
Sesampainya di rumah, ia begitu terkejut saat dia tak menjumpai satu orang pun, termasuk Venus yang tadi tidak sadarkan diri akibat serangan Zhi.
“Ayah, Ibu. Kalian ke mana?” Perasaan Zhi sudah tidak enak, hatinya bergemuruh membayangkan sesuatu yang buruk terjadi. Dia mulai berpikir hal yang begitu ditakutinya.
Bola mata Zhi membulat sempurna saat dirinya menatap ranjang sang ayah, dia melihat serbuk abu berwarna biru bercampur oren seperti api memenuhi ranjang. Zhi mulai mendekat, melangkah dengan penuh keraguan. “Ayah, Ibu,” panggil Zhi dengan suara lirihnya.
Tangannya gemetar saat dia hendak menyentuh abu tersebut. Hatinya begitu sakit hingga tak terasa buliran hangat itu mulai keluar dari matanya. Dia tak menyangka hal ini benar-benar terjadi, kekhawatirannya sejak tadi terjawab sudah. Kini, kedua orang tua Zhi telah berubah menjadi abu kematian. Tentu saja hal itu sangat membuat Zhi terpukul, dia sangat merasa bersalah karena tidak bisa menjaga kedua orang tuanya dan malah memilih mencari batu opal demu dia bisa hidup di bumi dengan oeang yang dicintainya.
__ADS_1
“Ayah, Ibu, mana janji kalian? Bukankah kalian akan menungguku? Lalu kenapa sekarang malah meninggalkanku sendirian? Padahal aku pulang membawa kabar gembira, tapi semua ini sekarang sudah tidak berarti. Jika kebahagiaanku hanya akan menyelakai kalian, buat apa aku harus mencari batu opal ini jika Ayah dan Ibu saja tidak mau melihat kebahagiaanku.” Derai air mata Zhi yang terus mengalir membuat dirinya lunglai. Tubuhnya dijatuhkan begitu saja memeluk abu kematian tersebut di atas ranjang. Dia tidak menyangka akan benar-benar kehilangan ayah dan ibunya secepat ini.
Sesaat kemudian, Zhi memegangi liontinnya. Ada getaran hebat yang dirasakannya. Kelopak matanya mulai terpejam saat dirinya mencium lembut liontin tersebut. Untuk waktu yang cukup lama Zhi terdiam, akhirnya Zhi terkesiap. Dia membuka mata dan menghapus buliran air mata yang sudah membasahi pipinya, dia lalu menghela napas cukup panjang.
“Erdo, aku tidak akan membiarkanmu menikmati kehidupanmu itu. Tunggulah, aku akan membalas semua perbuatanmu.” Zhi pun berdiri, dia menyapu abu itu dengan telapak tangan, tetapi tetap membiarkan abu itu berada di ranjang.
Setahun telah berlalu di bumi, kemunculan Zhi menjadi saat-saat yang begitu mengejutkan untuk lelaki yang dicintainya. Zhi terbaring cantik di ranjang kamar Calvin dengan gaun putih, menyangga kepalanya dengan satu tangan. la menunggu kedatangan Calvin sepulang dari kantor.
__ADS_1
"Zhi ... Zhivanna! Apa benar ini kamu?" Calvin membelalakkan matanya begitu membuka pintu kamar dan melihat Zhi di sana tengah tersenyum menyambut kedatangan Calvin. Harum semerbak bunga lily khas aroma Zhi menyeruak di hidung Calvin. Suadah lama dia sangat merindukan sosok Zhi.
"Iya Calvin, ini aku. Lihat! Aku sudah mendapatkannya." Zhi menunjukkan batu opal yang sudah ditemukannya untuk pelindung Calvin. Dia lalu berdiri mendekati Calvin sembari menyerahkan batu opal itu padanya. "Ini untukmu, pegang dan simpan baik-baik."
"Persetan dengan batu itu!" Calvin memeluk Zhi sangat erat kemudian mengangkat tubuh Zhi dengan tawa bahagianya.
"Zhi, kamu kembali setelah aku hampir putus asa. Aku kira, bertemu denganmu hanya sekedar mimpi," ucap Calvin seraya menangkup kedua pipi Zhivanna.
__ADS_1