
Zhi memang dikirim ke laut oleh sang ayah melalui sebuah portal. Tempat di mana menghubungkan dua dimensi dunia yang berbeda di dasar samudra.
Bukan hal sulit bagi makhluk yang berada di Negeri Luchania untuk mencari keberadaan Zhi jika portal itu masih terbuka. Sialnya, karena hal itulah Erdo bisa menemukan lokasinya saat dia melihat dari cerminnya. Hanya menunggu waktu kapan pria tersebut akan menemuinya. Sebab itu, dia harus segera menutup penghubung tersebut sebelum terlambat.
"Alat apa yang harus dipersiapkan, Zhi? Bisakah kamu mengatakan sesuatu yang jelas? Jangan membuat teka-teki yang aku tak tahu," geram Calvin. Helaan napas kasar terdengar jelas di telinga Zhi.
"Alatnya, apa ya ... aku bingung. Yang jelas tugas kamu harus menutup portal yang menghubungkan antar dua dunia, Vin," ujar Zhi sambil menggaruk tengkuknya karena bingung bagaimana cara menjelaskannya kepada Calvin.
Melihat Zhi yang tampak kebingungan, Calvin pun bertanya dengan sabar. "Ya udah, di mana portalnya?"
"Dasar laut," jawab Zhi dengan santai.
Sebuah bantal di samping Calvin sukses melayang ke arah Zhi dan mendarat tepat di wajahnya. "Dasar laut kamu bilang?"
__ADS_1
"Calvin! Kenapa melempar bantal padaku? Apa yang salah dengan ucapanku? Hish, lelaki kasar!" Zhi mendengus kesal dan melemparkan kembali benda tersebut kepada Calvin dengan geram.
"Apa kau pikir aku ini ikan, Zhi? Bagaimana bisa aku menyelam ke dasar laut? Dan ini masih dini hari. Lihat! Matahari aja masih belum terlihat. Apa kamu mau aku mati di lautan, hah?"
"Ya, terserah bagaimana caramu, yang jelas kamu harus membantuku menutup portal itu dengan batu meteor yang ada di dalam sana.
Calvin hanya bisa mengacak-acak rambutnya dengan kasar mendengar permintaan Zhi. Dia kembali merebahkan tubuh di ranjang sambil sejenak berpikir bagaimana caranya membantu makhluk aneh tersebut.
Namun, Zhi seakan tak sabar karena mereka tidak punya banyak waktu sehingga wanita tersebut kembali menggoyangkan kaki Calvin di depannya. "Vin, ayo cepat! Kok malah tidur lagi sih? Kita nggak punya banyak waktu."
Tak lama kemudian, Calvin pun kembali bangun dan memilih untuk membantu Zhi. "Baiklah, kita ke sana. Memangnya seberapa besar batu itu, Zhi? Apa kamu yakin aku bisa? Kamu ikut menyelam bersamaku, kan?" tanya Calvin seraya beranjak dari posisinya dan berjalan mengambil sebuah mantel tebal untuk membalut dirinya agar tak kedinginan terkena angin malam di luaran sana. Padahal, sebentar lagi dia harus menyelami lautan yang begitu dingin saat pagi hari.
"Tidak mungkin aku masuk ke dalam sana, Vin. Aku sudah menjadi manusia. Bisa-bisa aku tertarik magnet duniaku dan kembali ke sana. Bagaimana pula nanti kalau sampai aku terlihat oleh anak buah Erdo? Mengerikan tahu!"
__ADS_1
"Jadi, kau menyuruhku menyelam sendirian?" Calvin seketika membelalakkan mata ke arah Zhi, tetapi wanita tersebut hanya mengangguk layaknya makhluk tak berdosa atas segala permintaannya. Dia meringis, memasang wajahnya yang dibuat semanis mungkin.
"Hah, sungguh merepotkan!" gumam Calvin.
"Tapi, Vin. Kalau memang kamu enggak mau, aku juga tidak memaksa kok. Aku siap meninggalkanmu, kamu senang, kan, kalau aku pergi dari bumi ini?" ucap Zhi memelas, dia berpura-pura sendu untuk menarik perhatian Calvin.
"Cukup, Zhi! Tak perlu berakting untuk mendapatkan simpati dariku. Aku akan membantu sebisaku. Puas?" Calvin mengambil barang-barang yang perlu dibawanya.
"Terima kasih, Calvin. Kamu memang lelaki paling tampan dan paling baik yang pernah aku temui. Yuk berangkat!" Zhi menyambar lengan Calvin dengan semangat.
Beberapa menit kemudian, mereka menikmati jalanan panjang menuju lautan. Butuh waktu sekitar satu jam lebih untuk menuju ke sana. Kabut petang dini hari masih tebal menyelimuti jalanan, membuat kaca di depan Calvin mengembun. Sesekali Calvin menyalakan pembersih kaca, bergerak ke kanan dan ke kiri.
Calvin melirik Zhi sekilas. Tersenyum, lalu kembali menatap jalanan dengan kabut yang mulai menipis. Zhi tengah duduk di sebelah Calvin, dia malah tertidur dengan pulasnya, sedangkan Calvin sangat berkonsentrasi dengan kemudinya.
__ADS_1
Bersambung ...
Maaf hanya up sedikit, kondisi tidak memungkinkan untuk berpikir banyak. Lagi drop gengs.😪 Jangan lupa like dan komennya ya, terima kasih.