
"Mau memberi pidato! Tentu saja mau menegurnya, kalau perlu memberinya pelajaran!"
"Ha ha ha ... kau lucu, Vin!" Zhi tertawa lebar begitu mendengar penuturan Calvin yang menggelitik baginya.
"Kenapa masih menggenggam tanganku? Mau ikut ke bawah?" tanya Calvin seraya melihat tautan tangan mereka. Zhi masih menggenggamnya erat.
"Hmm ... boleh juga. Tapi sebenarnya aku malas melihat tampangnya. Dia hanya membuatku semakin geram. Kalau di bumi tidak ada hukum, aku pasti sudah meledakkannya, sayangnya tidak seperti di Luchania yang bebas melakukan apa pun!"
"Bebas kamu bilang? Kalau di sana kamu bebas melakukan apa pun, kamu tidak akan sampai sini," sahut Calvin, dia melepaskan tangan Zhi. Kemudian berjalan keluar daru kamar, sesampainya di depan pintu kamar, Calvin berkata, "Jangan lupa, ganti bajumu, kau sudah seperti seorang pembunuh dengan lumuran darah di baju."
"Calvin, aku ikut aja deh! Aku ingin bermain drama di bawah." Zhi menaik turunkan alisnya mencoba merayu Calvin.
Sejenak, Calvin berpikir bagaimana sebaiknya harus bertindak pada Gracella. Namun, Zhi seolah memberikan jawaban atas kebimbangannya. Calvin lalu memutar badan dan memusatkan pandangannya pada Zhi. Dia beejalan memasuki kamar Zhi lagi untuk menunggunya.
"Ah, sepertinya kamu memang seharusnya ikut ke bawah, Zhi. Tapi, ganti dulu pakaianmu!"
"Siap, Bos!" Zhi memberi hormat pada Calvin layaknya seorang prajurit pada pemimpinnya.
Zhivanna gegas mengambil baju dan menggantinya di kamar mandi tanpa perintah Calvin sebelumnya. Kali ini, dia sudah membiasakan diri untuk menjaga tubuhnya agar terlihat oleh mata Calvin. Meskipun, lelaki itu sudah pasti akan menghindar jika disuguhi pemandangan yang mengundang hasrat kelakiannya.
"Ayo, turun!" ajak Calvin setelah Zhi rapi dengan penampilannya. Namun, luka di pipinya bahkan tidak di tutup dengan kain atau bahkan diplaster.
"Lukamu?"
"Biarkanlah, lagipula darah juga sudah tidak keluar, kan?"
"Tapi itu lumayan lebar, Zhi. Aku ngeri melihatnya."
__ADS_1
"Diamlah, Vin. Ini bukanlah masalah besar Ayo ceoat turun, keburu hilang nanti tuh orang!"
Calbin mengernyitkan dahinya hingga alisnya hampir menyatu saat menatap luka Zhi yang terbuka, bahkan luka itu lumayan dalam hingga memperlihatkan bagian dalam kulitnya. Bekas darah di dalamnya masih terlihat kehitaman. Namun, tak lagi merembeskan cairannya lagi.
Keduanya menuruni tangga beriringan. Gracella dan Eryn yang tengah duduk terdiam di ruang tamu, seketika melihat ke atas tangga, memastikan suara langkah itu.
"Sayang, duduk sini!" perintah Eryn pada Calvin.
Wanita itu menepuk sofa kosong di sebelahnya dan langsung diduduki oleh Calvin, sebelahnya lagi Zhi.
Tatapan mata Calvin begitu tajam saat meliri ke arah Gracella yang duduk agak berjauhan di sofa terpisah. Grace hanya berusaha memasang raut sendu, berharao Calvin tak akan memarahinya karena dia sudah menyelakai Zhi.
"Calvin, kenapa dia tinggal di sini? Dan kamu tidak pernah bilang sama Mama. Berani sekali kalian berduaan tinggal satu rumah? Mama tidak pernah mengajarimu seperti ini, Calvin. Jelaskan sama Mama!"
"Aku akan menjelaskan semuanya, Ma. Tapi, setelah dia pergi dari rumahku! Aku rasa dia sudah tidak ada keperluan lagi, karena tujuannya kemari sudah terlaksana dengan sempurna." Calvin masih menghunuskan tatapan tajam pada Gracella. "Bukan begitu, Nona Gracella?" lanjutnya dengan seringai sinisnya.
"Aku tidak bodoh dan ... jangan pernah lagi memanggil mamaku dengan sebutan 'Mama'. Telingaku sakit mendengarnya, dasar tidak tahu malu! Cih!" tegas Calvinm Zhi yang melihat hal itu, dia tersenyum penuh kemenangan pada Gracella.
"Niat busukmu sudah tercium, bahkan saat Zhi meneleponku dan memeberitahu bahwa kau datang ke sini. Lagi, aku tidak menyangka, ternyata seorang Gracella adalah wanita kejam yang berani menyelakai orang. Apa jangan-jangan kau memang berniat menjadi seorang pembunuh? Sungguh mengejutkan!"
Eryn tidak pernah melihat anak lelakinya memarahi seorang wanita sebelumnya. Namun, hari ini dia cukup dibuat terkejut karena Calvin bergaya seperti papanya jika sedang marah. Emosi terkontrol dan dengan suara yang pelan tetapi tegas. Hal itu sudah sangat membuat mangasanya ketakutan dan penuh ancaman. Apalagi selama dengan Calvin, dia tidak pernah sama sekali dibentah olehnya.
"Ma, Mama beruntung karena aku tidak jadi menikahinya, itu artinya Mama gagal mendapatkan menantu biadab seperti dia. Bisa-bisa nyawa kita akan habis ditangannya," ucap Calvin, sudut bibirnya terangkat sedikit menandakan dia tengah tersenyum dengan penuh kebencian.
"Lihat, Grace! Apa kau sudah puas menyelakai wanitaku?" Calvin menggenggam tangan Zhi dan melirik ke arahnya. Suara gemetar yang keluar dari mulut Calvin, menunjukkan dia menahan amarahnya agar tak memuncak. Zhi hanya menunduk, dan berpura-pura mengusap matanya yang bahkan tidak basah sama sekali. Rupanya mereka adalah pemain handal jika dipasangkan satu sama lain.
Eryn membuka mulutnya tak percaya jika Calvin menyebut Zhi sebagai wanitanya, tetapi dia hanya diam dan membiarkan Calvin melanjutkan ucapannya. Nanti, saat sudah tenang, dia pastikan akan menanyakan semuanya pada sang anak.
__ADS_1
"Untuk pertama kalinya kau dengar baik-baik! Sekali lagi kau berani menyentihnya atau bahkan menyelakainya! Aku yidak segan-segan memberimu pelajaran. Kau bisa saja sekarang hidup tenang, tapi jangan salahkan aki jika suatu hati nanyi, kamu akan mengemis di jalanan dan mengharao belas kasihan orang di luaran sana. Paham!" seru Calvin.
"I--iya, Vin. Maaf. Aku benar-benar tidak sengaja."
"Tidak sengaja kau bilang? Orang bodoh juga tau bahwa ini adalah luka yang sengaja dibuat."
Calvin lalu menatap, Zhi. "Sayang, apa kamu mau melaporkannya ke polisi?"
"Jangan, Sayang! Tidak perlu. Kasihan dia, biarkanlaj dia hidup tenang," ucap Zhi.
Gracella melirik sekilas wajah Zhi, tatapannya penuh kebencian pada wanita yang duduk di samping Calvin itu.
"Kau lihat, Grace! Betapa baiknya Zhi, bahkan dia tak mau menhurusnya ke kantor polisi karena kasihan denganmu. Jadi, sebaiknay kau pergi dari sini sebelum Zhi berubah pikiran," ancam Calvin.
Sialan! Awas kau wanita jallang! Kau terus membuatku terpojok. Dasar setan! batin Gracella. Dia berdiri, kemudian berniat menyalami Eryn. Namun, wanita paruh baya itu malah melengos dan mengabaikannya.
Gracella merasa dirinya sangat terhina kali ini, umpatan kasar terus keluar dari mulutnya seolah tengah membaca mantera. Dia berjalan keluar rumah Calvin dengan langkah kakinya yang dibuat kasar.
Kini di dalam ruang tamu itu hanya ada Eryn, Calvin, dan Zhi yang saling melempar tatapan.
"Calvin, kamu berhutang penjelasan sama Mama! Kenapa dia bisa tinggal bersamamu? Kalian tidak berbuat macam-macam, kan?" tanya Eryn setengah menuduh.
"Ma, Calvin masih tau batasan. Jangan marah-marah begitu. Calvin akan menjelaskan semuanya."
.
.
__ADS_1
Bersambung...