
“Zhi, Ayah belum terlambat menyelamatkanmu, kan? Maafkan Ayah,” batin Chris saat memperhatikan Zhi yang tak berdaya di atas ranjang.
Chris lalu mulai berkonsentrasi, mendekat dan duduk di samping Zhi. Dia memegang batu liontin Zhi, menransfer energinya agar Zhi segera tersadar dari tidurnya. Akan tetapi, sihir Erdo begitu kuat, lelaki itu ternyata sudah melemahkan energi Zhi agar wanita yang diinginkananya itu tidak mampu keluar dari kerajaannya. Tak menunggu lama Zhi pun akhirnya mengerjap berkat pertolongan Chris. Namun, sihir yang dipunyai Chris kini melemah.
“Ayah ..,” panggil Zhi dengan suara lembutnya. Zhi pun langsung terbangun dan memeluk ayahnya. Dia sangat tahu, melihat ayahnya yang sudah menolongnya, itu artinya Chris sudah siap mempertaruhkan nyawanya.
“Sudah, Nak. Sebaiknya kita lekas pergi dari sini sebelum Erdo mengendus keberadaan kita.” Chris pun mengurai pelukan putrinya dan langsung beranjak berdiri. Beruntung, mereka bisa lolos hingga ke gerbang utama melalui lorong yang tak begitu banyak prajurit berjaga.
Sementara itu, Erdo beriat menyadarkan Zhi dan menemuinya di kamar. Dia sudah tidak sabar akann melaksanakan pernikahannya. Namun, apa yang dilihatnya kini begitu mengejutkan, Zhi tidak ada di ranjang tersebut. Erdo murka, dia lantas berteriak kencang dan berhasil membuat beberapa prajurit yang berjaga berkumpul menemui Erdo. Lelaki itu memejamkan matanya dan menerawang ke mana Zhi pergi.
Semua prajurit pun kini menjadi sasaran kemarahan Edo karena tidak becus berjaga hingga ada penyusup masuk pun mereka tak menyadarinya.
__ADS_1
“Venus!” teriaknya memanggil orang kepercayaanya.
“Lenyapkan semua prajurit tolol itu!”
“Baik, Tuan.”
Tanpa menunggu lama, Venus pun menjalankan tugasnya. Banyak prajurit yang kini terbunuh dengan sekali sentuhan Venus.
“Berhenti!” teriak Edo saat melihat Zhi dann Chris tengah berusaha kabur. Mereka saling menggenggam tangan masing-masing. Sayang, energi mereka untuk menghilang hanya terbatas, sehingga berapa kali pun mencobanya tetap gagal.
Erdo menghentikan langkah keduanya dengan kekuatan sihirnya. Erdo pun lalu menghampiri Chris dengan tatapan membunuh.
__ADS_1
“Berani sekali kau datang kemari dan mengambil Zhi! Apa kau sudah bosan hidup, hah?” Erdo menyentuh bahu Chris, di mana hawa panas seolah tersalur begitu saja ke tubuhnya semakin membuatnya melemah.
Zhi yang mengetahui hal itu, dia memohon pada Erdo agar melepaskan ayahnya. Namun, sekali pun permintaan Zhi tak digubrisnya.
“Diamlah, Zhi! Aku akan sedikit memberi pelajaran pada Ayahmu ini!”
“Aku mohon, kalau kau mau menikah denganku, aku bersedia. Apa pun yang kau mau, aku akan menurutinya. Tapi jangan Ayahku! Aku mohon, Erdo!” suara Zhi penuh dengan ketakutan dan kekhawatiran. Dia tidak mau nasib ayahnya akan berakhir begitu saja di tangan Erdo.
Saat Chris sudah melemah, dia lekas menyadari kematiannya sudah di depan mata. Lelaki paruh baya itu lantas melepas cincin opalnya dan memberikannya pada Zhi saat tangan anaknya masih berada dalam genggamannya. Zhi pun menerima cincin batu opal tersebut. Hatinya sesak seakan tak kuasa melihat nyawa ayahnya terancam. Apalagi, dia tak mampu menolongnya, mengingat Erdo memanglah penguasa. Tak ada satu orang pun yang bisa menandingi kekuatannya.
Zhi terus menangis dan mengeratkan tautan tangannya dengan Chris. Matanya melukiskan kesedihan mendalam, dia tak menyangka jika semuanya akan seperti ini. Ayahnya rela menantang maut demi menyelamatkan sang anak.
__ADS_1