
Udara sore hari yang begitu menyegarkan membuat Zhi sangat tenang. Suara kicauan burung di atas pohon pun menambah suasana semakin romantis. Senja mulai menyapa dua insan yang berdiri di tepi danau.
Di sekitar danau yang cukup luas itu, tak banyak orang yang berkunjung, karena hari mulai petang. Biasanya, saat pagi hingga pukul tiga sore, masih banyak orang-orang yang menikmati danau tersebut. Menghabiskan waktunya dengan orang terkasih, keluarga, atau teman-temannya.
Banyak juga para penjual makanan dan pernak-pernik di sekitar sana. Namun, sore ini memang sudah tutup, hanya buka sampai pukul tiga sore.
Keduanya melenggang, berjalan dari mobil menuju tepi danau, mengelilinginya. Calvin pun menunjuk satu kursi yang tak jauh dari penglihatannya. Tepat di bawah pohon dan lampu tiang yang indah berbentuk seperti bulu merak. Mengajak Zhi duduk di sana.
Langkahnya terhenti tepat di kursi panjang itu, hingga akhirnya terbesit dalam pikiran Calvin untuk memanfaatkan momen. Mengobrol serius dengan Zhi.
"Calvin, sering-seringlah mengajakku ke sini. Aku sangat menyukainya. Air yang hijau itu begitu tenang, tak seperti ombak pantai yang riuh setiap saat yang menerpa batu karang dan pasir di tepinya."
Tak ada sahutan dari Calvin, Zhi lantas menengok ke belakang memastikan keberadaan lelaki itu. Zhivanna menarik napas panjang dan mengembuskannya kasar, lalu aba-aba memanggilnya.
"Calvin!" teriak Zhi, suara itu mengagetkan lelaki kekar dengan setelan jas yang masih menempel. Calvin yang sejak tadi melamun dan memikirkan Zhi, dia terkejut akan suara teriakan Zhi yang begitu lantang memekik telinga. Dia langsung menatap mata Zhi yang sedang memperhatikannya.
"Ah, ya!" jawab Calvin. Suara Zhi sontak membuyarkan lamunannya. Beberapa detik yang lalu, isi kepala Calvin hanya tentang Zhi, padahal seseorang itu sedang berada di hadapannya.
Begitu sulit dia menerima kenyataan yang notabennya, Zhi bukanlah manusia. Rasa itu perlahan mulai tumbuh dan dia tidak bisa menepisnya. Walau rasa itu belum kuat, setidaknya ada sinyal suka yang Calvin rasakan. Dia pun belum bisa memastikan apakah rasa itu hanya sekedar suka, atau bahkan malah sudah berbentuk cinta.
Angin berembus kencang menerpa pohon di sekitar danau itu. Pohon tua nan rimbun, serta bunga-bunga di tepinya bergoyang searah dengan angin yang menyapa. Sesaat, suara burung yang tadi berkicau pun mulai tak terdengar lagi. Keindahan senja telah berubah menjadi awan yang gelap. Zhi masih menikmati alam yang baginya begitu menentramkannya. Dia merentangkan tanganya, menghirup udara dalam-dalam dengan mata terpejam.
Setelah wanita itu mulai puas, dia menghampiri Calvin yang sedang duduk di belakangnya.
__ADS_1
Mereka duduk berdampingan, tangan Calvin mengambil kerikil-kerikil di bawah kursi. Dia lalu melemparkannya ke danau satu persatu, menimbulkan suara di lermukaan air danau yang tenang, serta memperlihatkan percikan indah di atas air.
"Calvin, kau sedang apa?" tanya Zhi yang begitu penasaran saat melihat Calvin melempar batu-batu ke danau.
"Hanya membunuh rasa bosan," jawabnya singkat. Pandangannya tak bergeming, terus menatap percikan air di danau itu akibat batu yang dilemparnya.
"Sepertinya seru, aku ingin mencobanya dong!" Zhi merebut beberapa batu dari genggaman Calvin.
Satu lemparan keras, membuat Zhi tertawa seolah itu sesuatu yang lucu dan sangat seru. "Vin, bagus, ya!" tukas Zhi, dia lalu kembali melempar batu kedua. Kali ini, ukuran batu itu sedikit lebih besar dari sebelumnya. Dia berdiri dan melemparnya kuat, permukaan air yang tenang itu mendadak memercik ke atas. Percikannya cukup kuat.
Beberapa kali Zhi dan Calvin terus mencoba lemparan demi lemparan kerikil. Mereka saling bercanda dan bertanding untuk memilih yang terhebat. Lemparan itu semakin jauh dan semakin menimbulkan percikan kuat.
"Aku capek, Vin. Sudahlah kita duduk aja lagi," keluh Zhi. Keduanya pun duduk dan masih saling mengobrol.
"Zhi, apa kamu betah hidup di bumi?" tanya Calvin tiba-tiba. Zhi pun mengernyitkan dahinya, karena Calvin tak biasanya membahas masalah pribadinya jika tidak Zhi yang memulai.
"Tak apa, hanya ingin tahu. Tapi kalau kamu tidak mau menjawabnya, tidak masalah juga, kok." Calvin melihat ke arah Zhi. Dia gegas mengalihkan pandangannya lagi ke tengah danau. Menatap sepasang manik indah itu hanya akan menbuat Calbin semakin gugup dan salah tingkah.
"Tentu saja aku betah, Vin. Kalau tidak, aku pun pasti sudah kembali ke liontin sejak awal dan kembali lagi ke pantai. Apalagi, karena kamu yang memilikiku," ungkap Zhi. Kalimat yang diucapkannya seolah tak berbobot, padahal Calvin yang mendengarnya saja langsung tercengang heran.
"Memilikimu?" tanya Calvin memastikan tak salah dengar.
"Ya, tentu saja, sejak kamu memilikiku, aku semakin betah dan semakin yakin akan hidup di masa depan bersamamu, Vin." Zhi tersenyum, tetapi Calvin hanya menanggapinya dengan datar. Dia tidak mau berpikiran berat jika mendengar pernyataan Zhi yang kadang suka menyeleweng.
__ADS_1
"Kamu tidak bisa mengatakan 'aku milikmu', Zhi. Karena kita berbeda, bahkan aku pun belum mengenal seluruhnya tentangmu. Apa mungkin kita bisa bersama di masa depan? Rasanya itu sangat mustahil." Calvin terkekeh. Namun, Zhi juga tak ingin memperpanjang penjelasannya karena semua belum saatnya Calvin ketahui tentang dirinya.
Zhi hanya menjawab, "Calvin, aku percaya waktu. Dan aku percaya kamu. Sekuat apa pun kamu menahan rasa itu, suatu saat nanti, pasti kamu akan jatuh juga di pelukanku.
Calvin pun terdiam begitu mendengar ucapan Zhi, dia tampak mulai gelisah dengan hatinya. Lelaki itu merasa dirinya memang begitu menginginkan Zhi, tetapi akal sehatnya menolak jika harus hidup selamanya dengan wanita yang bukan berasal dari bumi dan bukan manusia asli.
"Vin, aku mau merebahkan tubuhku di sini sebentar, ya." Kelihatannya sangat nyaman," tawar Zhi. Tanpa persetujuan dari Calvin, dia langsung meletakkan kepalanya ke paha Calvin untuk bantal. Calvin pun cukup terkejut dengan Zhi yang begitu santai dan berani.
Lagi-lagi, mata Calvin menangkap pemandangan yang begitu menggoda iman. Dia gegas melepas jasnya lagi untuk menutupi paha Zhi yang terekspos mulus.
"Zhi, ini tempat umum. Bisakah kamu jangan seperti ini?" Calvin menarik napas panjang, menahan gejolak yang mulai membara, apalagi kepala Zhi yang tak bisa diam.
Sesaat kemudian, Calvin menatap ke langit. Matanya memperhatikan awan yang begitu gelap, kilatan cahaya pun tampak menggaris di lapisan langit. Pertanda akan segera turun hujan.
"Zhi, sebaiknya kita pulang sekarang, apa kau tak mendengar suara petir mulai bergemuruh?" ajak Calvin, dia membujuk Zhi untuk segera pulang, tetapi wanita itu masih enggan beringsut dari kursi panjang itu dan kepalanya masih nyaman berada di pangkuan Calvin.
"Sebentar lagi, Vin. Lima menit lagi, ya," tawar Zhi, dia malah asyik memejamkan matanya.
"Zhi, ayolah! Sudah mulai gerimis ini!" Calvin menyentuh lengan Zhi.
.
.
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa tinggalkan jejak, ya. Kasih dukungannya biar author semangat. Tekan like, komen, hadiah, vote, dan masukin juga ke favorit. Terima kasih. 🤗😘