Wanita Dalam Liontin

Wanita Dalam Liontin
Surga Dunia


__ADS_3

Saat Calvin memanggilnya, ternyata Zhi malah tertidur. Dia memutuskan untuk kembali pulang ke rumah. Calvin mengurungkan niatnya untuk mengejar Gracella dan Jordan. Lagi pula, Calvin juga tidak tahu ke mana mereka pergi. Dia hanya berharap tidak akan terjadi apa-apa dengan kalung Zhi. Semoga saja wanita licik itu tidak merusak ataupun membuang kalungnya jauh-jauh.


Kabut pagi perlahan menghilang bersamaan dengan datangnya mentari yang cerah. Pantulan cahaya masuk ke dalam mobil Calvin yang tengah membelah jalanan. Mereka tiba di kota setelah melewati jalanan pegunungan yang cukup ekstrim, suasana sudah semakin padat merayap.


Harusnya, hari ini Calvin bekerja, tetapi karena sibuk mengurusi Zhi sejak dini hari, dia memutuskan mengambil cuti dan menyuruh Liam untuk meng-handle pekerjaannya.


Sesampaianya di rumah, Calvin membangunkan Zhi yang tengah tertidur lelap. Namun, wanita itu hanya menggeliat sebelum beberapa saat kemudian dia benar-benar terbangun dari tidurnya.


"Calvin, mereka sudah tertangkap?' tanya Zhi saat dia membuka matanya seperti lrang mengigau. Dia mengerjap dan mengucek matanya, memastikan di mana saat ini dia berada. Setelah dia mengenal pemandangan di depannya, dai begitu terkejut.


"Calvin, kok pulang? Bagaimana dengan kalungku? Aku pikir ... nenek lampir sudah tertangkap," keluh Zhi dengan nada putus asa. Padahal, saat masih dipantai tadi, Calvin mengusulkan untuk mengejarnya.


"Maaf, Zhi. Aku kehilangan jejak, karena tadi kabut begitu tebal, jadi tidak bisa mengemudi dengan kecepatan tinggi. Lagi pula, sepertinya kamu perlu istirahat. Lihat! sudah pucata begitu,' gumam Calvin mencoba menjelaskan.


"Tapi, Vin ... bagaimana nanti jika mereka membuang atau merusak kalungku?" tutur Zhi dengan penuh kegelisahan.


"Setelah ini, aku berjanji akan menemukannya. Sekarang, sebaiknya kita masuk dulu, kamu beristirahatalah!"


"Hem ...," jawab Zhi dengan malas.


Keduanya pun keluar dari mobil. Kepala Zhi masih terasa pusing saat dia berdiri. Dunia seakan berputar membuat dirinya hampir saja terhuyung. Beruntung Calvin segera berlari dan menahan tubuhnya.


"Zhi, kamu baik-baik saja?" tanya Calvin. Lelaki itu tampak benar-benar khawatir kali ini, karena sebelumnya dia tak pernah melihat Zhi dalam keadaan sakit. Wanita itu selalu ceria dan bertingkah konyol. Bahkan, sekarang Zhi benar-benar lemas.

__ADS_1


"Calvin, gendong aku! Sepertinya aku mau mati, masa iya ... nyawaku sependek ini." Zhi menyenderkan tubuhnya di mobil sambil kedua tangannya terulur sebagai isyarat agar calvin menolongnya.


"Zhi, jangan ngelantur deh, lebay banget. Sakit kepala doang masa mau mati," tukas Calvin sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Padahal aku belum pernah merasakan surga duniawi yang orang-orang katakan itu, Vin. Itu apa sih, Vin?" Zhi kembali berceloteh, matanya sambil terpejam karena merasa silau dengan matahari, hal itu membuat dirinya semakin pusing.


Calvin membelalakkan matanya bak elang yang menatap tajam pada mangsanya. "Zhi, kamu sakit bukannya waras malah tambah gila! Sudah ayo, masuk!" ajak Calvin sembari menggandeng tangan Zhivanna. "Bisa jalan sendiri, kan?"


"Ngga bisa. Mataku merem, gelap. Nggak bisa lihat jalan!"


Calvin mendengus kesal, tarikan napasnya terdengar kasar. Namun, lelaki itu enggan menanggapi kalimat Zhi, bisa-bisa makin panjang dan tiada habisnya.


"Ayo, naik!" Calvin membungukkan badannya. Dia sengaja menggendong Zhi di punggungnya agar dia tak salah tingkah saat Zhi menggodanya. Biasanya, jika Calvin menggendong Zhi ala bridal style, maka wanita itu akan menggoda Calvin hingga berhasil membuat lelaki itu tersipu malu.


Zhi membuka matanya sebentar, dia melihat Calvin yang sudah membelakanginya. "Calvin, kenapa di belakang?"


Aku salah telah mengatur posisi ini, gumam Calvin dalam hati. Dia terkejut saat benda kenyal itu menyentuh punggungnya dan terhimpit seakan melekat.


"Zhi bisakah jangan seperti itu?"


"Apa sih, Vin! Kamu yang menyuruhku, kan, tadi?" geram Zhi.


"Turun aja deh! Aku gendong seperti biasanya."

__ADS_1


Zhi tak menjawab dan tak bergerak, dia sudah terlanjur nyaman dengan posisinya saat ini. Wanita itu malah menyenderkan kepalanya ke bahu Calvin dan memejamkan mata.


Hal itu seperti menguji keimanan Calvin. Seumur-umur dia tidak pernah menggendong wanita di punggungnya, sontak dia begitu terkejut saat kedua tubuh itu menempel tanpa jarak.


Sementara itu, Gracella dan Jordan berada pada suatu villa yang berada tak jauh dari pantai yang tadi mereka datangi. keduanya memutuskan untuk mneginap beberapa hari agar jejaknya tak tercium oleh Calvin.


Sambil memandangi kalung di tangannnya, Gracella terus berbicara sendiri. Dia megabsen setiap senti dari benda tersebut. Kalung yang mdmang tak pernah dia temui sebelumnya. Bahkan, rantainya pun tak ada yang menyamai bentuknya di toko-oko perhiasan. Apalagi, liontin batu opal yang menggntung di rantai itu, membuat Gracella semakin penasaran dengan kalung tersebut.


"Aku akan mencoba menanyakannya pada temanku yang menjual perhiasan. Aku begitu penasaran dengan kalung ini, berapa harganya, kenapa begitu unik dan cantik," gumam Gracella seorang diri saat dia berada di balkon villa.


Jordan pun mendekatinya, lalu berkata, "Apa benar kalung itu ajaib, Sayang?"


"Makanya ... aku akan menanyakannya pada temanku, Beib. Kalau mereka tidak tahu, ya ... itu artinya, kalung ini memang benar-benar ada sejarahnya. Dan yang pasti, ada energi dari makhluk lain."


"Kapan kita akan kembali ke kota?' tanya Gracella membalikkan badannnya menghadap Jordan yang berada di belakangya.


"Besok? Lusa? Atau ... kamu mau stay lebih lama lagi, Sayang?"


"Aku ingin segera ke kota dan mengetahui asal usul kalung ini. Tapi, mungkinkah kita tidak akan tertangkap oleh Calvin?"


"Nanti, kita akan pikirkn caranya," jawab Jordan sembari mengecup tangan wanita itu..


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2