
Lelaki itu hanya pasrah akan nasibnya. Toh, mereka tidak akan berhasil kabur jika Erdo sedang berada tepat di hadapannya. Chris tetap berusaha menyalurkan semua energi sihirnya untuk Zhi. Tatapannya mengarah pada Zhi, telepati terhubung begitu saja. Zhi paham apa yang ayahnya sampaikan sekarang. Chris menginginkan kebebasan Zhi hidup di dunia, dan menyuruhnya pergi saat energi darinya tersalurkan karena sudah bisa dipastikan jika Zhi mempunyai energi lebih, dia pasti akan bisa menghilang secepat kilat dan mampu mengelabuhi Erdo.
“Pergilah, Nak. Jangan pedulikan Ayah. Kebahagiaanmu lebih berharga saat ini. Masa tugas Ayah sudah selesai untuk menjagamu. Hiduplah bersama lelaki yang kamu cintai,” ucap Chris dalam hatinya, tetapi Zhi masih bisa mendengarnya langsung melalui batin. Tatapan mata Chris begitu sayu, cahaya kehidupan sudah hampir habis dalam dirinya.
“Ayah, tolong jangan tinggalkan Zhi dan Ibu.” Zhi mulai menitikkan buliran hangatnya saat melihat sang ayah tak berdaya. Dia pun kini memohon pada Erdo untuk membebaskan ayahnya dan menyudahi penyiksaannya—penyiksaan yang terlihat perlahan, tetapi mematikan.
“Setelah Ayah tiada, bawalah abu kematian Ayah bersama Ibumu, Nak.” Chris terus mengatakan semua pesan dan nasihat pada Zhi agar menjaga dirinya baik-baik setelah kepergiannya.
__ADS_1
Tubuh Zhi merespons energi yang baru saja masuk ke tubuhnya begitu besar. Namun, hatinya seakan lemah menyaksikan penderitaan ayahnya di depan mata, raganya deakan lunglai tak kuasa. Jika diizinkan, dia lebih memilih dirinya yang tersiksa daripada ayahanda ercintanya.
“Jika kau tetap berniat membunuh Ayahku, aku bersumpah akan mematikan jiwaku sendiri, sehingga kau hanya akan memiliki abuku, pikirkan baik-baik! Aku tidak akan membiarkan jiwa Ayahku lenyap di tanganmu! Dengar itu!” kemurkaan Zhi kali ini mampu ditangkap oleh Erdo. Lelaki itu pun menghentikan aksinya untuk menyiksa ayah Zhi karena dia juga tidak mau kehilangam Zhi begitu saja. Susah payah dia mendapatkannya, tidak mungkin semudah itu melepaskannya lagi.
"Zhivanna ... rupanya kau mulai berani mengancam!" Erdo bertepuk tangan sebagai penghargaan pada Zhi dengan senyuman smirknya. "Lanjutkanlah, aku sangat menyukai keberanianmu!" Lelaki menjijikkan itu membuat Zhi semakin geram.
Tujuan Chris memanglah mau menyelamatkan Zhi, tidak mungkin dirinya akan mengiyakan begitu saja penawaran Erdo. Namun, raganya kini tak mampu berbuat apa-apa. Otaknya pun seakan mati tak dapat memikirkan cara. Padahal, biasanya lelaki itu penuh dengan kecerdikannya mengelabuhi Erdo.
__ADS_1
"Izinkan aku mengantar Ayahku kembali ke Ibu, setelah itu aku akan menepati janjiku menikah denganmu," ucap Zhi, dia terpaksa harus mengorbankannya nyawanya, memasrahkan seluruh raga untuk sang penguasa alam Negeri Luchania, bersiap untuk menjadi ratu sekaligus budak Erdo.
Bukan Erdo namanya jika dia mudah memercayai ucapan Zhi begitu saja. Dia menyuruh Venus untuk mengawasi pergerakan mereka agar tidak kecolongan.
Sesaat kemudian, Zhi dan Chris pulang ke kediamannya diantar oleh Venus. Lelaki pesuruh Erdo pun terus memperhatikan keluarga tersebut. Matanya menyorot tajam ke arah Chris sebagai isyarat ancaman, padahal lelaki itu kini tengah lemah di perbaringannya.
Terlalu menyakitkan jika hubungan antara anak dan orang tua harus teejebak dengan pilihan yang sulit, ketika mereka harus merelakan hidupnya masing-masing dan ketika nyawa menjadi taruhannya.
__ADS_1