Wanita Dalam Liontin

Wanita Dalam Liontin
Titik Terang


__ADS_3

Wanita itu meminta bantuan pada seorang lelaki yang tak lain adalah ayahnya sendiri. Dia mulai memusatkan konsentrasi, mentransfer segala pikirannya sambil menggenggam liontin yang menggantung di lehernya.


Zhi berkomunikasi melalu telepati dengan sang ayah. Wanita itu masih terus mencerna semua pesan yang disampaikan Chris Archer. Satu per satu perintah, juga nasehat, dia peroleh saat itu juga.


Dini hari, setelah selesai menjalani telepatinya dengan sang ayah, Zhi memilih untuk mendatangi Calvin dan menceritakan segalanya pada lelaki itu. Sebab, semua itu ada sangkut pautnya dengan peran Calvin sebagai manusia. Ya, hanya makhluk bumilah yang mampu menggagalkan rencana Erdo untuk mendapatkan Zhi.


"Calvin!" panggil Zhi seraya tangan halusnya mengetuk pintu kamar Calvin.


Tak kunjung mendapat sahutan, Zhi terus mengeraskan suaranya, juga ketukannya. Tak lama kemudian, Calvin membuka mata, dia terkejut dengan suara gedoran pintu yang begitu keras mengganggu tidurnya. Bahkan, dia menutup telinganya dengan bantal putih yang tadinya terletak di bawah kepala Calvin.


Semakin lama, lelaki itu semakin jengah dengan Zhi. Wanita itu tiada hentinya menggedor dan terus berteriak memanggil Calvin.


"Calvin ...!" teriaknya panjang, suara Zhi sepertinya akan memecahkan gendang telinga Calvin. Lelaki itu lantas meneriaki Zhi.


"Zhi! Berhenti membuat keributan!" Calvin memandang jam kecil yang terletak di nakas, jarum pendek berwarna hitam itu menunjuk ke angka 03.00. "Sial! Menggaggu orang tidur saja," dengus Calvin menjambak rambutnya sendiri dan mengusap kasar wajahnya.


Tak tahan dengan gangguan dari depan kamarnya, dia segera beranjak, berniat mencari sumber masalah itu. Zhi yang sejak tadi mengganggunya, dia masih bersender di pintu sambil terus memanggil Calvin.


"Cal ... Vin ...! Calvin ...!" Zhi mengucapnya setengah bernyanyi, menaik turunkan suaranya. Lalu, dia mengeluarkan jurus ancamannya yang Calvin selalu takutkan.


"Calvin, kalau kamu masih nggak mau buka pintunya, aku akan menggunakan energiku untuk menerbangkan semua barang yang ada di dalam rumah ini! Atau ... sekalian saja, aku mengutukmu jadi monyet. Biar punah wajah tampanmu itu!" Zhi menahan tawanya saat mengatakan hal yang sangat lucu baginya. Dia membungkam mulutnya sendiri dengan kedua tangan.


Namun, ketika Zhi sedang asyik membayangkan Calvin menjadi manusia setengah monyet, tiba-tiba dia dikejutkan dengan suara knop pintu yang dibuka kasar. Daun pintu itu seketika terbuka lebar, Zhi yang bersender di sana pun hampir saja terjatuh ke belakang. Calvin dengan cepat menangkapnya. Akan tetapi, dia langsung memutar tubuh Zhi menghadap ke arahnya.

__ADS_1


Mata yang masih enggan terbuka itu memaksa untuk melihat pemandangan wajah Zhi yang menyebalkan. Wanita itu meringis tanpa dosa, memperlihatkan barisan giginya yang putih dan rapi.


"Kenapa begitu?" tanya Calvin dengan mengeratkan rahangnya, dia menahan emosinya. Lelaki itu sangat membenci hal yang mengganggunya saat tidur.


"Nggak apa-apa, Vin. Syukurlah kamu masih hidup. Kukira sudah jadi siluman monyet." Zhi menangkup pipi Calvin dengan gemas.


"Apa maumu sebenarnya, hah?" bentak Calvin yang langsung disambut senyuman centil ala Zhi.


Zhi terkesiap, dia hampir saja melupakan tujuan utamanya menemui Calvin. Dia sedikit berbasa-basi menanyakan hal yang tak begitu penting di mata Calvin.


"Pagi nanti, pekerjaanmu banyak nggak?" tanya Zhi saat pintu kamar dibuka oleh Calvin.


"Zhi, kamu mengetuk pintu kamarku begitu keras, seperti terjadi kebakaran. Dan sekarang, kamu cuma mau menanyakan sesuatu yang tak penting itu?" Calvin mendengus kesal, matanya yang masih mengantuk pun sesekali terpejam saat berbicara dengan Zhi. Tangan lelaki itu mengarah pada gagang pintu berniat untuk menutupnya lagi.


"Diamlah dulu! Jangan banyak bicara seperti ayam berkokok, beri aku kesempatan untuk bicara. Ada sesuatu yang penting, Vin. Makanya aku membangunkanmu," tutur Zhi. Mimik muka wanita itu seoalah seperti bunglon yang mudah berganti, awalnya dia tertawa karena begitu senang memancing emosi Calvin. Namun sekarang, dia memasang wajah seirusnya. Zhi menggandeng Calvin masuk ke kamar lelaki itu.


"Ssstt ... tenanglah, Vin! Apa kamu bisa menuruti kemauanku sekali ini saja?" Zhi menjatuhkan dirinya di ranjang Calvin, sedangkan lelaki itu masih berdiri menatap Zhi penuh tanda tanya.


"Apa sih, Zhi? Bicaralah! Jangan membuat kepalaku semakin panas."


"Duduk sini. Cepat!" perintah Zhi sambil menepuk ranjang yang dia duduki. Wanita itu mendadak sedikit galak pada Calvin.


Zhi langsung menarik tangan Calvin untuk duduk di sebelahnya. Lelaki itu hanya terdiam mengikuti arus. Zhi mulai menarik napas panjang, lalu memulai pembicaraannya.

__ADS_1


"Vin, aku ingin meminta bantuanmu. Hanya kamu yang bisa membantuku saat ini agar Erdo tidak bisa menemukanku." Calvin langsung membuka matanya lebar-lebar dan mengadahkan wajah pada Zhi saat mendengar penuturannya. Sorot mata Calvin menatap lekat manik indah milik wanita itu.


"Maksud kamu? Kamu akan aman di sini tanpa gangguan Erdo?" tanyanya, "Apa yang bisa aku lakukan Zhi? Sedangkan aku hanya manusia biasa. Bukan seperti Erdo yang memiliki kekuatan luar biasa, bagaimana caranya?" Calvin sedikit ragu dengan ucapan Zhi yang memercayainya bisa menolong dari gangguan lelaki si penguasa itu.


"Hanya ada satu cara yang bisa menggagalkan rencana Erdo dan itu hanya bisa dilakukan manusia, Vin. Kuncinya ada di pantai waktu itu, ah lebih tepatnya laut, dan juga tenagamu."


Calvin menyadarkan pikirannya serta mencerna segala perkataan Zhi. "Laut? Aku harus apa sampai tenagaku dibutuhkan. Bahkan, aku tak yakin bisa melawan si monster itu."


"Siapa juga yang menyuruhmu melawan Erdo, Vin? Jangan sok tahu, deh. Nggak mungkin aku menyuruhmu bertarung dengannya, aku aja sudah pasti kalah, apalagi kamu." Zhi memicingkan matanya saat indra pendengarannya menangkap kalimat asal yang diucapkan Calvin.


Butuh waktu beberapa menit untuk menceritakan semua rahasia yang wajib Calvin tahu. Zhivanna memberi penjelasan tentang bagaimana cara Zhi memasuki bumi manusia, tepatnya di Laut Albatz. Walaupun Chris Archer membuangnya, tetapi tetap saja ada satu akses terpenting untuk menembus dinding kokoh yang membentengi dimensi antar dua dunia.


Ada satu cara yang selama ini Zhi tak tahu, dia pikir, ayahnya memakai mantra saat membuangnya ke laut. Ayahnya melepaskan kalung berliontin batu opal itu melalui sebuah portal rahasia yang hanya diketahui oleh beberapa makhluk di Negeri Luchania termasuk Erdo dan Venus.


"Jadi, ayah mengirimku ke laut melalui portal Vin, semua makhluk di dimensiku bisa menembus portal tersebut asal mereka mengetahui caranya. Aku rasa, kita harus bergerak cepat, sebelum anak buah Erdo bisa memasuki bumi dan menemukanku," terang Zhi.


"Kita harus apa? Maksudku, aku harus bagaimana?" Calvin tampak kebingungan dan sedikit panik.


"Siapkan alatnya, Vin. Kita harus beraksi sekarang!"


.


.

__ADS_1


Bersambung ...


Hai, apa kabar? Semoga sehat selalu, mari dukung author agar semangat, berikan komentar positifmu, jangan lupa like dan kasih hadiah juga. Terima kasih.


__ADS_2