
"Kau harus hati-hati Calvin, banyak mata betina menginginkanmu!" ucap Zhi dengan berbisik. Calvin tak menjawab ocehan Zhi, dia hanya tersenyum tipis dan mengembuskan napasnya. Mata Zhi lalu terpusat pada meja kasir yang berbentuk seperti resepsionis hotel.
"Calvin, kamu membeli semua itu?" tanya Zhi dengan raut wajah keheranan.
Zhi yang terus bergelayut di lengan Calvin pun sesekali memperhatikan wajah lelaki itu. Calvin tampak serius membuka dompet dan mengeluarkan kartu kreditnya. "Zhi, tolong jangan terlalu menempelkan tubuhmu ke lenganku." Calvin menggelengkan kepalanya karena merasa risih dengan tingkah Zhi.
"Total semua pembelian ada delapan sepatu, ya, Tuan. Satu lagi sudah dipakai oleh Nona." Kasir itu menyerahkan beberapa paper bag yang terjejer rapi di meja sambil mengulas senyum ramahnya. Berbeda dengan pelayan sebelumnya yang tebar pesona.
"Calvin, untuk apa kamu membeli semuanya? Ini tidak perlu. Aku cukup memakai satu saja, itu pun juga tidak akan habis dalam waktu yang lama."
"Kamu akan membutuhkannya, seorang wanita harus mempunyai beberapa sepatu untuk berganti-ganti sesuai baju yang dia pakai," jelas Calvin seraya meraih paper bag di depannya.
"Terserah kamu saja, aku tidak ahli dalam urusan manusia, apalagi bersikap seperti perempuan elegan yang kamu mau," gerutu Zhivanna.
Mereka terlihat begitu akrab, berbeda pada saat pertemuannya tadi pagi yang penuh drama dan perdebatan. Zhi begitu bersemangat memilih pakaian yang dia mau di beberapa toko. Kurang lebih satu jam berkeliling, akhirnya mereka sudah menenteng banyak paper bag berisi baju dan dalaman untuk Zhi.
Keduanya lanjut menuju ke sebuah restoran untuk makan siang. Lelaki itu sepertinya mulai terbiasa dengan keberadaan Zhi, tingkahnya selalu membuatnya terhibur dan melupakan sejenak sakit hati yang ditimbulkan oleh mantan kekasihnya. Keceriaan dan candaan Zhi mampu membuat Calvin tertawa.
Sesampainya di sebuah restoran yang berada di lantai paling atas mal, Calvin memilih makanan kesukaannya. Tak lupa dia mengutamakan Zhi. Memikirkan apa sebenarnya makanan wanita itu.
“Kamu mau makan apa? Kamu bisa makan makanan manusia, kan?" tanya Calvin penasaran, dia memelankan suaranya agar tak ada yang mendengar pertanyaan konyolnya.
__ADS_1
“Tentu saja aku makan makanan manusia, kau tidak lihat sekarang, aku berwujud manusia. Hish!" gerutu Zhivana, tatapan tajam seketika mengarah pada Calvin.
Sambil melihat buku menu dan membolak balikkannya, mata Zhi mengarah pada beberapa gambar di sana yang membuyarkan fokusnya.
"Dengar sini! Aku tidak mau sea food, aku merasa kasihan pada hewan laut. Selama ini, merekalah temanku, tidak mungkin aku tega memakannya,” ucap Zhi lirih. Dia sedikit menunduk dan meletakkan buku menu itu di samping wajahnya, agar orang di bangku sebelahnya tak melihat dan mendengar perkataannya.
“Aku hanya ingin menanyakan makan apa, tapi kamu malah bercerita panjang lebar, jadi mau makan apa?”
“Padahal aku hanya sedikit bercerita, tapi kamu tidak mau mendengarku, lelaki macam apa kamu, Calvin. Harusnya kamu bersimpati juga.” Zhi mendengus kesal.
“Ah, repot sekali,” gumamnya, “baiklah aku minta maaf. Sekarang, mau makan apa? Jangan mengajak debat, perutku sudah sangat lapar!”
“Pilihlah sesukamu yang ada di gambar itu!" ucap Calvin. Wanita itu pun menunjuk beberapa makanan.
“Baiklah, aku mau ini, ini, ini, dan ini!” Dia begitu antusias saat memilih makanan, bahkan hampir semua gambar, dia menunjuknya.
“Banyak sekali! Kita hanya berdua dan tidak akan bisa menghabiskannya. Makanlah secukupnya,” tutur Calvin menasihati Zhi.
“Hey! Bahkan aku bisa memakan semuanya dalam sekejap, aku butuh energi untuk hidup di bumi ini, Calvin!” Seru Zhi, matanya melotot pada Calvin.
"Pelankan suramu! Jangan berbicara yang tidak masuk akal. Kenapa suka sekali bikin orang jantungan. Lihat! Bahkan orang memperhatikan kita gara-gara ucapan anehmu," tegas Calvin memperingatkan Zhi.
__ADS_1
"Ah, aku lupa. Itu semua karena kamu yang tidak menurutiku." Zhi malah menyalahkan Calvin.
"Zhi, please, bukankah tadi kita sudah sepakat kamu yang harusnya menurutiku? Kali ini dengarkan aku, jangan bersikap layaknya bukan manusia. Nanti saja di rumah jika kamu mau makan banyak, aku akan membungkusnya untukmu."
"Oh oke, aku akan menurut. Karena kamu juga menurutiku. Kalau begitu aku makan yang ini saja." Zhi menunjuk salah satu gambar menu yang menarik baginya.
Beberapa menit kemudian, makanan mereka datang. Namun, Ternyata Zhi memakannya seperti tanpa mengunyah. Alhasil, drama makan mereka di restoran menjadi panjang. Calvin semakin frustrasi dibuatnya.
"Jika seperti ini, aku tidak akan lagi mengajakmu makan di luar, Zhi. Itu sangat memalukan!" tutur Calvin memperingatkan.
"Kenapa makan saja harus banyak aturan?" Zhi mendengus kesal.
"Aku akan menyuapimu. Diamlah!" Kali ini Calvin sedikit mempertegas suaranya. Namun, Zhi malah tersenyum melihat Calvin yang sejak tadi marah-marah.
Saat Calvin mulai menyuapkan sesendok makanan ke mulut Zhi, ada sosok wanita yang datang menghampiri mereka dan berdiri di samping meja. Wanita itu memakai dress berwarna merah, dengan bagian dada sedikit terbuka. Penampilannya seperti wanita glamour pada umumnya. Tak lupa, dia melepas kacamata gayanya saat berhadapan dengan Cavin.
.
.
Bersambung ...
__ADS_1