Wanita Dalam Liontin

Wanita Dalam Liontin
Kembali Ke Luchania


__ADS_3

Malam sudah mulai larut, bersamaan dengan hujan yang semakin deras mengguyur kota. Di kediaman Calvin, tampak empat orang masih terjaga di sebuah ruang. Mereka bahkan tidak tidur walau sudah dini hari menjelang subuh karena saat ini Chris sedang menransferkan semua energi di dalam batu opal itu ke tubuhnya Calvin.


Mengadaptasikan energi sihir tidak semudah ketika saat melepaskannya. Memasukkan ke tubuh yang asing cukup menyulitkan, apalagi tergolong dari makhluk bumi yang baru saja akan mendapatkan kekuatan tersebut. Tentu saja cukup sulit mempelajarinya satu per satu.


“Apakah tubuhmu sudah bisa menerima dengan baik, Vin?” tanya Chris setelah selesai menyetel energi ke tubuh menantunya itu.


“Cukup baik dari sebelumnya.” Calvin yang kini tengah duduk bersender di ranjang tampak sedikit kesulitan untuk bangun akibat tubuhnya yang baru saja dimasuki oleh energi asing. Dia yang sudah menjadi keluarga Chris, mau tidak mau harus menerima perubahan nasib pada hidupnya yang berbeda dari sebelumnya. Dia terpaksa harus ikut campur dengan dunia mereka.


Zhi yang duduk di samping Calvin tampak kasihan dan tak tega melihat suaminya tengah lemah. Wanita itu terus membelai dahi serta rambut Calvin, sesekali memerhatikannya.  Namun, masih ada gurat bahagia juga yang dirasakannya karena pada akhirnya dia akan memulai hidup baru bersama Calvin, meski belum menikah di bumi.

__ADS_1


Kekhawatirannya akan keselamatan Calvin memang begitu besar saat nanti akan menghadapi sesuatu yang besar.


“Jika semuanya sudah siap, sebaiknya kita segera berangkat, karena waktu kita tidak banyak,” tutur Chris, dia berdiri dan mengajak semua orang untuk berangkat e negerinya untuk menyelesaikan sesuatu yang memang sudah waktunya diakhiri.


“Baiklah, aku sudah siap.” Calvin pun mulai perlahan berdiri. Zhi yang berdiri di sebelahnya pun memberi kekuatan untuk Calvin.


“Calvin, kamu ingat  dab hafal semuanya, kan? Apa yang harus kamu lakukan nanti.” Zhi memastikan apa yang diajarkan ayahnya tadi sudah diingat baik-baik di kepalanya.


“Aku masih ingat dan semoga aku bisa, meskipun aku sendiri masih ragu dengan kemampuanku. Tapi, aku akan tetap berusaha demi kamu.” Calvin pun menggenggam erat tangan Zhi, meyakinkan wanita itu percaya dengan usahanya nanti.

__ADS_1


Kini, semuanya telah berada di pantai bersiap untuk pulang ke Negeri Luchania. Namun, sebelumnya, tak lupa orang tua Zhi mengembalikan raga yang dipakainya selama beberapa jam yang lalu, mereka meninggalkan raga itu di tempat yang aman dan memastikannya selamat.


Tak lama setelah melewati portal, mereka sampai ke kediamannya. Akan tetapi, mereka masih memantapkan langkan dan rencananya agar tidak gagal dan berakibat fatal.


“Ayah, Ibu. Sebelum kita memulainya, apakah kalian bisa menjamin akan keselamatan Calvin? Aku tidak ingin kehilangannya,” kata Zhi dengan seraya menautkan tangannya ke lengan Calvin.


“Zhi, kamu tenang saja, buat apa kita pulang ke sini kalau kita tidak yakin akan selamat?” timpal Chris. Jawaban tersebut cukup membuat Zhi lega.


“Zhi Sayang, kamu tidak perlu khawatir. aku akan berjuang sekuat tenaga, aku tidak akan membiarkanmu sendirian. sampai kapan pun aku akan tetap di sampingmu, pegang janjiku!"

__ADS_1


Calvin, kamu panggil aku dengan sebutan ‘Sayang’ ... aku nggak salah denger, kan?” ucapan janji Callvin untuk terus bersama Zhi memang cukup membuatnya senang, tetapi sebutan yang didengarnya untuk pertama kali sepertinya cukup mengalihkan semuanya.


__ADS_2