
Calvin pun tiba dengan mobil yang tadi dikendarai oleh Jin, karena kedua anak buah itu membawa mobil Gracella dan Jordan, menjaga dan menahan mereka agar tidak kabur.
Calvin turun dengan gagahnya, tatapan membunuhnya seakan menakuti Gracella yang selama ini tak pernah melihat Calvinsemarah itu.
Dalam hati Gracella dia sedikit risau karena dia takut akan terjadi apa-apa dengan nyawanya jika lelaki itu nekat. Calvin, kemudian menyuruh Jin dan Jun untuk memasukkan mereka ke dalam gudang tua tersebut.
Bangunan tua itu tampak sudah rapuh, bagian atapnya penuh lumut yang sudah menghitam. Sarang laba-laba yang saling bertaut membuat pemandangan kuno itu semakin menyeramkan. Bahkan, kayu-kayu berserakan di dalamnya.
Ruangan itu begitu gelap, tak ada penerangan sama sekali. Udaranya yang oengap mampu membuat sesak di dada.
Gracella pun berteriak, "Calvin! Apa yang mau kamu lakukan? Tolong lepaskan. Jangan seperti ini."
Calvin terus berjalan mengikuti mereka masuk ke gudang itu. Saat ini, dirinya memang sangat menakutkan karena emosinya yang begitu memuncak.
"Sebelum kamu menyerahkan kalung itu, aku tidak akan melepaskan kalian! Jadi, nikmati saja tempat romantis ini sampai kapan pun kalian mau, anggap saja ini hotel terindah yang belum pernah kalian kunjungi." Calvin tertawa dengan nada mengejek, matanya mengitari sekeliling, memperhatikan gudang bekas pabrik tersebut.
"Sudah aku bilang aku tidak tahu menahu soal kalung yang kamu maksud itu, Calvin. Kenapa kamu tidak memercayaiku?" Gracella memelas dan mengiba, dia berusaha membujuk Calvin agar lelaki itu berubah pikiran.
"Percaya sama kamu? Itu sama halnya dengan menganggap aku bodoh!" Calvin membuang muka, dia enggan menatap kedua orang tersebut.
Jin dan Jun menarik mereka dengan kasar saat tangan mereka sudah terikat ketat di belakang hingga keduanya tidak dapat berkutik.
__ADS_1
"Brengsek aku akan membalas perbuatanmu kali ini. Dasar biadab!" seru Jordan sambil berusaha meleoaskan ikatannya. Namun, usahanya sia-sia karena tubuh kekar Jun menahan lelaki itu.
Jordan yang hanya berperawakan sedang, dia tetap saja akan kalah. Apalagi, perutnya yang sedikit buncit menunjukkan bahwa dirinya tak pernah berolahraga, bahkan tenaganya saja kalah jauh dengan anak buah Calvin itu.
"Coba saja sekarang kamu melepaskan diri! Jika bisa, bunuhlah aku sekarang juga! Ancam Calvin dengan wajahnya penuh amarah."
"Geledah isi tasnya, Jin!" perintah Calvin, matanya membeliak tajam menatap Gracella.
Tas yang dikalungkan di bahunya itu direbut paksa oleh Jin. Gracella yang duduk di kursi tidak bisa berkutik karena tangannya masih terikat dia hanya pasrah atas itu Dik lidah kasar oleh lelaki itu.
"Calvin! Kamu apa-apaan, sih!" teriak Gracella. "Hei jangan lancang, ya!" Wanita itu menendang kaki Jin, tetapi tak berpengaruh apa pun.
Jin mengeluarkan semua isi yang ada di dalam tas tersebut. selain mekap, fokus Jin pada kain putih yang batu saja dipegangnya. Dia tak membuka kain itu, tetapi dari merabanya saja, ia seperti rantai dengan bulatan halus yang agak besar. Dia yakin itu adalah kalung.
"Coba ke marikan!" perintah Calvin, Jin pun langsung menghampiri Calvin dan memberikan kain putih tersebut.
Calvin lalu membuka kain kecil tersebut, dan ... benar saja, itu adalah kalung Zhivanna. Senyum tipis terukir dari bibir lelaki tampan itu.
"Baiklah, sebaiknya kita pergi! Aku sudah mendapatkan apa yang kumau!" Calvin mengajak Jin dan Jun untuk beranjak dari tempat tersebut.
Saat Jun maju bebebrapa langkah dan meninggalkan lelaki itu, tiba-tiba saja Jordan menendang kaki Jun dengan kakinya. Hal itu cukup membuat Jun terkejut, lelaki itu langsung membalikkan badannya dan bertanya pada Calvin.
__ADS_1
"Bos, boleh aku main-main sebentar dengannya? Rasanya seperti mubazir, jika dia tak ada lebam atau lecet di tubuhnya."
"Ah iya! Aku hampir melupakannya. Silakan kau buat babak belur. Aku tidak peduli dengan nyawanya. Dan dengan wanita itu ... terserah kalian mau apakan mereka. Aku harus pergi sekarang. Aku akan sangat senang jika mereka merasakan nyawanya terancam, seperti mereka mengancam nyawa Zhivannaku!"
Gracella yang mendengar penuturan Calvin begitu terkejut. Dia tak menyangka jika mantan kekasihnya itu begitu membela Zivanna dan semakin yakin bahwa lelaki itu sangat mencintainya, hingga dirinya berbuat nekat seperti sekarang ini. Padahal sebelumnya dia tak pernah sama sekali menyakiti siapa pun apalagi perempuan.
"Kau belum tahu siapa aku, Calvin! Aku akan membuatmu bertekuk lutut setelah aku keluar dari sini!" teriak Jordan saat Jun melepaskan talinya. Dia memberi kesempatan kepada Jordan untuk berkelahi dengannya. Padahal sudah bisa ditebak, lelaki itu akan kalah jika melawan anak buah Calvin yang kekar itu.
"Silakan saja kalau bisa, tetapi aku tidak yakin tubuhmu akan utuh dan baik-baik saja setelah keluar dari sini!" Calvin tertawa dengan suara lantang yang berhasil menakuti Gracella.
"Calvin. Kenapa kamu berubah jahat seperti ini?"
"Jahat kau bilang! Tarik ucapanmu itu dan berkacalah! Zhivanna adalah wanita terbaik di hidupku sekarang. Jadi, sekali lagi kau berusaha menyelakainya, aku tidak akan segan-segan menghabisi kalian, paham!" ancam Calvin dengan tatapan membunuh.
Entah apa yang merasuki jiwa Calvin saat ini, hanya ada ucapan kasar dan makian yang keluar dari mulutnya. Padahal, dia adalah lelaki yang manis dan manja saat bersama kedua orang tuanya. Tak pernah sekali pun berkata kasar apalagi berbuat nekat mengancam nyawa orang.
Calvin lalu bergegas membalikan badannya dan keluar dari gudang tua itu. Dia lantas mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tidak sabar ingin segera menemui Zivanna dan memberikan kalungnya.
.
.
__ADS_1
Bersambung ...