Wanita Dalam Liontin

Wanita Dalam Liontin
Penculikan Zhi


__ADS_3

Mata Zhi membeliak terkejut. Akan tetapi, dia segera berdiri dan menepis tangan lelaki yang membekapnya itu. Gerakan Zhi begitu cepat sehingga penyusup itu gagal untuk membiusnya. Bahkan, Zhi berhasil membuat lelaki itu lemah saat dirinya hanya sekali pukul tepat pada tengkuknya. Hingga mengakibatkan lelaki itu menunduk kesakitan. Sesekali dia memijat tengkuknya yang baru saja merasakan nyeri.


"Siapa kau, hah?" Zhi menarik paksa penutup wajah lelaki itu dan langsung terlepas, lalu berkata, "Siapa yang menyuruhmu?" tanya Zhi dengan nada tinggi. Zhi masih mencengkeram baju bagian dada lelaki itu. Satu tangannya masih setia memegang liontin yang menggantung di lehernya.


Lelaki itu tak menjawab sepatah kata pun pertanyaan Zhi. Akhirnya Zhi memilih membawa orang asing itu keluar dari rumah Calvin. Dia menyeretnya dengan kasar. Zhi menggeletakkan orang itu di halaman depan rumah Calvin layaknya sampah yang sudah membusuk. Zhi menepuk-nepuk tangannya seolah dia baru saja menyentuh benda menjijikkan.


"Apa maumu, hah? Kau mau maling di rumah ini?" tanya Zhi, nada suaranya seperti ancaman bagi pria itu. Sesaat kemudian, pria asing itu mencekal erat kaki Zhi dan menariknya, hingga terjatuh. Namun, Zhi segera terbangun, dia berusaha menggenggam kalungnya. Tetapi sayang, satu lelaki malah menyergap Zhivanna dengan gerakan cepat.


Dari belakang, seorang teman penyusup langsung membekap mulut Zhi dan mengikat tangannya ke belakang, hingga Zhi tak dapat berkutik. Kalung yang menjadi prioritas utamanya untuk menyelamatkan dirinya, kini tak dapat diraihnya. Zhi sama sekali tidak bisa menggenggamnya. Dia hanya pasrah atas perlakuan mereka. Pada akhirnya, Zhi menggigit tangan lelaki itu dengan kuat. Meskipun saat ini dia hanya menggunakan kekuatan manusia. Namun, hal itu berhasil membuat bekapan itu terlepas. Pemilik tangan itu meringis kesakitan dan mengibas-kibaskan tangannya karena perih.


"Hei! Lepaskan! Dasar manusia gila!" Zhi terus meronta dan berusah sekuat tenaga melepas tangannya yang diikat di belakang punggungnya.


"Calvin!" teriak Zhi. Suaranya terdengar begitu nyaring. Akan tetapi, Calvin tak mendengar suara wanita itu karena dia masih terlelap dan menikmati alam mimpinya. Justru asisten rumah tangganyalah yang mendengar teriakannya. Wanita itu memasang indra perungunya sambil menyingkap selimut yang melilit ditubuhnya, memastika jika dia tidak salah dengar, bahwa ada yang menyebut nama 'Calvin'.


Siti kemudian keluar dari kamarnya, sejak tadi saat tidur, dia tak mendengar keributan atau kegaduhan sama sekali karena terlalu pulas. Namun, saat Zhi berteriak cukup keras, itu cukup membuatnya terkejut. Wanita itu gegas beringsut, melompat dari tempat tidurnya, lalu berjalan ke ruang santai dan memeriksa keadaan Zhi. Nihil, tak ditemuinya Zhi di dalam sana.


"Calvin! Tolong!" Suara itu terdengar kembali dan berhasil menarik perhatian Siti. Dia mencari arah sumber suara dan berjalan menuju ruang tamu. Kakinya tergerak untuk mengarah ke jendela, mengintip sesuatu yang sedang terjadi.


Betapa terkejutnya wanita itu saat mendapati Zhi tengah disergap oleh dua orang lelaki asing, hingga membuatnya tak berdaya. Siti melotot melihat adegan yang sangat mengejutkannya. Rasa takut, khawatir dan panis membuat dirinya terpaku sesaat.


"Astaga! Non Zhi!" pekik Siti, dia membungkam mulutnya tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang.

__ADS_1


Siti segera berlari ke atas dan mendatangi kamar Calvin. Wanita itu tak peduli jika dia harus mengganggu tidur bosnya, jika bukan karena sesuatu hal yang darurat, dia mungkin tidak akan berani mengambil resiko mengganggu tuan mudanya, karena Erny sudah berpedan pada Siti jika anaknya memang paling tidak suka jika tidurnya diganggu.


"Tuan! Tuan!" teriak Siti dari luar kamar sambil terus mengetuk pintu kamar Calvin. Berharap lelaki itu cepat terbangun dari tidur dan membuka pintunya.


Tak menunggu lama, Calvin lalu membuka pintu. Wajahnya yang masih mengantuk, sesekali mengerjapkan mata, memulihkan kesadarannya. Tangannya tak henti mengucek kelopak mata yang terasa berat untuk terbuka.


"Ada apa?" tanya Calvin, raut wajah kesal tampak tergaris pada dahinya yang mengernyit.


"Itu, Tuan. Non Zhi ...."


"Kenapa Zhi?"


"Non Zhi diculik oleh penyusup, Tuan. Ada dua orang," terang Siti dengan gugup.


"Iya, Tuan. Sebaiknya Tuan segera menyusulnya karena mereka membawa kasar Non Zhi keluar dari halaman," ucap Siti, dia terus meremas kedua tangannya yang sudah berkeringat dingin sejak tadi. Wanita paruh baya itu begitu takut dan khawatir akan terjadi sesuatu pada Zhi.


Tanpa pikir panjang, Calvin segera berlari mengambil kunci mobil yang berada di nakas samping tempat tidur.


Tampak kegelisahan menyelimuti pikiran Calvin. Hatinya sekarang tak karuan memikirkan keselamatan Zhi. Bahkan, dia tidak bisa membayangkan jika dirinya harus kehilangan Zhi. Padahal, dia sudah mulai bisa merasakan perasaannya pada wanita itu.


"Zhi, bersabarlah," tutur Calvin sembari membuka pintu mobil, dia menginjak gas lalu mengemudi dengan kecepatan tinggi. Hanya ada satu arah jalan keluar dari gang rumah tersebut. Hal itu mempermudah Calvin untuk melacak jejaknya. Benar saja, baru beberapa detik mobil Calvin melaju, dia menangkap mobil merah yang tak asing baginya. Ya, pemilik mobil itu adalah Gracella.

__ADS_1


Seolah menemukan titik terang, Calvin langsung melajukan mobilnya untuk mengikuti ke mana arah mobil Gracella pergi.


"Sialan! Gracella, aku tidak akan membiarkanmu lepas begitu saja jika sampai terjadi sesuatu hal pada Zhi. Tunggulah!" gumam Calvin, dia memukul kemudi berkali-kali karena rasa jengkelnya. Lelaki itu menyesal dan menyayangkan karena dirinya begitu mengabaikan keselamatan penghuni rumahnya tanpa menyewa jasa seorang security. Apalagi saat ini Zhi yang menjadi taruhan nyawanya. Dia merasa gagal sebagai lelaki yang melindunginya.


"Ya, Tihan. Selamatkanlah Zhi. Jangan biarkan seseorang menyakitinya." Calvin berulang kali berdoa dan memohon untuk keselamatan Zhi.


Mobil Calvin dan Gracella bak pembalap liar yang saling menyalip. Hingga pada akhirnya, Calvin memilih untuk memberhentikan dengan cara kasar. Lelaki itu menabrakkan mobilnya pada mobil belakang Zhi. Kemudian, saat mobil itu tegoncang, dia segera menyalip dan memberhentikan mobilnya tepat di depan mobil merah milik Gracella.


Wajah penuh amarah tergambar jelas pada Calvin. Dia segera turun dari mobil dan berjalan tergesa-gesa menghampiri mobil itu, lalu menggebrak kaca jendela agar segera membukanya.


"Buka! Cepat! Brengsek! Berani sekali kau menculik wanitaku!" Calvin berteriak, hampir saja dia memukulkan batu untuk mengancam orang di dalamnya.


Namun, saat mereka membuka mobil itu. Begitu terkejutnya dia mendapati seorang lelaki yang memakai pakaian serba hitam keluar tanpa adanya Zhi di dalam sana. Padahal Calvin sangat yakin kedua lelaki itu adalah pengusup yang tadi menculik Zhi.


"Mana kekasihku, hah? Cepat katakan! Ke mana kalian sembunyikan dia!"


"Bro, sepertinya salah orang. Kita sama sekali tidak mengenal kekasihmu itu." Kedua lelaki itu saling melempar senyuman dinginnya seolah senang dengan kegelisahan Calvin.


.


.

__ADS_1


Bersambung


tilong tinggalkan komen dan likenya ya teman-teman. terima kasih.


__ADS_2