
Sementara itu, di pantai denvan ombak yang cukup kencang, Calvin membawa Zhi yang sudah lemas ke daratan. Baru kali ini, dia merasakan dampak sesuatu yang membuatnya lemah. Padahal, selama ini dia hampir tak pernah celaka karena adanya kalung yang selalu menyelamatkannya. Namun sayang, kali ini dia benar-benar sial saat terjebak dalam situasi terdesak.
"Zhi, kamu tidak apa-apa?" tanya Calvin saat memangku kepala Zhi di lengannya, Calbin yengah terduduk sambil menatap Zhi yang seakan sudah bernapas, tetapi masih dalam kesadaran penuh.
Zhi hanya batuk dan mengeluarkan air dari dalam hidung dan mulutnya. Terasa begitu aneh yang dirasakan.
Tak lama, dirinya menegakkan tubuhnya dan duduk di depan Calvin. Namun, tangan Calvin masih bertengger di pinggang Zhi seolah mencegahnya agar wanita itu tak kembali lemas dan terhuyung.
"Zhi, kamu tidak apa-apa, kan?" Sekali lagi Calvin bertanya.
"Sudah tau lemes begini, masih tanya, menyebalkan!" umpat Zhi sembari kembali batuk tersedah air yang masih ada di tenggorokan.
"Situasi seperti ini, masih aja bisa mengomel!" geram Calvin saat melihat Zhi yang seolah tak mengindahkan perhatian Calvin.
"Vin, kalungku ..." Zhi memegang lehernya, dia sangat kehilangan kalungnya, karena pertama kalinya leher itu kosong tanpa liontin.
"Kenapa? Kalungmu tenggelam?"
"Bukan, kalungku dibawa Gracella," ungkap Zhi, matanya membeliak dan terpusat ke awang-awang. Dia tak dapat membayangkan nasibnya jika kalungnya tidak kembali padanya. Itu berarti dia tidak akan bisa lagi bertemu dengan orang tuanya yang berada di Negeri Luchania.
"Hah, bagaimana bisa?" tanya Calvin, reaksinya pun terdengar begitu terkejut.
"Kejar dia, Vin. Kalau kamu banyak cincong akan semakin jauh mereka pergi ... dan menghilang."
Calvin menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Zhi. Meskipun dalam keadaan yang lemas, Zhi masih bisa bertingkah biasa, seperti saat sehat.
__ADS_1
"Bisa berdiri? Bisa jalan?" tanya Calvin. Lelaki itu berdiri dan mengulurkan tangannya pada Gracella yang masih duduk dengan kaki yang berselonjor.
"Bisalah! Aku hanya hampir tenggelam, Vin. Bukannya lumpuh. Lihat! Kakiku aja masih setia menopang tubuhku!" Zhi gegas berdiri dna menunjukkan bahwa dia baik-baik saja.
Namun, saat Zhi berdiri dengan angkuhnya. Tiba-tiba dia hampir saja terhutung ke belakang. Beruntung Calvin segera menangkapnya dan meraih tubuh Zhi, membawanya ke dekapan Calvin.
"Makanya, jangan sombong. Gaya banget, sih! Sok-sokan kuat, padahal lemah." Calvin mencaci Zhi dengan nada kesalnya. Andai saja Zhi bilang apa adanya bahwa dia lemas, mungkin dia tidak akan mendapat ocehan dari Calvin.
"Vin, kepalaku kenapa ya? Aneh, aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Bumi ini seperti berputar," ucap Zhi yang masih berada di pelukan Calvin. Dia mencoba mengerjapkan matanya yang seperti ikut berputar.
"Kepala kamu pusing? Ya sudah sebaiknya kita pergi dari sini, sebelum banyak orang yang berdatangan melihat kita berduaan di sini. Bisa-bisa dikira berbuat mesum. Lagi pula, aku sudah mulai kedingan."
"Vin, ini tempat umum! Mana ada orang mesum di sini!"
"Calvin, nyaman sekali berada di pelukanmu ... hangat." Tangan Zhi menggerayang dada Calvin, dia menciumi aroma tubuh maskulin lelaki itu. Menghirupnya tanpa neda.
"Zhi, jangan gila!" Melihat Zhi yang sudah mulai tak waras, dia lantas dengan sigap membawa Zhi ke gendongannya. Lelaki itu seolah mengangkat pengantin wanita dengan mesra jika dilihat dari kejauhan. Padahal yang sebenarnya terjadi, tatapan kesal Calvin terlihat nyata, ocehan dan perdebatan selalu yerlontar dari mulut mereka.
Akan tetapi, walau begitu, dalah hati Calvin ada sepercik kasih yang mungkin dia rasakan. Perhatiannnya dan rasa takut keholangan membuat dirinya yakin bahwa dia mempunyai sepotong hati untuk wanita yang tengah ada di gendangannya itu. Namun, Calvin masih gengsi untuk mengakuinya. Apalagi tingkah laku Zhi yang sarkas dan selalu membuat Calvin salah tingkah dibuatnya.
"Calvin, bagaimana nanti jika kalungnya tidak kembali?" Zhi memasang wajah sendu. Dia begitu takut akan kehilanga kalungnya.
"Kita pasti bisa menemukannya, Zhi. Kamu jangan khawatir, aku akan membantumu sampai kalung itu berada di genggamanmu lagi," ucap Calbin seraya menurunkan Zhi dari gendongannya saar sudah sampai di mobilnya.
Calvin lalu mengambil kain yang ada di jok belakang dan menyuruh Zhi untuk mengeringkan tububnya yang basah. Namun, Zhi malah melepas bajunya di tempat itu juga, lalu dia melilitkan kain itu ke tubuhnya.
__ADS_1
"Zhi! Kamu sudah gila! Bagaimana jika dilihat orang, dasar tidak punya malu! Sampai kapan jamu akan berubah, hah?" bentak Calvin seraya memalingkan wajahnya membelakangi Zhi.
Zhi yang mendengar suara tinggi Calvin, dia langsung memonyongkan bibirnya dan melirik sinis ke arah lelaki itu sembari membenarkan kainnya agar sempurna menutupi tubuh mulusnya.
"Calvin, ih! Jahat sekali berani membentak wanita," sungut Zhi.
"Lain kali masuk dulu ke mobil kalau melepas baju, jangan di tempat umum seperti ini, untung saja hari masih gelap. Bagaimana kalau ada orang yang melihat tubuhmu itu, hah?"
Calvin seperti tak rela jika tubuh Zhi dilihat orang lain, meskipun dirinya juga lelaki normal yang selalu mempunyai rasa ingin tahu lebih dengan sesuatu yang tidak dimiliki oleh pria.
Hal itu juga cukup membuatnya bingung dengan dirinya sendiri.
Kenapa aku protective begini? Aku seperti tidak rela jika tubuh Zhi dilihat orang lain. Ya ... meskipun aku sebenarnya juga ingin mencuri pandang, tapi aku tidak mau kewarasanku hilang hanya gara-gara melihat benda yang semestinya haram untuk dilihat. Sungguh godaan terberat.
"Zhi, sampai kapan kau memancingku ...," gumam Calvin dengan suara pelan. Namun, masih saja Zhi bisa mendengarnya.
"Dipancing? memangnya kamu ikan?"
Calvin mengemudikan mobilnya dengan kcepatan sedang, menuju satu jalur keluar dari pantai tersebut. Taka ada pembicaraan setelah perdebatan ringan beberapa saat lalu. Calvin fokus dengan kemudinya, karena jalanan pegunungan masih sedikit berkabut. Penglihatannya hanya mampu berjarak kurang dari seratus meter. Maka dari itu, dia harus ekstra hati-hati.
Zhi terlihat masih lemas, tetapi dia sama sekali tak memperlihatkannya pada Calvin. Lelaki itu tahu bahwa Zhi wanita kuat, dia bisa saja menyembunyikan sesuatu yang dia rasa tak begitu penting untuk dibahas. Apalagi mengenai fisiknya yang saat ini lemah.
Wanita itu meringkuk kedinginan, wajahnya sedikit pucat karena sakit kepala yang menyerang, akibat berpisah dengan kalungnya. Otomatis, energinya melemah seketika, berbeda saat dia menyatu dengan liontin tersebutz daya taha tubuhnya begitu kuat.
Calvin sesekali melirik wajah Zhi yang tampak kasian. "Zhi ..." panggil Calvin sambil mengusap dahi Zhivanna.
__ADS_1