Wanita Dalam Liontin

Wanita Dalam Liontin
Aku Hamil, Vin.


__ADS_3

"Mau apa kau datang kemari, hah?" bentak Calvin. Suara bariton itu menggema diseluruh ruangan hingga membuat Zhi sedikit tersentak, karena nyawanya belum sepenuhnya terkumpul setelah bangun tidur.


Calvin berdiri dan menghadap Gracella dengan tatapan yang tajam.


"Calvin, kita harus bicara. Beri aku sedikit waktu sebentar saja. Berdua!" Gracella melirik ke arah Zhi, berharap Zhi meninggalkannya berdua dengan Calbin di ruangan itu.


Liam yang mencium akan terjadinya pedebatan besar antara bos dan mantan tunangannya itu, dia segera berinisiatif untuk mengajak Zhi keluar dari ruangan Calvin. Dia memberi kesempatan untuk kedua orang itu berbicara serius.


"Zhi, ikut aku keluar, yuk!" ajak Liam, tangannya hampir saja terulur berniat untuk menggandeng Zhi yang sejak tadi masih duduk di kursi, sambil memegangi kepalanya. Namun, seketika tangan Liam ditepis oleh Calvin.


"Biarkan Zhi di sini bersamaku! Harusnya dia yang kau ajak keluar dari ruanganku, Li!" ucap Calvin seraya menunjuk ke arah Gracella.


"Calvin, aku tidak mau pembicaraan kita didengar oleh siapa pun. Ayolah!" bujuk Gracella, tangannya mulai berani menyentuh dada Calvin, membelainya perlahan, tetapi Calvin langsung menggenggam erat tangan itu dan menyingkirkannya.


"Bro, bukankah kalian mau bicara serius? Aku hanya ingin memberi kesempatan kalian berdua." Liam berkelit, dia masih kekeh untuk mengajak Zhi keluar. "Ayo, Zhi!"


"Liam! Sudah aku bilang, biarkan Zhi tetap di sini, apa kau tidak bisa dengar?" bentak Calvin semakin emosi karena terbawa hawa panas akibat kedatangan Gracella.


"Baiklah, baiklah. Aku akan pergi, selesaikan saja masalahmu sendiri. Jangan lagi minta bantuanku." Liam bergegas keluar dari ruangan Calvin saat gagal membawa Zhi.


"Apa yang mau kamu bicarakan, hah?" seru Calvin dengan nada tingginya. Antara kita sudah tidak ada apa-apa lagi."


"Calvin, apa kamu yakin, dia tidak keberatan jika mendengar semuanya? Aku rasa, dia akan langsung meninggalkanmu," ucap Gracella. Wanita itu berpikir jika Calvin dan Zhi sudah menjalin hubungan. Padahal, yang sebenarnya, mereka hanya sebatas teman, itu pun karena keadaan yang memaksa.


Akan tetapi, Gracella tidak tinggal diam dan berusaha untuk merusak hubungan keduanya. Dia tak rela jika Calvin dengan wanita lain, karena baginya, Calvin adalah lelaki yang mampu membahagiakannya dengan tulus.


"Katakanlah, dan cepat pergi dari sini! Aku tidak punya waktu lama untuk melayani orang sepertimu!" hardik Calvin yang mulai jengah dengan Gracella.

__ADS_1


"Aku hamil, Vin!" ucap Gracella seraya menyerahkan lembar kertas dari dokter yang menyatakan dirinya positif mengandung. Calvin tak meliriknya sama sekali, apalagi menerimanya, sama sekali tidak ada niatan.


Gracella mendekat ke arah Calvin, mencoba meraih tangannya dan mengajaknya untuk menjauh dari Zhi. Namun, Calvin lagi-lagi menolaknya. Lelaki itu justru merasa jijik saat disentuh Gracella. Calvin mengernyitkan dahinya lalu tersenyum smirk pada wanita licik itu.


"Omong kosong apa ini! Lucu sekali." Calvin tertawa, memperlihatkan barisan giginya yang rapi. Tawa yang dibuat-buat itu terdengar seperti lelaki jahat yang berhasil mengelabuhi musuhnya.


"Vin, ini anak kamu, apa kamu lupa kejadian malam itu? Kamu dibawah pengaruh alkohol, dan tanpa sadar kamu meniduriku." Gracella merengek seolah meminta simpati dari Calvin.


Calvin pun sungguh tak dapat berkata apa-apa saat mendengar ucapan Gracella. Dia menarik napasnya panjang sebelum kata makian keluar dari mulutnya.


"Apa kamu sadar dengan ucapanmu? Salah besar jika kau menuduhku, tampaknya kamu sudah hilang ingatan. Apa kamu lupa, kalau kamu wanita murahan?" Calvin emosi, rahangnya mengetat disertai tatapan yang tajam.


"Calvin, tega sekali kamu berbicara seperti itu, aku hanya melakukannya denganmu. Jahat kamu, Vin! Kamu mengambil mahkotaku, tapi setelahnya kau membuangku!" Gracellal berpura-pura meloloskan air mata palsunya untuk senjata agar Calvin iba terhadapnya.


Zhi yang sejak tadi hanya terdiam, dia mulai sadar akan peran pentingnya. Dia bisa membaca maksud Calvin, kenapa dirinya harus tetap di sini bersama mereka berdua.


Tangan Gracella melayang ke udara, berniat menampar pipi Zhi, tetapi dengan cepat Calvin menepisnya.


"Apa-apaan kamu, Cel! Berani-beraninya kau mau menamparnya," tutur Calvin. Tangan Gracella masih erat digenggamnya.


"Nggak apa-apa, Sayang. Aku ingin sekali merasakan tamparannya, setelah itu, baru aku bisa membalasnya." Zhi tertawa dengan puasnya.


"Ayo, tampar aja! Aku juga ingin menamparmu." Zhi tergelak, pandangannya seperti meremehkan Gracella.


Gracella pura-pura menangis atas perlakuan keduanya karena seperti memojokkannya. Tak lama kemudian, Calvin memanggilnya saa dia hendak keluar dari ruangannya.


"Ah, aku lupa. Tunggu sebentar!" Calvin berjalan ke arah meja kerjanya. " Jangan dulu pergi!" lanjutnya.

__ADS_1


"Vin, kamu mau menerimaku lagi? Terima kasih. Aku tahu kamu masih sangat mencintaiku," ucap Gracella saat dia memperhatikan Calvin yang mengambil sesuatu dari laci kerjanya. Beberapa detik kemudian, Calvin berjalan ke arahnya dan memberikan amplop berwarna coklat pada Gracella.


"Ini, bawa bersamamu! Terlalu mengotori ruanganku jika aku terus menyimpannta. Rencananya, aku ingin membuang bebda kotor tersebut, tetapi setelah aku pikir-pikir, sebaiknya aku memberikannya padamu sebagai kenang-kenangan." Calvin tersenyum sinis saat menyerahkan amplop itu pada Gracella.


"Apa ini, Vin?" tanya Gracella.


"Buka aja, kamu pasti akan sangat senang melihatnya. Kamu salah paham jika aku memanggilmu karena masih menginginkanmu, itu sangat mustahil." Calvin menggeleng-gelengkan kepalanya.


Kemudian, Gracella membuka amplop itu.


"Lain kali, kalau mau menuduh Calvin, pakai cara yang elegan dong! Masa hamil sama orang lain, Calvin yang suruh tanggun jawab sih! Dasar wanita aneh, kasihan sekali nasipmu itu." Zhi menutup mulutnya setelah dia melontarkan kalimat yang membuat Gracella semakin geram.


"Kamu dengar, kan, apa kata kekasihku? Dia benar, caramu memqng sungguh kotor. Sangat tidak masuk akal. Pergilah, mataku sakit lama-lama melihatmu di sini," ucap Calvin seraya mendeķat ke arah Zhi sebelum akhirnya Gracella pergi.


"Jahat kamu, Vin!" Gracella berbalik dan melangkahkan kakinya, lalu menyenggol kasar tubuh Zhi hingga hampir terjatuh.


"Ah, sayang!" pekik Zhi, dia pura-pura menjatuhkan tubuhnya ke arah Calvin. Lelaki itu pun dengan sigap langsung menangkapnya. Gracella berbalik, dia merasa sangat muak tingkah laku Zhi. Tatapan Gracella pada Zhi penuh dendam. Zhi melambaikan tangan dan mengulas senyuman di pelukan Calvin.


Gracella keluar ruangan itu dengan penuh emosi, langkahnya dibuat tergesa-gesa. Mulutnya pun terus menggerutu tiada hentinya karena usahanya mendapatkan Calvin sudah gagal.


.


.


Bersambung,


Jangan lupa like dan komennya ya teman-teman. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2