain hantu."
Gracella mengedikkan bahinya tanda tak mengerti. Namun, dia memang begitu penasaran akan mimpinya malam itu. Dalam hatinya, dia sedikit ragu untuk menceritakan mimpi itu pada Jordan, tetapi akhirnya dia memutuskan untuk mengatakan semuanya. Entah nantinya Jordan memercayainya atau tidak, setidaknya dia sudah bercerita.
"Karena ... malam itu aku bermimpi ada seorang laki-laki yang memakai jubah hitam yang menghampiriku, Sayang. Orangnya tinggi, ah entah dia orang atau bukan, yang jelas dia berkata jika Zhi bukankah manusia. Dia berasal dari dimensi lain. Wanita itu memiliki kalung liontin yang katanya ajaib."
"Kalung?"
"Ya, katanya dia jelmaan dari kalung tersebut."
Jordan tertawa, sudah Gracella duga sebelumnya. Jordan pasti akan menganggap ini sebuah lelucon, karena sepertinya mustahil jika di zaman sekarang ada sesuatu yang aneh di muka bumi ini.
"Baby ... itu hanya mimpi. Kenapa kamu begitu memikirkan mimpi aneh itu? Sepertinya kamu emmang terlalu memikirkan wanita itu, makanya terbawa mimpi." Jordan mengacak pucuk kepala Gracella dengan tawanya yang menggema di ruangan itu.
"Aku pun sebenarnya juga menganggap itu hanya mimpi biasa, Baby. Tapi aku juga penasaran, makanya aku ingin membuktikannya. Sayangnya, hari ini aku tidak mendapatkan hasil apa pun. Mungkin aku akan berusaha lebih giat lagi untuk mencari buktinya besok. Karena aku sangat penasaran dengan sosok Zhi. Kamu ingat, kan, saat kita berniat menyelakai perempuan itu? Jalanan mendadak beku. Semua kendaraan berhenti bersamaan, bahkan tak ada suara mesin yang menyala."
Gracella kembali meyakinkan Jordan dengan membahas kejadian beberapa hari lalu. Mereka melihat sendiri kejanggalan yang ada di jalan raya saat itu. Semua tampak aneh dan tidak masuk akal.
"Ah, ya ... aku ingat," ucap Jordan. Dia menatap mata Gracella, tatapan keduanya seoalah sulit diartikan.
"Sepertinya aku tahu, apa yang harus kita lakukan selanjutnya," lanjut Jordan, senyuman licik terukir di sudut bibirnya, matanya menatap kosong tak bergerak.
.
__ADS_1
.
Bersambung ...