Wanita Dalam Liontin

Wanita Dalam Liontin
Pertarungan


__ADS_3

Venus mendengar perdebatan antara Erdo dan Chris. Dia berjalan terhuyung menghampiri mereka, langkah tertatih menahan sakit di dada. Namun, Venus tetap nekat untuk menolong Erdo. Darahnya masih terus menetes tak terhenti dari mulutnya. Meski Erdo sudah membuatnya hampir mati, tetapi dia masih membela tuannya.


“Tuan, tolong sembuhkan saya! Maka saya akan melawan mereka,” ucap Venus yang berbisik pada Erdo seraya memegangi dadanya. Dia sangat berhati-hati dalam berkata, jika salah bicara dan meremehkan, sudah pasti Erdo tidak akan menyukainya.


Erdo pun menoleh. Venus termasuk satu-satunya prajurit terkuat yang setia dan begitu taat pada Erdo. Bahkan, seberapa sering dan parahnya Erdo menghukum, tetap saja dia masih mau mengabdi tanpa ada kata benci.


Sadar akan dirinya yang hanya seorang diri, Erdo pun menyetujui ucapan Venus. Meski dia merasa bisa mengalahkan keempat orang tersebut dengan sekejap, tetapi Erdo berniat ingin bermain-main juga sebelum mematikan Chris dan keluarganya, kecuali Zhi.


Tanpa menjawab dan mengucapkan sepatah kata pun, Erdo langsung menghubungkan energi sihir melalui mata Venus, kedua mata tersebut saling tatap beberapa detik, Venus merasakan aliran itu masuk ke tubuhnya. Seketika dia kembali berdiri kuat, kesakitan yang tadi dirasakannya hilang dalam waktu sekian detik.

__ADS_1


“Terima kasih, Tuan.”


Chris menyuruh Emma dan Zhi untuk menyingkir terlebih dahulu untuk melindungi diri. Kedua wanita yang tengah berdiri bergandengan itu pun mundur menjauh karena Chris dan Calvin akan memulai pertarungan dengan iblis di depannya.


Zhi menggenggam erat tangan Calvin sebagai isyarat memberi kekuatan dan meyakinkan bahwa lelaki itu pasti bisa melakukannya walau pertarungan tersebut pertama kalinya untuk Calvin. Berkelahi dengan manusia menggunakan kekuatan raga, bukan seperti makhluk di alam lain yang mencampurkan raga dengan energi sihir.


Saat kedua wanita sudah berada di tempat yang aman dan penuh kewaspadaan, Chris dan Calvin melangkah perlahan mendekati Erdo dan Venus.


“Baik. Izinkan aku untuk membalaskan dendam pada Erdo, Yah.”

__ADS_1


“Ya, berusahalah! Ayah yakin kamu pasti bisa.”


Langkah Calvin begitu mantap untuk mendekat ke hadapan Erdo tanpa rasa ragu ataupun takut. Saat sudah berada di depannya, mata mereka beradu tatap seolah menyimpan dendam yang begitu membara.


Erdo langsung menghentikan Calvin dengan telapak tangan menyentuh dadanya, mengeluarkan hawa panas menyengat kulit Calvin meski terlapisi kain yang membalut tubuhnya.


“Bersiaplah mati di tanganku!” Suara Erdo terdengar menyeramkan. Namun, hal itu sama sekali tidak menyulutkan semangat Calvin menyerang Erdo.


Cavin pun dengan cepat menepis tangan Erdo, tubuhnya sedikit terangkat seperti melayang lalu menendang kuat tepat di dada Erdo. Perlakuan Calvin membuat Erdo terkejut dan hampir saja tubuhnya terhuyung ke belakang.

__ADS_1


Erdo semakin murka, dia tak menyangka ternyata Calvin sudah mempunyai energi sihir yang cukup kuat untuk melawannya. Namun, tak sampai di situ, Erdo kembali beraksi dengan bola api yang keluar dari telapak tangannya. Lemparan itu begitu cepat sehingga Calvin tak sempat menghindar, hingga mengenai lengannya.


Sementara itu, Chris tengah bertarung dengan prajurit tunggal Erdo. Venus yang tak kalah kuat terus berusaha menyerang Chris dengan sihir apinya. Akan tetapi, lelaki itu berhasil menghindar dan melemparkan sengatan cahaya yang keluar dari batu opal—membuatnya silau dan terpental menabrak dinding kerajaan.


__ADS_2