
Sementara itu di dalam ruangan, Erdo tengah meluapkan emosi dengan menerbangkan semua yang ada di dalamnya. Istri-istrinya pun ikut menjadi sasaran kemarahannya, tubuh yang biasanya menjadi pemuas itu, kini sudah tak terbentuk akibat ribuan batu api yang menyelakai mereka. Sedangkan Venus, ternyata dia juga sudah menerima hukumannya akibat lalai saat mengawasi Zhi, sehingga wanita itu bisa kabur begitu saja. Kini Venus tengah tak berdaya, dari mulutnya keluar cairan biru kental, darah yang mengalir begitu banyak mengakibatkan dirinya lemah.
Saat semua prajurit di kerajaannya lenyap dan menjadi lautan mayat, kini Erdo hanya tinggal seorang diri berada di ruangan itu, berteriak hingga mengeluarkan getaran hebat di Negeri Luchania. Namun, sesaat kemudian perhatiannya teralihkan. Suara lantang Chris membuatnya terkejut.
“Hei, sang Penguasa Alam, keluarlah!” teriaknya.
Erdo pun membalikkan badan, dia lantas keluar dari ruangan tersebut dan mencari sumber suara yang sudah memanggilnya dengan menantang.
Betapa terkejutnya Erdo saat mendapati keluarga Chris tengah mendatanginya, merwka berjejer empat orang dengan wajah penuh keyakinan. Dia pikir, Chris dan Emma sudah mati di tangan Venus sebelumnya. Ternyata mereka masih hidup dan tidak tahu jika yang dibunuh hanyalah kloning. Erdo tidak percaya mereka begitu berani mendatanginya,, itu sama saja menantang maut.
__ADS_1
“Kau!” Erdo menatap dengan bola mata yang membulat sempurna, lelaki itu lantas mendekat dan menghampiri mereka. Namun, langkahnya mengarah tepat di depan Zhi.
“Rupanya ... kalian sudah bosan hidup. Dan kamu Zhi. Kali ini aku tidak akan melepaskanmu.”
Ucapan Erdo seketika memancing emosi Calvin yang tengah berdiri di sebelah Zhi, tangan mereka saling bertautan satu sama lain.
“Kau ... bukankah kau manusia bodoh itu? Berani sekali menantangku!” Erdo sedikit mengingat wajah Calvin, dia langsung teringat malam itu ketika dirinya sempat hampir menghabisinya karena berusaha menolong Zhi.
“Kali ini, sedikit pun aku tidak akan membiarkanmu menyentuh wanitaku, dan kau tahu? Zhi sudah menjadi istriku, jadi, sebaiknya jangan berharap lagi untuk memilikinya.” Calvin menyunggingkan bibirnya, dia berbicara dengan nada mengejek, matanya begitu menusuk tepat di bola mata Calvin.
__ADS_1
Mendengar penuturan Calvin, Erdo pun langsung murka seolah tidak terima akan hal itu. Dia begitu ingin memiliki Zhi. Namun, saat ini harapannya hanya sia-sia. Akan tetapi, bukankah Erdo bisa melakukan apa pun yang dia mau? Dia bisa langsung berbuat nekat dan memaksakan kehendaknya—merebut paksa ketika Zhi tidak dapat dimilikinya.
“Erdo, mulai sekarang jangan pernah lagi berharap memiliki anakku, karena dia akan tinggal di bumi bersama suaminya, dia akan kekal menjadi manusia. Dan kau, sebaiknya musnahlah dari alam ini, kau tak pantas menjadi penguasa. Lihatlah! Begitu mudahnya kau menghabisi kaum tak bersalah, bahkan mereka prajuritmu sendiri yang sudah tunduk kepadamu. Lelaki berhati iblis sepertimu memang tak pantas untuk hidup, dengar itu!”
“Hei! Berani sekali kau memakiku!” seru Erdo, dia menunjuk Chris dengan kemarahannya. “Apa yang kalian punya, sehingga berani mempertaruhkan nyawa kalian kepadaku! Atau mungkin kalian berencana akan mati bersama?” Erdo tertawa lantang dengan bayangannya yang akan membunuh semua orang di depannya itu.
__ADS_1