Wanita Dalam Liontin

Wanita Dalam Liontin
Kelemahan Zhivanna


__ADS_3

“Meskipun aku mempunyai energi di tubuhku, bukan berarti aku tidak bisa terkalahkan, Calvin. Bahkan, aku tidak akan pernah bisa melawan Erdo." Sejenak Zhi menyandarkan tubuhnya di pinggir balkon, membayangkan sosok Erdo dalam benak kecilnya itu. "Kekuatannya sungguh luar biasa, makanya dia disebut penguasa di Negeri Luchania. Tak ada satu pun yang bisa menyerangnya. Semua pasti akan mati tanpa ampun di tangannya.”


“Menakutkan sekali.” Calvin menyenderkan tubuhnya di kursi, seketika dia membayangkan wujud Erdo seperti apa. “Zhi, apa Erdo sosok yang keren?” tanya Calvin beralih lagi dari sandarannya.


“Ada nggak, Vin, pertanyaan yang bisa diterima otak? Membayangkannya saja aku sudah mual.” Zhi melirik sinis ke arah Calvin. Bayangan wajah Erdo layaknya tokoh Lord Voldemort langsung memenuhi pikirannya. Sosok mengerikan dengan kemampuan hebat, tetapi sangat jahat. Dia bahkan lebih pantas jika dijadikan penjaga kuburan daripada pangeran kalau hidup sebagai manusia.


“Baiklah, jika tidak mau menjawabnya. Itu memang tidak penting. Lupakan saja.” Calvin tergelak kecil melihat wajah kesal Zhi, lantas kembali pada topik pembahasan mereka. “Terus tadi kamu mau bilang apa, Zhi, yang soal kelemahan kamu itu?”


Zhi sejenak terdiam, suaranya memelan dan memutar tubuhnya yang tak lagi menghadap Calvin, pandangan wanita itu kosong menatap pohon yang menjulang tinggi di depan bangunan itu. Bayang-bayang rasa takut bersemayam dalam pikirannya. Dia tak bisa lagi membayangkan, bagaimana nantinya jika dia hidup di bumi manusia tanpa benda terpentingnya.


“Kalung ini." Zhi menyentuh kalung yang melingkar di lehernya dengan lembut. "Jika sampai jatuh ke tangan orang lain, aku tidak akan bisa lagi menggunakan kekuatanku, Vin. Aku akan kekal menjadi manusia. Meskipun benar, aku menginginkan keabadian menjadi manusia. Bukan berarti aku akan sanggup hidup tanpa kekuatan. Batu opal di liontin itulah yang nantinya bisa mengantarkan aku ke alamku untuk bertemu dengan orang tuaku. Apa jadinya jika aku tidak akan pernah lagi bertemu dengan mereka, Vin.”


Zhi menjelaskan panjang lebar tentang kalung itu dengan nada sendu. Dia mengingat bagaimana keadaan kedua orang tuanya jika hal itu sampai terjadi. Mereka pasti akan sangat sedih, begitu pula Zhi.

__ADS_1


Calvin dan Zhi mengobrol layaknya seorang teman yang sudah sangat akrab, tanpa rasa curiga apa pun terhadap Calvin. Oleh karena itu, Zhi sangat terbuka menceritakan apa yang membuatnya risau selama ini. Namun, dia juga ingin selalu berada di samping Calvin dan berharap menjadi manusia agar terus bisa di dekatnya.


Mereka saling terdiam untuk beberapa saat, hingga langit yang cerah kini mulai memerah, menampakkan senja yang begitu indah. Ada setitik rindu di relung hati Zhi mengingat keluarganya.


Namun, suara cacing yang bergemuruh di perutnya merusak suasana sore ini. Wanita itu hanya menyengir menatap Calvin sambil memegang perutnya. Calvin yang melihat tingkah Zhi hanya tersenyum lembut dan mulai beranjak dari posisinya.


"Kau lapar? Ayo kita makan!" ucapnya seraya menggandeng tangan Zhi, membuat wanita itu terperanjat kaget saat merasakan sentuhan tangan Calvin dan juga senyuman lembut yang terukir di bibir Calvin.


Kali ini Zhi tidak akan menggoda Calvin karena perlakuannya yang manis, dia memilih untuk menikmati genggaman tangan lelaki itu. Langkah mereka perlahan menuruni tangga menuju meja makan. Namun, hanya ada makanan tadi siang yang sudah dingin tersedia di meja itu.


"Tidak perlu Vin, apa kamu tidak melihat, di depan kita ada banyak makanan. Kenapa harus memesannya lagi?" bantah Zhi. Calvin berencana hendak memesan makanan online, tetapi Zhi melarangnya. Dia memilih untuk memakan makanan yang ada di meja itu karena sudah tidak tahan jika harus menunggu makanan dari luar datang.


"Baiklah kalau begitu, kamu tunggu di sini, biar aku panaskan dulu makanannya." Calvin mengangkat satu piring dan satu mangkuk di tangannya, membawanya ke dapur untuk dipanaskan.

__ADS_1


Zhi hanya membatin, padahal jika diperbolehkan, dia akan menggunakan kekuatannya saja agar mempersingkat waktu dan tidak menunggi lagi.


"Calvin, apa itu akan lama? Perutku sudah berisik sejak tadi. Bagaimana kalau aku menggunakan kekuatanku, biar kamu tidak susah payah memanaskannya," ucap Zhi sedikit meninggikan suaranya agar Calvin mendengarnya dari dapur.


"Zhi, apa kau lupa kesepakatan kita beberapa menit yang lalu?" sahut Calvin yang juga berteriak. Dia mengingatkan agar Zhi menyimpan kekuatannya dan tak lagi menggunakannya.


"Ah, ini terakhir kalinya, Calvin. Boleh, ya?" mohon Zhi sambil mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja makan berbahan kaca itu.


"Bersabarlah sebentar! Ini tidak akan membuang waktu berjam-jam. Setelah ini, makanlah sepuasmu." Calvin menengok ke luar dapur melihat Zhi, wanita itu hanya membalasnya dengan tatapan malas.


.


Bersambung ..

__ADS_1


Guys, inget kan harus apa? Yup, like dan komennya. Jangan lupa ya, terima kasih.


__ADS_2