
Malam hari, semilir angin kencang menerpa kota, pepohonan nan rindang bergoyang seirama dengan embusannya. Seorang wanita menghabiskan malamnya dengan meminum alkohol di balkon apartemen seorang diri. Kadang kala, ia merasakan kerinduan yang mendalam saat teringat Calvin, lelaki yang pernah hadir di hidupnya. Semburat penyesalan menyelimuti benaknya, sebongkah harapan untuk hidup bersama lelaki yang dia cintai, kini gagal sudah.
Tak dapat dipungkiri, Gracella dan Calvin menjalin hubungan sekitar dua tahun lamanya. Waktu yang bukan sebentar untuk saling memadu kasih, menautkan rasa cinta mereka, menyiratkan perhatian setiap harinya. Pantas jika saat ini, Gracella merasa kesepian karena dia hanya mendapat materi melimpah dari kekasihnya, yang notabene adalah berstatus suami orang. Lelaki itu hanya mau dengan tubuhnya dan bukan atas dasar cinta.
Begitu pun dengan Gracella, dia hanya mencintai harta lelaki itu. Dalam hati kecilnya, dia masih ingin terus berharap rencananya kali ini berhasil, yaitu dengan dia mengaku hamil pada Calvin agar dinikahinya. Meskipun dia tahu, Jordan--kekasihnya menginginkan kehancuran pada keluarga Calvin, dia tak peduli, dia hanya mau Calvin kembali padanya bagaimanapun caranya.
Gracella sudah menghabiskan kurang lebih satu botol minuman yang berhasil membuatnya meracau hebat. Hanya nama Calvin yang disebutnya saat ini. Rasa rindu itu begitu kuat melanda hatinya.
Amarahnya tak terkontrol, bahkan saat dia terus mengingat kata-kata Zhi yang katanya tinggal bersama lelaki yang dicintainya. Selama ini, dirinya tidak pernah sama sekali disentuh oleh Calvin. Bagaimana mungkin, dengan wanita barunya, begitu mudah dia mengajaknya untuk tinggal bersama. Rasa kecewa, iri, dan sakit hati menyatu dalam lingkaran penyesalan yang membuatnya gelap mata. Bahkan, dia sempat ingin menyelakai Zhi agar dia menyingkir dari kehidupan Calvin.
Gracella berjalan dari balkon menuju kamarnya, dia melepas semua busana yang melekat di tubuhnya. Badannya saat ini merasakan hawa panas yang tak biasa, atmosfer suhu rendah dari pendingin ruangan pun seperti sudah tak mampu mendinginkan tubuhnya. Dia terus meracau tak karuan. Sejurus kemudian, dia menaiki ranjang. Suara tawa dan tangis keluar bergantian dari mulutnya seperti orang yang tak waras, karena mengingat semua kenangan tentang Calvin.
"Calvin ...." Gambaran wajah lelaki itu jelas tergambar di pelupuk mata, bayangannya seakan muncul dipikiran Gracella. Entah kenapa, kali ini dia begitu pilu saat mengingat lelaki itu.
"Kemarilah!" Gracella seoalah melihat Calvin berada di kamarnya berjalan mendekatinya.
Gracella mulai melepas pakaian yang melekat di tubuhnya, satu per satu dilemparnya ke berbagai arah. Kini, dia hanya mengenakan penutup dada dan bagian bawahnya agar hawa panas itu hilang dari tubuhnya.
Dia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Wajahnya diusap kasar, rambut blown-nya yang menggantung di tepi ranjang dia jambak. Rasa sakit itu tak seberapa jika dibanding sakit hatinya saat ini. Padahal, semua yang terjadi karena perbuatannya yang ketahuan berselingkuh dengan Jordan.
Tak butuh waktu lama, mata Gracella mulai terpejam dengan sendirinya hingga kesadaran mendadak hilang, karena dia lelah menangis. Kepala wanita tersebut terasa begitu berat dan tak mampu lagi memikirkan apa pun. Malam membawanya terlelap ke mimpi tentang sebuah alam baru layaknya khayalan ilusi.
Pandangan Gracela mengedar ke segala arah menelisik setiap sudut tempat berada saat ini. Hanya ada dirinya sendiri di sana, tak ada satu oun orang yang dilihatnya.
__ADS_1
"Di mana ini?" gumam Grace. Kilauan cahaya dari arah berlawanan nyaris menyakiti mata, dia menutup kesilauan itu dengan telapak tangannya. Di tengah-tengah cahaya itu terdapat bayangan besar berwarna hitam. Perlahan, bayangan itu mendekatinya.
Makhluk itu mendekat, Gracella berteriak ketika melihatnya. Sangat asing, karena dia tak pernah melihat makhluk mengerikan sebelumnya. Lelaki itu tinggi besar, memakai baju hitam seperti jubah yang menjuntai ke bawah menutupi kakinya yang bahkan tak terlihat memijak bumi.
"Akh! Siapa kau?" teriaknya.
"Wahai, Gracella! Kau tak perlu tahu siapa aku. Tapi, aku akan pastikan, Calvin bisa kembali padamu. Asal kau mau menjalankan perintah dariku," ujar pria berwajah tampan, tetapi tertutup dengan hoodie. Dia adalah Venus, yang disuruh Erdo untuk muncul di mimpi Gracella. Sang penguasa Negeri Luchania itu berharap akan mendapat bantuan dari Gracella untuk membuka portla antar dua dunia.
"A–apa maksudmu?"
"Bukankah kau merasa aneh dengan kehadiran Zhi yang tiba-tiba menggantikanmu di hati calvin?" Gracella hanya mengangguk ragu.
"Zhivanna, dia berasal dari dimensi lain. Dia bukanlah manusia, melainkan wanita dari Negeri Luchania yang menjelma di sebuah liontin."
"Tidak masuk akal!" Gracella memundurkan badannya karena ketakutan. Dia mencoba berlari menjauh. Namun, bayangan venus juga demakin dekat mengikutinya.
"Berhenti mengikutiku!" teriak Gracella ketakutan. Wajahnya berkeringat deras, napasnya memburu karena kelelahan.
"Aku akan terus mengejarmu, sampai kau mau menyetujui permintaanku," tukas Venus dengan suara bariton yang menggema kuat di telinga Gracella.
"Aku tidak akan memercayaimu! Aku juga tidak tahu siapa kau! Pergilah! Menjauh dariku!"
"Pikirkanlah! Aku akan kembali lagi saat kau mulai menikmati tidurmu nanti." Venus tertawa, dia pergi untuk memberi kesempatan Gracella berpikir dan bisa memercayainya.
__ADS_1
Keringat dingin mengucur deras di kulit halusnya saat tertidur. Mata yang terpejam tadi, kini mendadak terbuka akibat mimpi buruk. Ketakutan itu tergambar jelas di wajah Gracella. Napasnya memburu bersamaan dengan jantungnya yang semakin bedegup kencang.
Grace membuka mata dan mendudukkan tubuhnya dengan gerakan cepat. Mimpi itu terasa nyata, dia kembali menormalkan pikirannya, mencoba mengingat isi dari mimpinya tadi.
"Mimpiku sangat aneh. Apa itu nyata?" Grace memegangi kepalanya yang pusing dan terasa berat efek dari minuman beralkohol yang dia teguk.
Wanita itu memijit pelipisnya, matanya dipejamkan sembari mengumpulkan puzzle dalam mimpi yang sangat random. Satu per satu ucapan Venus masuk ke dalam pikirannya, dia lalu mencernanya.
Namun, hal itu tidak membuat Grace langsung percaya. Dia begitu sulit memasukkan mimpinya ke dalam kenyataan. Jika dipikir secara logika, hal itu tidak mungkin terjadi. Akan tetapi, ada benarnya juga detelah di berpikir tentang Zhi, yang menggunakan kekuatannya saat menyelamatkan Calvin waktu itu.
"Liontin?" Gracella mengucapkan satu kata yang membuatnya penasaran. Sambil berpikir, Grace menjatukan tubuhnya lagi ke ranjang. Matanya menatap ke awang-awang, melihat langit-langit kamar. Dia masih bingung akan makna dari mimpi tersebut.
"Liontin Zhi? Apa dia benar-benar bukan manusia?" gumam Grace penuh dengan kebingungan.
Dia lalu memilih untuk tidur kembali karena tak mau pusing dengan hal yang belum pasti benar. Apalagi, itu hanya mimpi.
"Ah sial!"
.
.
Bersambung ....
__ADS_1