
Sejurus kepergian Calvin dari gudang tua itu, di dalam masih terjadi kegaduhan antara empat orang yang sedang melakukan perkelahian. Jin dan Jun melepas ikatan tali di tangan mereka. Memberi kesempatan mereka untuk melawan.
Jun lebih fokus mengurus Jordan dan berusaha menyerangnya. Lelaki itu tampak begitu emosi saat dirinya kalah dan tak berdaya. Padahal dia adalah orang berkuasa yang punya banyak uang dan bisa melakukan apa pun. Hal ini seperti sesuatu yang begitu memilukan sekaligus memalukan baginya. Suatu penghinaan besar saat seorang direktur utama apabila harga dirinya diinjak-injak.
Namun, ketidak berdayaannya saat ini membuatnya rapuh. Dia tak mampu melawan tenaga Jun yang terus memukulinya. Padahal, Jun memberikan kesempatan pada Jordan untuk memukulnya. Akan tetapi, hal itu sama sekali tak berpengaruh di tubuh Jun yang begitu kekar dan gagah.
"Sialan! Apa maumu, hah? Kau mau membunuhku?" teriak Jordan saat dirinya sudah mulai terkapar menerima pukulan dari Jun. Seringai licik terukir di bibir Jun, wajahnya menggambarkan kepuasan saat dia berhasil melemahkan pria bangkotan itu.
"Apa ... kau ingin dibunuh? Boleh. Aku bisa saja melakukannya. Tapi, aku rasa aku tidak ingin mengotori tanganku. Terlalu berharga untuk menghabisi nyawa murah seprrtimu!" ucap Jun. Perkataannya mampu membuat Jordan melotot ke arahnya. Dia yang tengah terduduk lemas sambil memegangi dadanya seolah tak dapat berkutik. Melawan pun percuma, tak ada lagi tenaga yang tersisa.
Wajahnya yang semula tak ternoda, kini penuh dengan lebam karena pukulan, bahkan kini mulutnya mengeluarkan darah akibat tendangan kuat Jun ke dadanya.
"Sebaiknya kita bekerja sama. Bagaimana jika aku memberikan kalian uang berapa pun kalian mau. Tapi, bebaskan aku dari sini. Jangan terus menyerangku seperti ini." Jordan melakukan penawaran, dia begitu percaya diri mengatakan hal itu.
"Uang? Berapa banyak yang akan kau berikan, hah? Aku akan menerimanya, jika semua aset dan perusahaanmu jatuh ke tangan Bos Calvin. Apa kau sanggup, lelaki tua bangka?" Jun tertawa terbahak-bahak. Mendengar penawaran Jordan yang begitu memelas dan mengiba memohon belas kasihan agar dilepaskan dari jerat siksa.
"Bro, sepertinya aku tidak perlu menambah hantaman. Bisa-bisa nanti dia mati di sini!" tutur Jin yang tengah berada di dekat Gracella. Dia terkekeh melihat Jordan terkapar lemas.
"Tidak perlu! Sepertinya lelaki tua ini sudah menyerah. Sekarang kau urus saja dia!" Jun melirik ke arah Gracella. Wanita itu menggeleng-gelengkan kepalanya seakan takut membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya.
"Jangan! Aku mohon. Aku minta maaf. Kasihanilah aku." Gracella memohon dengan mengiba. Namun, tak menutupi wajah liciknya yang hanya berpura-pura. Wanita itu bahkan tak bersungguh-sungguh meminta ampun pada kedua lelaki tersebut.
__ADS_1
"Kita apakan dia?" tanya Jin seraya menjambak rambut Gracella.
"Auwh!" pekiknya.
"Bagaimana jika kita ...." Jin menggantung ucapannya dengan lirikan penuh makna. Senyuman liciknya mampu terbaca oleh Jun.
"Terserah kau saja!" sahut Jun singkat.
Mata Jin mengabsen setiap inci tubuh Gracella, dilihatnya pakaian seksi yang Gracella kenakan. Cukup menantang kelakiannya.
"Aku yakin dia akan sangat menikmatinya. Lihat saja! Wanita ini terbiasa main dengan pria bangkotan seperti dia. Ha ha ha ...." Tawa Jin menggema di seluruh gudang tua tersebut.
Jin pun segera beraksi. Dia kemudian mendorong tubuh Gracella dengan kasar di tumpukan karung yang penuh debu. Lelaki itu lantas merobek baju Gracella secara paksa. Begitu kudah kain itu terkiyak hingga memperlihatkan bagian depan wanita itu. Baju yang dikenakannya pun memang berbahan kain tipis yang mampu mencetak lekuk tubuhnya. Gracella hanya meringis saat diperlakukan kasar oleh Jin.
Jordan tak menanggapi teriakan Gracella. Dia pun saat ini tengah lemah, merasakan sekujur tubuhnya yang nyeri di setiap tulang. Lelaki itu seolah tak peduli saat kekasihnya dilecehkan, bahkan dimakan oleh lelaki buas yang seperti kehausan.
Jun menertawakan kelakuan temannya yang sedang menikmati tubuh Gracella. Namun, nyatanya wanita itu kini hanya terdiam tanpa perlawanan.
"Bro! Kau sungguh menjijikkan! Ha ha ha ...." Jun terus tertawa terbahak-bahak melihat aksi Jin yang terus berusaha keras menyerang Gracella tanpa ampun.
"Ke sinilah! Apa kau ... kau tidak mau juga?" tanya Jin dengan napas terengah-engah saat tengah melangsungkan aksinya. Gerakannya semakin dipercepat saat hampir melepas gelora panas dalam dirinya.
__ADS_1
"Kau saja! Lebih baik aku menyewa wanita di luaran sana yang lebih cantik dan memesona. Melihat wajahnya saja, aku sudah tak berselera." Jun terus memaki tubuh Gracella seolah wanita itu benar-benar menjijikkan.
"Ah, mubazir jika dianggurin, Bro!" pekiknya. Jin kemudian melirik Gracella, melihat wajah wanita itu yang memerah sembari sesekali terpejam.
"Kau menikmatinya bukan?" Jin menyeringai saat suara menggelikan itu terdengar di telinganya. Bukan suara teriakan wanita yang kesakitan. Justru malah suara desahanlah yang keluar dari mulutnya.
Setelah Jin selesai menjamah tubuh Gracella, Jun langsung mengajaknya pergi dari gudang tua itu.
"Ayo, Bro!" ajak Jun seraya berjalan keluar pintu yang cukup lebar, tetapi sudah rusak dimakan rayap.
"Ya, ya."
Mereka pun gegas menaiki mobil Jordan untuk dibawa ke kota. Sementara sepasang kekasih tersebut masih berada di dalam gudang. Entah bagaimana mereka pulang ke kota nantinya, yang jelas dalam pikiran mereka saat ini, harus bebas dari tempat terkutuk itu.
"Sayang, kau benar-benar tega, ya! Melihatku diperkosa oleh lelaki lain. Kau tak ada rasa kasihan sama sekali!" umpat Gracella sambil membenarkan bajunya yang sudah robek.
"Kasihan? Bahkan kau menikmatinya perempuan jallang!" balas Jordan yang tak mau kalah. Kali ini dia sama sekali tak menjaga perasaan Gracella, karena pada dasarnya lelaki itu memang tak ada rasa lebih untuk Gracella. Mereka sama-sama menikmati satu sama lain. Gracella menikmati harta Jordan, sedangkan Jordan menikmati tubuh Gracella. Hal itu menjadi lumrah di antara mereka, seperti melakukan akad jual beli yang seimbang.
.
.
__ADS_1
Bersambung ...