Wanita Dalam Liontin

Wanita Dalam Liontin
Zhivanna vs Gracella


__ADS_3

"Bantu aku, Zhi!"


"Oke, oke. Hanya sekali kedip juga sudah beres, Vin. Gampang!" tutur Zhi sambil menjentikkan jarinya sebagai isyarat.


"Awas, ya, kalau sampai kamu menggunakan kekuatanmu lagi. Hari ini aku sudah memaklumi karena kamu menggunakannya untuk menolong nyawaku, terima kasih. Tapi, jika hal sepele seperti ini saja kamu harus menggunakan energimu, aku benar-benar tidak suka, Zhi."


Zhi mendengus pasrah, wajahnya seolah menunjukkan rasa malas ketika dia melihat hasil karyanya yang mencengangkan. Ya, dapur itu sangat berantakan karena ulah Zhi yang heboh mencoba memasak.


"Zhi, bisa bersihkan ini?" tanya Calvin sambil menyodorkan kain untuk mengelap dapurnya.


"Hanya begini, semua orang bodoh juga bisa, Vin." Zhi langsung menyaut kain itu lalu mengelap meja dapur yang terbuat dari marmer tersebut.


Zhi sesekali merapikan barang yang sudah dipakainya tadi, mengembalikan ke tempat semula. Wanita itu kini tampak rajin. Perlahan, dia mulai mengerti tugas-tugas manusia yang sebernya sangat mudah baginya.


"Setelah itu beres, aku akan mengajarimu memasak, kali ini harus bisa, Zhi," tutur Calvin seraya melirik ke arah Zhivanna. Seketika dapur itu hening saat mereka sudah menyelesaikan ritualnya membersihkan dapur. Namun, Calvin kembali mengeluarkan bahan mentah yang ada di kulkas. Zhivana mulai menghafalkan nama-nama sayuran yang sudah berada di meja marmer tersebut atas ajaran Calvin.


Beberapa menit kemudian, suara bel berbunyi terdengar di telinga. Keduanya saling tatap. Calvin menyuruh Zhi untuk melihat melalui jendela siapa yang datang, sedangkan dia sedang fokus pada bahan sayuran yang tengah dikerjakannya.


"Siapa, Zhi?" teriak Calvin dari dapur. Zhi yang berada di ruang tamu sambil mengintip jendela pun menyahut pertanyaan Calvin dengan cepat.


"Ah, hanya orang tak penting, Vin. Aku akan mengurusnya sebentar."


Tanpa izin dari Calvin, Zhi membuka pintu dengan sengaja. Dia mengulas senyum sinisnya lalu berkata, "Hai, wanita tua," sapa Zhi dengan melipat kedua tangannya, bersedekap dengan bersender daun pintu.


"Kenapa kamu ada di sini, palakor!" geram Gracella, tatapan tajam itu menghunus mata Zhi. Namun, Zhi menanggapinya dengan sangat santai.


"Tentu saja aku di sini, bukankah itu wajar untuk sepasang kekasih? Kenapa kamu sangat heran?" celetuk Zhi saat dia mendengar pertanyaan Gracella.


Dia sengaja memanas-manasi Gracella agar wanita itu cemburu dan lekas menjauhi Calvin. "Kau, ada perlu apa datang kemai? Mau bertemu Calvin? Sayangnya dia sudah enggan melihat wajahmu yang memuakkan itu!" Zhi tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Jaga mulut busukmu itu! Bukan urusanmu kenapa aku ke sini. Aku hanya ingin berbicara pada tunanganku. sebaiknya pergilah, jangan mengganggu urusanku dengan Calvin!" perintah Gracella sambil menepis tibuh Zhi untuk minggir.


Zhi langsung menolak tubuh wanita itu dengan satu tangannya. "Hai, wanita keriput! Kebalik dodol! Harusnya aku yang mengusirmu, aku tinggal bersama Calvin di sini. Jadi aku juga berhak menentukan siapa tamu yang layak aku terima masuk. Lagi pula, kamu bukan lahi tunangannya. Mantan. Ingat itu!" Lagi-lagi Zhi mengeluarkan suara tawanya yang sedikit memakinya.


Namun, disela-sela perdebatannya dengan Zhi, Gracella sudah tidak bisa menahan kesabarannya. Gracella langsung menjorokkan tubuh Zhi dengan kasar hingga dia terjatuh.


"Dasar wanita iblis!" umpat Zhi pada Gracella seraya berdiri.


Gracella semakin geram, emosinya terpancing saat Zhi mengatainya. Ditambah lagi, Zhi mengatakan bahwa dia tinggal bersama Calvin. Wanita itu lagi-lagi berulah, dia menjambak rambut Zhi yang terikat ke belakang. Tarikan itu cukup kuat, sehingga membuat Zhi merasakan kesakitan.


Tak tinggal diam, Zhi yang begitu kesal mendapat perlakuan tak hormat dari Gracella, dia langsung menolak tubuh Gracella dengan reflek, tanpa berniat mengeluarkan kekuatannya. Namun, tak disangka-sangka hal itu cukup membuat Zhi terkejut.


Dalam hitungan detik, Gracella terpental jauh hingga ke halaman, tepat di depan mobilnya yang tetparkir di deoan pagar. Zhi menepuk tangannya, menebas seolah lega karena sudah menyingkirkan wanita pengganggu yang begitu menyebalkan. Tak lupa, dari kejauhan, Zhi melambaikan tangan dan say good bye pada Gracella serta menerbitkan senyum smirk-nya.


"Auwh!" pekik Gracella saat dia berdiri setelah tubuhnya diempaskan oleh Zhi. "Apa-apan ini! Dia siapa sebenarnya, kenapa tenaganya seperti tak wajar? Sungguh tidak masuk akal sama sekali."


Gracella membuka pintu mobilnya dan menjatuhkan tubuhnya kasar ke kursi kemudi. "Aku tidak akan tinggal diam, perempuan laknat!"


"Siapa, Zhi?" tanya Calvin.


"Wanita tuamu itu sangat menyebalkan!" sergah Zhi dengan kesalnya.


"Wanita tua? Mama datang?"Calvin mengerutkan dahinya.


"Gracella, Vin. Gracella! Hish!"


"Oh, mau apa dia kemari?" Calvin bertanya, pandangannya masih fokus pada wortel yang dipotongnya.


"Entahlah, sudah kuusir." Zhi tertawa dengan bangganya, Calvin pun hanya tersenyum tipis mendengar penuturan Zhi.

__ADS_1


"Sini, bantu aku menyiaokan bahannya! Teruskan memotong, lihat contohnya, jangan terlalu tebal seperti tadi. Orang yang makan pun akan ketakutan melihat ukurannya." Calvin memperhatikan cara Zhi memotong, tangan Calvin pun reflek membenarkan cara Zhi memegang pisau yang terlihat kaku.


"Begini, Zhi." Tangan Calvin menyentuh tangan Zhi, seperti menggenggamnya. Lelaki itu berada tepat di belakang Zhi tak berjarak.


"Zhi menengok ke samping, dia memperhatikan wajah Calvin dari dekat. Bibir merah Zhi hampir saja menyentuh pipi Calvin yang kini berdiri agak sejajar karena Calvin sedikit membungkuk berusaha menjaga jarak.


"Zhi, lihat itu. Jangan aku!" Jantung Calvin terasa berdebar saat wajah Zhi hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.


Sial, sepertinya aku harus segera periksa ke dokter spesialis jantung. Ada yang tidak beres. Kenapa dia selalu membuatku jantungan seperti ini?


Calvin bermonolog dalam hatinya, seraya melepas genggamannya pada tangan Zhi.


"Calvin, pipimu memerah. Kamu kenapa? Sakit?" tanya Zhi menelisik, memusatkan matanya pada wajah Calvin. Wanita iti malah mengecek dahi Calvin dengan punggung tangannya, dia pikir Calvin demam akibat dari laut pagi tadi.


"Sepertinya aku sakit jantung. Sudah jangan pikirkan! Lanjutkan memotongmu, aku akan meneruskan yang lain," dalih Calvin sembari memalingkan wajahnya.


Satu jam berlalu, masakan pun telah tersaji rapi di atas meja. Zhi begitu bangganya saat dia berperan dalam masakan itu. Terlihat sangat menggugah seleranya.


"Ayo, kita makan!" ajak Calvin menggeserkan kursi untuk Zhi. Mereka pun menikmati makan siangnya.


Sementara itu, di jalanan kota nan padat, arus lalu lintas seakan memenuhi jalan raya. Gracella mengemudi dengan penuh emosi, sesekali dia mengingat perlakuan Zhi. Ini kedua kalinya dia dipermalukan oleh Zhi. Dia seakan kalah dan tak mampu melawan wanita yang kini telah bersama Calvin. Beberapa kali dia memukul setirnya.


Wajahnya sudah merah padam akibat hati panas yang disebabkan kelakuan Zhi. Dia tidak habis pikir, bagaimana bisa wanita itu melemparnya hingga terpental ke pinggir jalan. Itu sungguh tidak masuk akal.


Dipikir seribu kali pun, jika manusia normal tak akan ada yang bisa melakukan hal mustahil seperti itu. Kecuali orang dewasa yang melempar anak kecil seperti boneka. Gracella terus memikirkan hal itu, dia sempat mencurigai jika Zhi adalah wanita pemilik sihir ilmu hitam.


.


.

__ADS_1


Berambung ....


__ADS_2