Wanita Dalam Liontin

Wanita Dalam Liontin
Batu Meteor Dasar Laut


__ADS_3

Calvin menyusuri jalanan panjang dengan kecepatan sedang. Dia menahan rasa kantuknya. Padahal, harusnya saat ini masih menikmati alam mimpinya tanpa ada gangguan. Calvin terpaksa menolong Zhi, karena tidak ingin kehilangan Zhi begitu saja. Mau tidak mau, hanya dialah yang bisa menolong wanita itu.


Satu jam lewat beberapa menit telah berlalu, meraka pun telah sampai di tempat tujuan. Calvin memarkirkan mobilnya tepat di tepi pantai. Lelaki itu kemudian membangunkan Zhi yang masih tertidur pulas.


"Zhi, kita sudah sampai, bangun!" ucap Calvin, dia hanya berkata lirih. Masih tak ada pergerakan, Calvin memberanikan diri menyentuh lengan Zhi, menepuknya perlahan agar bangun.


"Zhi, bangunlah! Hari sudah mulai terang. Apa kita gagalkan saja menutup portalnya?" ucap Calvin. Zhi menggerakkan tubuhnya, kemudian perlahan membuka matanya, kelopak mata dengan bulu yang lentik itu bergerak cantik.


"Ayo turun!" Calvin gegas membuka pintu dan mengitari mobilnya untuk membukakan pintu Zhi.


Zhi pun turun dengan malasnya. Apalagi, hari masih belum begitu terang, meskipun fajar sudah mulai tampak.


"Calvin, gandeng!" ucap Zhi manja. Calvin mendengus kesal.


"Zhi, sekarang bukan waktunya bercanda. Calvin mengambil peralatan selam yang ada di mobilnya dan memakainya. sejak dari rumah, dia sudah siap dengan swimsuite, dan membawa semua alat selam yang dibutuhkannya.


"Iya, Vin, bawel banget sih! Dasar emosian!" Zhi berjalan kasar mengekori Calvin yang berada di belakang mobil, dengan bagasi yang terbuka. Lelaki itu melepas mantel yang dipakainya.


"Vin, seksi sekali!" pekik Zhi sambil menaik turunkan alisnya menggoda Calvin saat melihat lelaki itu dengan pakaian selam yang nyaris mencetak tubuh kekarnya.


"Diamlah! Bisa saja aku berubah pikiran untuk gagal membantumu." Calvin mengabaikan ocehan Zhi yang tidak penting. Zhi pun menggerutu karena kesal dengan ucapan Calvin yang selalu emosi seperti orang yang punya darah tinggi.

__ADS_1


Lelaki itu mengedarkan pandangan sekitar pantai, hanya ada beberapa pengunjung yang berada di sana. Sebagian orang menunggu sunrise tiba di ufuk timur. Semburat warna jingga berpadu dengan biru mulai terlihat. Pertanda pagi yang cerah akan tiba.


Keduanya berjalan menuju bibir pantai, Zhi mengajak Calvin ke bagian selatan yang di dekatnya terdapat tebing tinggi.


"Vin, kita ke sana! Itu dekat dengan letak portalnya." Zhi menggandeng Calvin dambil berlari.


Calvin sudah mempersiapkan diri melakukan pemanasan. Beruntung, dia menyukai olahraga laut, semua yang mengenai laut, dia bisa melakukannya. Jadi, menyelam adalah hal biasa baginya.


"Sudah siap, Vin?" tanya Zhi, tatapannya kali ini seirus.


"Ya, aku siap. Jadi, bagaimana aku akan tahu yang mana batunya, Zhi?"


"Nanti, kamu pusatkan pikiranmu padaku, Vin!"


"Calvin, Please. Aku bukan Jin. Cukup pusatkan aja, nanti aku akan mengarahkanmu saat terhubung."


"Baiklah." Calvin pun gegas berjalan, melawan ombak tepi pantai.


"Calvin, hati-hati! Semoga selamat!" teriak Zhi. Calvin pun menengok ke belakang dan mengarahkan ibu jarinya ke Zhi, tmmengisyaratkan 'oke'.


...***...

__ADS_1


Pantulaan cahaya batu meteor itu berkilau hingga menyilaukan mata Zhi, walaupun dia hanya melihat melalui bayangan di pelupuk matanya dan cukup pikirannya yang terhubung dengan telepati Calvin. Zhi mengarahkan Calvin untuk terus bergerak menuju pusat di mana batu itu berada.


'Calvin agak cepat, cahaya itu semakin gelap, seperti ada bayangan besar yang akan masuk dari dimensi lain. Cepatlah!' perintah Zhi, dia terus mengernyitkan dahinya dengan mata terpejam, dadanya bergemuruh seolah menahan ketakutan.


Calvin pun semakin melajukan gerakan kakinyanya dan menyelam lebih dalam agar cepat sampai pada batu meteor yang dimaksud Zhi. Hingga akhirnya Calvin menyentuh salah satu tumpukan batu yang berada di depannya. Dia sedikit bingung mana batu meteor yang harus dia geser. Calvin terus mencoba memusatkan lagi pikirannya dan akhirnya dia kembali dapat menerima arahan dari Zhi.


'Calvin, bukan yang itu. Yang kanan, berbentuk seperti pecahan batu yang tepinya agak tajam. Kamu berhati-hatilah saat menggesernya.'


Atas perintah Zhi, Calvin bergerak ke lain tempat, memegang salah satu batu di sampingnya dan dengan cekatan menggeser batu sebelah kanan yang berbetuk lingkaran tajam. Lelaki itu sangat kesulitan karena batu itu ternyata lumayan besar, butuh tenaga ekstra untuk menggerakkannya dan pria tersebut sudah mulai kehabisan oksigen di tabungnya yang terkuras habis karena terlalu lama menyelam di dasar lautan.


Namun, Calvin terus berusaha. Hingga tepian batu meteor itu membuat tangannya memerah. Sekuat tenaga dia terus mencoba menggeser batu besar itu meskipun begitu berat.


'Ya Tuhan, berilah aku kekuatan. Kenapa ini susah sekali, aku sudah tidak sanggup lagi. Zhi, aku lemas. Tenagaku sudah terkuras habis. Bagaimana ini.' Calvin mendorong batu dengan pikiran yang terus terpusat pada Zhi.


'Calvin, berusahalah. Aku mohon, jangan dulu menyerah. Sedikit lagi, kamu pasti bisa.' Zhi mulai redah saat mendapati Calvin tengah mengeluh di dalam sana.


Sementara itu di sisi lain, Venus--anak buah Erdo sudah berulang kali membaca mantra untuk menuju portal tersebut.


.


.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2