Wanita Dalam Liontin

Wanita Dalam Liontin
Hasrat Gracella


__ADS_3

Sore itu, setelah Gracella berhasil menjalankan perintah Venus untuk membuka portal. Hatinya dan raganya yang semula remuk, sudah kembali normal seperti sedia kala. Tidak ada rasa di mana dia harus merasakan sakit tubuhnya setelah mendapat perlakuan dari anak buah Calvin. Apalagi ketika dia harus ikut menyelam demi membuka portal penghubung tersebut, tentu saja hal yang tidak mudah untuk dia lakukan.


Menjadi salah satu orang yang terpilih dalam perintah Erdo cukup menyenangkan bagi Gracella. Saat malam tiba, dia tengah bersantai. Dia terlihat begitu bahagia. Entah apa yang Venus janjikan, yang jelas dia tidak akan pernah melupakan ucapan Venus yang membuat hatinya senang dan mempunyai harapan besar yang selama ini dia inginkan.


Namun, apa yang dia lakukan, dia begitu yakin akan mendapatkan imbal balik dari sang penguasa alam Negeri Luchania tersebut. Meski hanya perjanjian dalam mimpi, tetapi dirinya sangat mempercayai hal itu.


Gracella menatap ke awang-awang sambil merebahkan tubuhnya di ranjang. Dia tengah berpikir bagaimana harus mengubah diri saat Calvin bisa kembali lagi padanya. Tidak ada sedikit pun rasa takut akan penolakan dari lelaki tersebut, sekarang dia hanya berniat untuk mendatangi Calvin me rumahnya.


Apa yang dikatakan Erdo begitu melekat di hati Gracella, bahwa dirinya akan mendapatkan Calvin malam ini juga karena lelaki itu akan membawa Zhi pergi jauh dari dunia manusia. Padahal, Erdo sangatlah licik, belum tentu apa yang dikatakannya semua benar. Meskipun dia mempunyai kemampuan untuk itu, tetapi dia memilih tidak memedulikan orang lain sebelum urusannya sendiri terselesaikan.

__ADS_1


"Sepertinya baju ini cocok untuk menikmati malam bersama Calvin." Gracella tersenyum di depan cermin sambil mencoba beberapa baju seksi yang kini berserakan di ranjang.


Dress pendek berwarna merah, dengan belahan dada rendah, menjadi pilihannya. Dia lalu merias wajahnya secantik mungkin, mekap tipis kesukaan Calvin, seperti dulu saat dia sedang menjalin hubungan dengan lelaki itu. Parfum yang sempat menjadi kesukaan Calvin dulu pun, dia pakai kembali.


"Tunggu aku, Calvin. Kita akan bersama lagi," tutur Gracella seraya menatap pantulan wajahnya di cermin.


Setelah dia selesai berdandan, dia lalu menuruni tangga. Langkah kakinya dibuat seanggun mungkin, membayangkan Calvin akan menyambut kedatangannya nanti. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena tidak sabar.


Nihil, di dalam kamar itu juga tidak menemukan keberadaan Calvin. Gracella merasa keheranan karena dia sama sekali tidak mendapati Calvin di dalam rumah, sedangkan semua pintu dan jendela terbuka lebar.

__ADS_1


"Ke mana kamu, Beib?" gumam Zhi, matanya mengitari ruangan tersebut.


"Calvin! Aku datang!" seru Gracella mencoba memanggil kembali dengan suara lantang.


Rasa dingin dari hawa luar jendela membuatnya kedinginan. Dia bermaksud untuk menutup pintu balkon. Namun, tak disangka, dari kejauhan dia melihat pemandangan yang menggugah matanya. Calvin tengah berada di pangkuan Zhi, sedangkan Zhi tampak begitu panik.


"Apa yang terjadi?" Gracella pun buru-buru menuruni tangga dan langsung menghampiri dua insan tersebut.


Gracella berlari kencang, tak sabar ingin segera sampai dan mengetahui apa yang sedang terjadi. Dia menduga Calvin terluka karena Zhi yang menyelakainya.

__ADS_1


"Hei! Apa yang kau lakukan, hah?" teriak Gracella.


__ADS_2